Sekarang sedang ramai online vs konvensional. sedihnya yang berkelahi adalah sesama saudara. Yang sama sama mencari makan di jalan.
Lucunya diskusinya bukan jernih soal masalah tapi malah seperti sinetron yang ada antagonis dan protagonis. Penjahat vs jagoan. Padahal ada masalah yang negara dan pihak2 yang sedang berkelahi luput untuk sadari. Wajar sih, namanya juga sedang marahan.saya sedang bicara masa depan bukan saat ini
kalau ingin melihat masa depan model bisnis moda transportasi online sekarang. Kita bisa mengacu pada sejarah amazon.com yang awalnya hanya toko buku online hingga sekarang menjadi retailer terbesar kedua di amerika setelah walmart (mungkin ketiga setelah target).
Dari awal berdiri, visi mereka adalah menjadi the everything store alias toko dimana konsumen menemukan segalanya. Segalanya dalam arti harfiah. Jeff bezos sang pendiri menginginkan amazon menjadi toko terlengkap diplanet bumi dengan harga termurah.
Untuk mencapai posisi ini, bezos selama 10 tahun tidak pernah bicara soal laba, dia tidak perduli dengan defisit yang diderita tiap tahunnya. Sedemikian parah amazon sehingga rugi adalah norma normal bagi direksinya. Jangan heran kalau publik amerika menjuluki amazon sebagai perusahaan sosial. Bodo amat rugi yang penting konsumen dapat harga termurah.
Dibalik itu sebenarnya bukan kegoblokan bisnis tapi kejeniusan brutal jeff bezos. Amazon memang merugi selama lebih dari 10 tahun tapi terus meraup pangsa pasar setiap tahunnya. Amazon tumbuh semakin besar dan besar. Tidak terhitung berapa perusahaan yang bangkrut dan tersingkir oleh mereka. Pesaing potensial akan dirusak secara sengaja oleh fitur tandingan dengan harga bunuh diri. Bukan murah, tapi harga bunuh diri. Intinya mereka tidak jualan saham. Tapi berusaha menjadi sebesar mungkin sehingga tak ada lagi pesaing yang sanggup mengejar.
Kekuatan pasar dan modal amazon akhirnya menjadikan mereka penguasa perdagangan online di amerika, mungkin hanya kalah oleh alibaba milik jack ma.
Apa hubungannya dengan gojek, grab bike dan uber? Mereka akan bertindak sama. Berusaha sekuat mungkin untuk menguasai pasar. Kita ribut soal online vs konvensional tapi lupa bahwa ketiga aplikasi ini sedang adu kuat di pasar indonesia. Sejatinya ini adalah pertarungan siapa yang akan menguasai pasar. Baik lewat jalur harga murah, layanan, bonus atau strategi lain seperti akuisisi armada.
Apakah akan ada korban? Tentu saja. Ketika para gajah berkelahi. Semutlah yang sewajarnya terinjak. Tapi semut jangan memaksakan diri. Carilah tempat dimana para gajah ogah beroperasi. Ikutilah zaman. Karena seperti ditulis tolkien dalam novelnya. Hanya waktu yang memakan semuanya, mengunyah besi, menggigit baja, mengikis batu dan membunuh para raja serta melenyapkan kota kota. Gunungpun dibuat rata.
Apakah ada kisah bahagia di amazon. Maaf tidak ada, yang senang hanya direksi dan konsumen. Pegawai diperlakukan model budak. Pesaing dibakar sampai rata.
Ttd. Firman syafei
Blog ini tentang lifehacks alias hal-hal yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Penulis bisa dihubungi firmansyafei@gmail.com atau syafei_firman@yahoo.com
Selasa, 22 Maret 2016
Sabtu, 29 Juni 2013
MUSHOLA DAN TOILET (ke arah sini)
Berapa kali pemandangan ini kita lihat? satu kali, dua kali? Tanda penunjuk arah ini ada dimana-mana, di terminal, pusat perbelanjaan, bandara, dan pusat keramaian lain di daerah berpenduduk mayoritas muslim. Tanda penunjuk arah ini menjadi demikian lumrah sehingga tak banyak orang (atau mungkin tidak ada?) yang memikirkannya lebih dalam. Aktifitas orang-orang memang demikian menyita waktu dan perhatian, sehingga merenung masuk daftar terakhir hal yang ingin dikerjakan. Orang banyak lalu lalang di depan papan ini dan menerimanya begitu saja. Kalaupun beberapa menaruh perhatian, pilihannya tinggal dua saja : ingin ke mushola, atau toilet. Maaf, ternyata ada pilihan ke tiga, pergi kedua-duanya.
Mushola dan Toilet, berapa kali kita lihat papan penunjuk arah yang menyatakan bahwa dua tempat yang derajatnya terpisah antara bumi dan langit ini ternyata di berada di lokasi yang sama (oke saya ralat, biasanya bertetangga). Dan memang seperti demikian adanya, umumnya keduanya berdekatan di lokasi sisa yang tersedia seadanya. Agar tidak melebar ke mana-mana, mari kita bahas kebiasaan yang terjadi di pusat perbelanjaan, atau kita sebut saja Mall.
