Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL ?



 Mungkin bagi rekan-rekan kerja di kantor, tulisan ini akan jadi bahan tertawaan. saya bukanlah seorang penggiat sosial atau aktivis perubahan. Dia hanya pegawai negeri yang sehari-harinya bergulat antara mengabdi pada masyarakat dan polusi kapitalisme. Entah mana yang menang. Yang pasti aroma oportunis dan ketidaktegasan manajerial tercium dimana-mana.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah profesi yang unik. Dia berdiri kokoh di dua kutub yang ektrim, dihujat mati-matian, tapi ratusan ribu pelamar mengantri setiap tahun. Ketika gayus terbukti maling uang rakyat, ramai masyarakat mencaci. Tapi tahun ini, ribuan pelamar berharap-harap cemas, akankah namanya tercantum di kepegawaian ditjen Pajak. Dengan demikian, mungkin hanya PNS lah profesi yang menunjukan sifat asli masyarakat kita yang mengidap Dissociative Identitiy Disorder (penyakit kejiwaan dimana seseorang mengidap kepribadian ganda). Banyak orang berbuih-buih mencap PNS sebagai  kumpulan pegawai yang makan gaji buta, sementara