Senin, 13 Mei 2013
MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL ?
Mungkin bagi rekan-rekan kerja di
kantor, tulisan ini akan jadi bahan tertawaan. saya bukanlah seorang
penggiat sosial atau aktivis perubahan. Dia hanya pegawai negeri yang
sehari-harinya bergulat antara mengabdi pada masyarakat dan polusi kapitalisme.
Entah mana yang menang. Yang pasti aroma oportunis dan ketidaktegasan
manajerial tercium dimana-mana.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah
profesi yang unik. Dia berdiri kokoh di dua kutub yang ektrim, dihujat
mati-matian, tapi ratusan ribu pelamar mengantri setiap tahun. Ketika gayus
terbukti maling uang rakyat, ramai masyarakat mencaci. Tapi tahun ini, ribuan
pelamar berharap-harap cemas, akankah namanya tercantum di kepegawaian ditjen
Pajak. Dengan demikian, mungkin hanya
PNS lah profesi yang menunjukan sifat asli masyarakat kita yang mengidap Dissociative Identitiy Disorder
(penyakit kejiwaan dimana seseorang mengidap kepribadian ganda). Banyak orang berbuih-buih
mencap PNS sebagai kumpulan pegawai yang
makan gaji buta, sementara dalam hati berharap agar dirinya atau putra-putrinya
diterima sebagai PNS.
Apakah menjadi PNS sesuatu yang
buruk? Tentu saja tidak. PNS adalah profesi yang lagi-lagi duduk pada dua kutub
yang ekstrim. Satu sisi, kita bisa beribadah dengan mengabdi kepada rakyat,
disisi lain kita bisa mencari nafkah sebagai seorang profesional.
Tapi Kenapa? Selalu ada “kenapa”
dalam setiap fenomena. Kenapa PNS demikian dibenci tapi di rindu? Tanyakan pada
sembarang orang, jawabannya cenderung selalu sama : keamanan. Ya, keamanan
adalah faktor utama kenapa PNS demikian diidolakan. Status “keamanan” ini demikian multi dimensi dimana para PNS menikmati berbagai fasilitas seperti jaminan kesehatan, kepastian
pendapatan yang selalu disesuaikan dengan inflasi, imej pekerjaan yang (konon)
santai, banyak tunjangan (untuk pejabat), jaminan pensiun, mudah dapat kredit
bank, dan terakhir, alasan yang selalu di agung-agungkan banyak orang : (konon) susah dipecat.
Rabu, 30 Januari 2013
Hubungan Wanda, Ami dan Anggelina
Sebenarnya antara para wanita yang sekarang terkenal ini tidak ada hubungan langsung. Wanda Hamidah (yang kini telah terbukti bersih narkoba) dan Amy Qarnita (ibunda Raffi) menjadi buah bibir karena kejadian penggerebakan yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional. Anggelina menjadi media darling karena kasus korupsi di Hambalang.
Satu-satunya yang menjadi perhatian saya adalah kacamata yang mereka kenakan ketika diliput oleh media. Mereka semua pada momen-momen tertentu, mengenakan kacamata frame kotak berwarna gelap. Entah apa alasannya, kacamata kotak memang meningkatkan penampilan para wanita ini.
Kacamata memang bisa mengangkat imej pemakainya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, orang-orang yang memakai
kacamata saat wawancara kerja, lebih banyak diterima kerja. Menurut
College of Optometrists study, sepertiga responden di Inggris berpikir,
kacamata membuat seseorang tampak profesional dan 43 persen berpikir
kacamata membuat seseorang tampak cerdas.
Untuk para pria, kacamata konon dapat menambah daya tarik mereka. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh para peneliti dari University of
Stockholm, wanita akan lebih tertarik pada pria yang menggunakan
kacamata. Seperti pemikiran orang pada umumnya, kacamata akan membuat
pria tampak cerdas. Wanita merasa bahwa pria terlihat lebih mengesankan
dan mudah diajak berkomunikasi. Dimulai oleh Anggie, sekarang Wanda... kaca mata kotak ini tampaknya akan masih lama bertahan di panggung media.
Anggelina Sondakh (surabayasore.com)
Amy Qarnita (Detik.com)
Wanda Hamidah
Wanda Hamidah
Wanda Hamidah
Wanda Hamidah
Kamis, 24 Januari 2013
Hati-hati dengan iklan yang BEJO.
Awalnya tidak ada yang aneh ketika sebuah perusahaan membuat iklan obat masuk angin dengan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo". Memang sih, Bejo bukan kata yang umum, terutama bagi saya yang orang Sunda.
Kata "Bejo" yang berarti "beruntung" hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata "bejo", sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.
Kata "Bejo" yang berarti "beruntung" hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata "bejo", sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.
Alasan Pemilihan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo" sangat gampang ditebak. Jargon ini dipilih sebagai respon iklan produk pesaing yang mengusung jargon "Orang pintar ya Minum Tol*k Angin". Iklan ini punya dua target. Pertama, iklan ini ingin menggiring alam bawah sadar konsumen bahwa ketika masuk angin, cara cerdas dan pintar untuk mengobatinya adalah dengan minum Tol*k Angin.
Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga "dipilih oleh kalangan pintar" ketika mereka masuk angin.
Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga "dipilih oleh kalangan pintar" ketika mereka masuk angin.
Iklan "Orang Pintar" menghajar produk-produk pesaing di tempat yang tepat. Karena sebagus apapun produk anda, "orang pintar" tidak minum produk tersebut. Lagipula, ketika masuk angin, cara "pintar" untuk mengatasinya adalah minum Tol*k Angin.
Sabtu, 19 Januari 2013
MASA DEPAN PERMODALAN USAHA KECIL (BAGIAN II)
Pada tulisan yang lalu saya membahas soal bagaimana UMKM di indonesia di kepung oleh demikian banyak pesaing kelas berat. Dihajar didalam negeri, di ancam produk luar negeri. Bantuan modal dari perbankan sulit diakses. Lengkap sudah derita usaha MKM di negara ini.
Demikian banyak sektor UMKM yang sekarang nafasnya tinggal senen kamis. Pertanian pelan-pelan digerogoti properti, manufaktur menghitung hari akibat impor produk cina.Tapi yang akan saya bahas sekarang adalah sektor perdagangan retail yang menurut saya nyawanya tinggal di tenggorokan dan bisa jadi satu-satunya jalan adalah mengucap Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun.
Demikian banyak warung-warung kecil yang bangkrut dihantam oleh serbuan minimarket. Dengan kemampuan finansial yang dimilikinya, jaringan retail minimarket mampu menghadirkan fasilitas kenyamanan, kebersihan, produk yang variatif dan harga yang diklaim lebih murah (saya ragu mengingat harga belum termasuk pajak, kembalian Rp.50 selalu ditilep tanpa izin, dan kembalian recehan di tukar dengan permen). Bisa ditebak, konsumen datang berbondong-bondong.
Kamis, 17 Januari 2013
MASA DEPAN PERMODALAN USAHA KECIL (BAGIAN I)
Pembiayaan, atau banyak orang menyebutnya sebagai permodalan, selalu menjadi masalah utama bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan usahanya. Apalagi ketika baru akan memulai usaha. Berapa banyak ide ide kreatif yang harus terhambat hanya karena pemilik ide tersebut tidak memegang lembaran-lembaran rupiah yang memadai untuk mendanai usahanya. Begitu juga yang dialami oleh sebagian besar pelaku usaha di Indonesia. Mayoritas pelaku usaha di indonesia adalah UMKM dan sebagian besar dari mereka kesulitan dalam pendanaan.
Di era globalisasi ini, dimana saya lebih nyaman menyebutnya era tarung bebas, faktor dana menjadi sangat berpengaruh dalam dunia usaha. Dalam beberapa tahun ini, UMKM nasional dihadapkan kepada medan pertarungan (atau pembantaian) bernama pasar bebas. Prinsip utama dari pasar bebas adalah semua orang berhak untuk masuk dan berusaha kemana saja, dengan hambatan yang seminim mungkin. Diatas kertas, konsep ini indah nian. Seolah-olah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha dan mengais (atau menggaruk?) rezeki. Konsep ini selintas menggambarkan keadilan sosial untuk semua, bahwa kue ekonomi tidak dimiliki sekelompok orang saja.
Faktanya? Maaf saja, jauh dari kertas tadi. Ya, bahwa pada pasar bebas, semua orang merdeka untuk berusaha dimana saja. Tapi disinilah masalah dimulai. Untuk memudahkan diskusi ekonomi ini, mari kita mengandaikan bahwa ekonomi adalah hadiah yang diperebutkan dan pasar adalah ring tinju dimana para pelaku usaha adalah petinjunya. Alih-alih membagi-bagi pertandingan tinju ke berbagai kelas sesuai beratnya, pasar bebas mempersilahkan Mike Tyson untuk bertarung melawan (dengan segala hormat) Chris John. Sulit membayangkan Pahlawan kita Chris John menjadi sansak hidup si Leher Beton. Tapi itulah yang terjadi saat ini, masih tidak percaya? Tengoklah warung – warung kecil yang sekarang sekarat dihajar usaha-usaha tertentu yang namanya kompak berakhiran “Mart”.
Jumat, 21 September 2012
Mari pasang nyawa untuk Foke, Mari mati-matian membela Jokowi,
Minggu ini denyut kota Jakarta, berdetak keras. Pasalnya, ada pemilihan kepala kampung baru yang akan memimpin Jakarta selama lima tahun kedepan (setidaknya itu bunyi pengumuman di KPU setempat). Mereka yang berKTP jakarta otomatis (seharusnya) memiliki hak untuk turut serta dalam urusan ini. biarpun kontribusinya tak lebih dari melubangi kertas suara. Justru kertas-kertas berlubang inilah yang akan menentukan apakah Pak Kumis atau Mas Kotak-kotak yang duduk di kursi empuk gubernur Jakarta.
Saya tak tertarik untuk membahas keduanya. Selain saya bukan warga Jakarta, sudah terlalu banyak diskusi dan debat kusir soal dua orang ini. Saya justru tertarik dengan adu silat antara para pendukung masing masing cagub. Mengapa? karena meski tidak mendapatkan keuntungan ekonomi atau sosial secara langsung, kita bisa melihat begitu banyak pendukung masing-masing cagub yang seolah "berani mati" atau setidaknya "pasang badan" untuk membela jagonya.
Senin, 30 Juli 2012
Acara Sahur (itu) Terburuk Tak Layak Tonton!
Seorang pria mendorong temannya sampai jatuh. Diiringi tertawaan
dari teman-temannya yang lain. Seorang yang lain mengejek temannya, terkadang
membuka aib, lagi-lagi diikuti gelak tawa. Pada momen lain, komunikasi diantara
mereka hanya berisi saling melecehkan atau kekerasan. Alasannya? Agar orang
yang melihat tertawa. Demikianlah, isi seluruh acara sahur itu tak lebih dari
kekerasan, pelecehan, rasisme, membuka aib, penghinaan yang ternyata “boleh”
ditertawakan. Memang pada akhirnya (menit-menit injury time) datang seorang yang berpeci, berjubah, dan bersorban
(yang konon seorang alim ulama) untuk sekedar membaca khotbah-khotbah yang
sudah tercetak dalam naskah. Nilai yang bisa diambil dari acara ini?
Menertawakan penderitaan orang lain adalah baik. Tertawalah sekarang.
Di chanel lain, isinya berjubel dengan kuis-kuis berhadiah. Lengkap
dengan sponsor disana sini. Isinya adalah “dakwah” tentang provider
telekomunikasi yang perlu anda beli, sirup yang harus anda minum, cemilan yang
harus disajikan untuk berbuka, atau pakaian yang perlu diborong. Ada Iklan yang menjual handphone dengan bonus
software kitab suci. Pesan iklan itu? Tingkatkan iman dengan membeli handphone,
sungguh mengerikan. Ramadhan adalah tentang berbagi, namun acara ini menantang
langsung dengan berteriak lantang : “BELI dan MILIKI, karena tanpa produk yang
kami tayangkan, Idul Fitri Kalian akan BASI!!!”. Nilai yang bisa diambil dari
acara ini? Konsumerisme adalah jalan menuju ampunan Tuhan.
Kamis, 03 Mei 2012
KENAPA KITA HARUS BERINVESTASI ? (3) : Mengelola pendidikan
Untuk
mereka yang sudah memiliki keluarga, biaya pendidikan adalah kebutuhan yang
benar-benar memusingkan. Program pendidikan yang ditetapkan pemerintah
menghabiskan waktu minimal 16 tahun. Untuk mereka yang mengambil jenjang
lanjutan seperti S2 dan S3, waktu yang dihabiskan di bangku pendidikan adalah
sekitar 21 tahun. Luar biasa, bayangkan saja, belasan tahun pembiayaan rutin
yang mutlak harus dipenuhi. Hebatnya, biaya-biayanya tidak pernah menurun.
Dan seakan mengamini kesusahan para orang tua. Ramai-ramai perguruan
tinggi negeri menaikan biaya pendidikan mereka. Kuliah kini mutlak hanya untuk
mereka yang berkantong tebal. Memang ada beasiswa untuk mereka yang tidak
mampu, tapi berapa sih yang disediakan? Dan berapa juga sih jumlah yang
ditanggung beasiswa? Kenyataannya adalah (mohon ditelan mentah-mentah), biaya
pendidikan akan mencekik leher anda. Gagal mempersiapkan biaya pendidikan sama
saja dengan mengatakan kepada anak anda untuk melupakan sekolah.
Seorang teman menyarankan kepada saya agar ketika sudah menikah
nanti memiliki program kelahiran anak. Dia menyarankan agar jangan sampai jarak
antar anak tepat tiga tahun. Karena ketika si kakak masuk SMU, maka si adik
masuk SMP. Ketika si kakak masuk kuliah,
si adik masuk SMU, ketika si kakak memasuki tahun terakhir kuliah yang biasanya
menyedot biaya tinggi, si adik masuk kuliah. Itu jika anak anda hanya dua,
bagaimana jika Tuhan memberi anda rezeki lebih dari dua anak?
Rabu, 02 Mei 2012
Mengapa kita (harus) berinvestasi ? (part 2) : Beli Rumah
Pada tulisan terdahulu, saya telah membahas alasan kenapa kita harus
berinvestasi dan investasi apa saja yang perlu dilakukan. Perumahan,
Pendidikan. Kesehatan, jaminan hari tua, dan jaminan jiwa adalah kebutuhan
utama yang perlu dipenuhi antara lain melalui skema investasi. Sekarang saya
akan membahas skema tersebut satu persatu :
1. Perumahan
Satu hal yang saya pelajari tentang memiliki rumah adalah membelinya
sesegera mungkin. Harga rumah semakin hari semakin tidak masuk akal. Harga
rumah disebuah perumahan di daerah Bogor meningkat harganya lebih dari 30%
dalam hitungan bulan. Harga rumah second tidak jauh berbeda. Dengan
demikian, semakin cepat anda membeli atau mencicil rumah, akan semakin baik.
Inilah salah satu investasi utama yang hampir tidak memiliki resiko (selama
anda berhati-hati). Memusatkan perumahan sebagai target awal untuk dipenuhi
adalah hal yang sangat baik.
Investasi dalam bentuk properti (rumah) memang seolah tidak memiliki
resiko. Harga properti yang selalu meningkat memang menggiurkan. Tapi harus
diingat, properti bukanlah asset yang tergolong likuid. Artinya, rumah atau
properti anda tidak bisa langsung dicairkan menjadi uang ketika anda memiliki
kebutuhan mendadak.
Sama seperti ketika anda membelinya, menjual properti biasanya memang
membutuhkan jangka waktu. Ibarat mencari jodoh, para calon pembeli akan
mempertimbangkan banyak hal seperti kecocokan lokasi, akses jalan, kondisi
fisik dan status hukum properti, serta kesepakatan harga. Belum lagi faktor
kesediaan bank untuk pendanaan pembelian.
Selasa, 24 April 2012
Mengapa kita (harus) berinvestasi ?
Sesekali pikirkan ini. Mengapa meski gaji atau pemasukan kita terus
menerus meningkat, tetap saja terasa kurang atau tidak mencukupi kebutuhan atau
keperluan hidup. Atau kenapa selalu saja ada orang yang mengeluh kekurangan
uang untuk membayar ini dan itu, padahal orang tersebut memiliki pendapatan
yang lumayan besar. Mengapa pula para ibu selalu mengeluh uang belanja yang
kian hari kian tidak mencukupi?
Mungkin sebagian besar dari anda akan menjawab bahwa penyebab semua kejadian
diatas adalah harga-harga barang yang terus-terusan naik. Disisi lain pemasukan
tidak meningkat secepat naiknya harga beras. Kenaikan harga barang yang terus
menerus menyebabkan uang yang kita miliki semakin kehilangan daya belinya di
masa depan. Dulu ketika kecil, uang Rp.500 bisa membeli semangkuk baso.
Sekarang uang yang sama tidak mampu lagi membeli satu buah pisang molen.
Ini fakta pahit yang tidak banyak orang sadari. Uang di dompet kita
sama persis dengan makanan di lemari. Seiring berjalannya waktu, keduanya akan
membusuk. Uang kita akan “membusuk” dengan kehilangan fungsinya untuk menyimpan
kekayaan. Jika dahulu uang Rp. 100 ribu cukup untuk hidup seminggu, uang yang
sama kini bisa habis dalam satu hari. Dengan logika yang sama, kita dapat
menyimpulkan bahwa kekayaan kita berupa uang akan semakin menyusut seiring
waktu.
Minggu, 22 April 2012
Hunting Buku
Don’t
judge a book from its cover. Peribahasa ini biasanya diartikan bahwa menilai orang dari penampilannya
saja adalah sesuatu yang tidak baik. Bahwa tampilan luar seseorang bisa jadi
buruk, tapi hatinya justru mulia. Prinsip yang sama bisa digunakan dalam
memilih buku. Buku yang baik tidak selalu wajib memiliki cover (sampul) yang
mencolok. Bahkan seringkali, buku yang terlampau mewah tampilannya, tidak sebanding
dengan isinya.
Buku itu bersampul tipe hard cover, lengkap dengan lembar sampul
khusus yang dapat dilepas. Judulnya provokatif, seolah-olah intelek. Bisa jadi
memang intelek, karena judulnya seolah diluar nalar saya. Penulisnya seorang
tokoh yang diakui keilmuannya dan sering muncul di layar televisi. Isinya?
Mengerikan. Luar biasa membosankan. Jauh dari harapan awal ketika pertama kali
membaca buku itu. Tapi bisa jadi salah saya yang terlalu bodoh.
Buku lain begitu narsis. Judulnya tak
penting, sama sekali tak penting. Karena tujuan terbitnya buku itu hanyalah
foto penulis (atau setidaknya pemilik hak cipta) di sampul depan. Foto si
penulis begitu cerah, gagah sekali. Senyum nya begitu lebar, selebar wajahnya
yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk judul buku. Untuk mereka yang matanya
terlatih, akan terlihat jejak rekayasa digital pada wajah si penulis. Isinya?
Tak lebih dari cerita panjang lebar tentang pencapaian si penulis. Buku-buku model
ini biasanya digunakan sebagai media promosi si
penulis, terutama bagi mereka yang sekedar mengincar jabatan.
Buku model yang sama (foto pada sampul)
digunakan para konsultan untuk mempromosikan program pengembangan diri. Bedanya
ada pada isinya, biasanya para konsultan menulis cara-cara pengembangan diri,
bisnis, atau kehidupan ke arah yang lebih baik. Di akhir buku, biasanya si
penulis mempromosikan program pengembangannya, lengkap dengan diskon bagi
mereka yang membeli bukunya. Syukurlah, buku seperti ini masih bisa diambil
faedahnya.
Seorang sahabat pernah meminjamiku sebuah
buku. Buku ini tentang biografi seseorang. Sayang sekali, isinya hanya pujian.
narsis sekali. Itulah resiko menerbitkan biografi tentang orang yang masih
hidup, apalagi memiliki posisi politis. Saran saya, janganlah membeli buku
biografi tokoh politik yang masih hidup. Level kenarsisannya melebihi remaja
labil. Beli saja biografi orang yang sudah berpulang kepada Sang Pencipta.
Seperti halnya artis, buku juga memiliki
pengikut. Ketika buku “The Secret”
terbit dan sukses besar. Tiba-tiba saja bermunculan buku yang mengekor
kepopuleran buku tersebut. Hampir semua aspek dari buku itu dicontek atau
ditiru habis habisan. Mulai dari model
sampul, tema buku, judul yang hampir mirip bahkan isi buku!!. Untuk anda
penggemar novel fiksi, tentu masih ingat “The
Da Vinci Code” karya Dan Brown. Terlepas kontroversinya karena dinilai
melecehkan agama tertentu, selepas kesuksesannya, berjamuranlah novel novel
dengan tema yang sama. Dan yang terakhir (tapi ini pengecualian) adalah
fenomena “Laskar Pelangi”. Saya bilang pengecualian, karena novel ini menjadi
pembuka jalan bagi novel-novel lain yang menggugah seperti “5 menara” dan
lainnya. Akhirnya, era novel yang isinya sekedar dunia selangkangan tamat
sudah. Mantap!!
Bulan lalu saya kembali memburu buku obralan. Jangan salah, banyak
buku berkualitas yang saya dapatkan dengan harga murah. Novel “the hobbit”
karya JRR Tolkein dan DNA Mutation of Power House karya Rhenald Kasali hanya contoh dari banyak buku yang saya
dapatkan dengan harga obral. Mohon maaf, semuanya asli dari penerbit resmi.
Akhirnya, saya berhasil menemukan sebuah buku yang terkucil di bawah
rak. Di Amerika buku ini menjadi salah satu best seller. Isinya? Kualitas best
seller, sangat enak dibaca. Buku ini membantu kita untuk memahami pengelolaan
keuangan usaha yang baik. Pernahkah anda
kebingungan ketika membaca neraca perusahaan di Koran-koran? Tidak lagi. Buku
ini memang layak menjadi best seller. mungkin besok saya bahas.
Selasa, 03 April 2012
Alien Bernama Asuransi Pendidikan
Jujur, menulis artikel ini sama saja dengan mendongeng. Berbeda dengan artikel kemarin tentang investasi emas yang memang saya sedang lakukan. Investasi keuangan dalam bentuk asuransi tidak pernah saya lakukan. Oleh karena itu, tulisan ini sebenarnya cara saya untuk mempelajari apa itu asuransi, lebih lebih lagi asuransi pendidikan. Jadi jika tulisan ini sedikit sesat, maklumi saja.
Ketika saya kecil, kata "asuransi" punya imej yang tidak menyenangkan. Ceritanya dimulai ketika tetangga saya kehilangan mobilnya. sebut saja namanya Haji Usman. Ketika hendak melakukan klaim. perusahaan asuransi "seolah" mempersulit proses klaim dan memping pong Haji Usman kesana kemari. Kisahnya berhenti disitu tanpa pernah ada kepastian apakah klaim tersebut bisa cair. Sejak mendengar kisah ini, benak Firman kecil telah tertanam kesan sulitnya klaim di perusahaan asuransi.
Tapi tak kenal maka tak sayang. Meski ada 654.000 link di Google search tentang kasus-kasus sulitnya melakukan klaim asuransi, kita tetap perlu untuk mempelajari apa itu asuransi dan manfaat yang kita manfaatkan untuk mengelola kehidupan kita.
menurut saya, asuransi itu mirip mirip nyicil dalam jangka panjang. Dana yang dikumpulkan digunakan untuk keperluan tertentu. Apakah itu kesehatan, pendidikan, kerugian, musibah dan lainnya. Intinya asuransi merupakan perlindungan atau kompensasi dari hal hal yang tidak diinginkan. Panik menjelang masuk sekolah adalah salah satunya.
Asuransi pendidikan demikian juga adanya. secara umum produknya mencakup anda membayar sejumlah uang dalam jangka waktu tertentu dengan harapan pada waktunya tiba, asuransi tersebut akan menutup kebutuhan biaya pendidikan anak anda. Pada dasarnya tiap-tiap produk bersaing pada tataran return yang didapat konsumen. Tapi pada perkembangannya, berbagai perusahaan menawarkan kelebihan lain seperti asuransi jiwa, kesehatan dan lainnya.
Dengan demikian mengambil produk tabungan/asuransi pendidikan adalah satu jalan untuk mempersiapkan masa depan anak anda. Sekali lagi, satu jalan, bukan jalan utama. Jadi anda masih bisa memilih model persiapan dana pendidikan lainnya. tapi itu kita bahas nanti saja.
Ternyata produk asuransi pendidikan demikian banyak yang tak mungkin saya bahas satu persatu. saran saya cuma satu : FAHAMI SEMUA PASAL dalam perjanjian asuransi yang hendak anda ambil. saya serius, FAHAMI SEMUANYA, bukan sekedar gambaran umum, tapi SEMUANYA. Bukan apa-apa, setiap pasal yang tertulis dalam perjanjian asuransi yang anda tanda tangani akan mempengaruhi apa yang akan anda terima.
sebenarnya ada yang beragumen bahwa asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan bukan produk yang bisa memberikan return (hasil) paling tinggi. tulisannya bisa dibaca disini, tapi tentu ini masih perlu dibandingkan kembali dan disesuaikan dengan kondisi kita.
berikut tips memilih asuransi pendidikan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber (terpercaya tentunya) :
- Fahami betul rencana anda. berapa anak yang anda rencanakan ? berapa selang waktu antar tiap-tiap anak? jenjang pendidikan seperti apa yang hendak diambil? berapa kira-kira besaran biaya yang harus disiapkan untuk memenuhi semua rencana anda? Semua pertanyaan ini ribet untuk dijawab, tapi jauh lebih baik daripada ribet disaat anda harus membayar semua tagihan.
- Sekali lagi, fahami betul betul produk yang anda ambil. Bukan berarti teman anda mengambil polis yang sama, maka anda berfikir bahwa polis tersebut bagus. bisa jadi sang teman tidak lebih faham dari anda sendiri
- Bandingkan dengan kemampuan anda membayar. OK lah produknya bagus, bisa bayar bulanannya ga? jika tidak, cari alternatif lain
- Hal lain yang harus juga diperhatikan adalah seberapa fleksibel nilai tunai atau tahapan dana pendidikan tersebut bisa ditarik. Ini poin yang bagus. Banyak dari tahapan biaya pendidikan tidak bisa ditarik kecuali pada tahun-tahun yang telah ditentukan seperti tahun ke-7 untuk masuk SD, tahun ke 12 untuk masuk SMP dan seterusnya. Modelnya seperti deposito lah
- Hati-hati dengan simulasi, nilai yang didapat mungkin besar. tapi itukan nilai sekarang. Bisa saja anda dapat 500 juta saat sekarang dimana kuliah cuma habis 200 juta. bandingkan selalu dengan nilai yang diperlukan dimasa depan. bisa jadi kuliah yang sama akan menghabiskan 600 juta di masa depan. satu poin lagi : Perhatikan asumsi-asumsi yang tertera di lembar ilustrasi. lagipula banyak perusahaan berlindung dalam klausul bahwa hal tersebut semata-mata hanya ilustrasi yang sesungguhnya tergantung hasil pada waktu pencairan
- Sebelum memilih program asuransi, baca dahulu manfaat dan fitur program asuransi yang hendak kita beli. Misalnya, manfaatnya hanya untuk resiko meninggal, maka kita tidak akan mendapatkan manfaat ketika kita hanya mengalami sakit atau luka-luka. Atau sebaliknya, yang kita beli adalah produk asuransi kecelakaan saja, maka kita tidak akan mendapatkan manfaat ketika kita terkena penyakit tertentu.
- Jangan terpaku karena nama besar perusahaan yang memberikan penawaran, tapi lebih fokus pada produk yang sesuai kebutuhan.
- Pilihlah perusahaan asuransi yang memudahkan konsumen dari segi pencairan / klaim. Mengingat sebetulnya perusahaan asuransi tak lebih adalah pihak pengelola, keputusan tetap pada konsumen yang memiliki dana.
okay. mungkin besok saya mau ambil polis, mungkin juga tidak. yang pasti saya harus berhitung dulu... ya kan?
sebagai referensi, mungkin ada baiknya anda menengok ke link slitus ini :
1. http://www.catatankeluargamuda.com, dan
2. http://www.aidilakbar.com
Senin, 02 April 2012
Menyiapkan dana Pendidikan dengan berhenti Merokok
Untuk mereka yang
berpenghasilan tinggi, mungkin biaya pendidikan tidak menjadi masalah. Tapi
untuk mereka yang memiliki penghasilan menengah ke bawah, biaya pendidikan yang
semakin tinggi tentu menjadi kendala yang seringkali berakhir tanpa solusi.
Sayang sekali, banyak generasi muda yang cemerlang terancam pendidikannya hanya
karena terganjal biaya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, seandainya para orang
tua mempersiapkan sedari dini, tentu masalah biaya pendidikan anak dapat
diatasi sejak awal. Asumsinya, seorang anak tidak langsung mendadak besar dan
masuk sekolah. Anggap saja, anda akan memasukan putra/putri anda ke sekolah
dasar pada umur tujuh tahun. Maka sebenarnya, anda dapat mencicil biaya masuk
SD selama tujuh tahun semenjak dia lahir. Atau katakanlah anda hendak memasukan
si kecil ke TK pada umur enam tahun, anda masih punya jangka waktu enam tahun
untuk mempersiapkan diri.
Mengelola keuangan sebenarnya tidak susah-susah amat.
Bahkan sangat sederhana. Pokoknya, selama kita punya kemauan, rencana yang
baik, dan disiplin, maka semuanya akan mudah. Tahukah anda mengapa orang
terkesan sulit mengelola keuangannya. Salah satunya adalah pola hidup boros.
Pola hidup boros ini, tidak selalu identik dengan belanja ala miss jinjing.
Pola hidup boros adalah semua gaya hidup yang sama sekali tidak bermanfaat,
bahkan cenderung merugikan. Boros erat sekali dengan perilaku impulsif alias
belanja tidak berdasar pada kebutuhan, tapi berbelanja setiap kali anda “lapar
mata”.
Merokok adalah salah satu contohnya. Sampai detik ini
belum ada orang yang berani menjamin bahwa manfaat merokok jauh melebihi
kerugian yang dikandungnya. Kenyataannya justru sebaliknya. Kesehatan tergerus,
uang pun ikut hilang. Oleh karena itu, berhenti merokok, tidak saja akan
membuat badan lebih sehat, tapi dana yang tidak terpakai bisa digunakan untuk
menyekolahkan anak anak anda.
Hitungannya mudah saja. Sebut saja anda berhenti merokok
semenjak kelahiran si buah hati. Jika sebelumnya anda menghabiskan Rp.
10.000/hari untuk dibakar begitu saja, dengan menabungkannya selama tujuh
tahun, maka anda akan mengumpulkan dana sebesar Rp. 25.770.000 pada akhir tahun
ke tujuh. Sederhana bukan.
Tabel 1. Menghitung Tabungan 10 Ribu/hari
Pada dasarnya pengelolaan keuangan itu punya dua prinsip
utama. Kebutuhan dan Waktu. Para orang tua yang kebingungan ketika hendak
memasukan putra/putrinya ke sekolah menunjukan kelengahan dalam mempersiapkan
dana pendidikan. Katakanlah jika Rp. 10.000/hari terlalu besar, dengan Rp.
5.000/hari saja, pada akhir tahun ketujuh anda masih bisa mengumpulkan Rp.
12.775.000. Prinsipnya, jika anda tahu bahwa kebutuhan itu pasti akan datang,
apakah itu biaya pernikahan, perumahan, pendidikan, kesehatan atau investasi,
maka anda harus segera menyiapkannya dari sekarang.
Hitungan diatas adalah model tabungan flat, artinya
anda hanya menabung uang saja tanpa menginvestasikannya kebentuk lain.
Kira-kira berapa yang bisa anda dapatkan dengan pengeluaran yang sama namun
diinvestasikan ke emas?
Katakanlah anda tetap menyisihkan Rp. 10.000/hari, namun
pada setiap akhir tahun anda menginvestasikan tabungan anda dengan membeli
emas. Jika ada kelebihan atau kekurangan, maka akan dimasukan ke tabungan tahun
berikutnya. Dengan asumsi harga emas meningkat 10% setiap tahun, jika anda
mencicil emas batangan selama tujuh tahun, maka pada ahir tahun ke tujuh anda
akan memiliki investasi dalam bentuk emas senilai Rp. 34,4 juta. Lumayankan?
Dengan pengeluaran yang sama anda mendapat kelebihan sebesar Rp. 8,87 juta.
Begini perhitungannya :
Tabel 2. Menghitung Investasi Emas 10 Ribu/hari
Jika pola yang sama anda teruskan selama tiga belas
tahun, anda akan mengumpulkan dana sebesar Rp 504,59 juta. Semua ini hanya
dengan menyisihkan Rp.10.000/hari yang dahulunya anda bakar-bakar begitu saja.
Andai saja pola ini anda lakukan sedari dulu, mungkin anda sudah jadi hartawan
dan tidak bingung lagi setiap tahun ajaran baru. Ga percaya? Coba saja,
berhentilah merokok dan mulailah menabung. Saya belum membahas persiapan dana
pendidikan dengan model asuransi. Mungkin besok. Moga moga
Langganan:
Postingan (Atom)
















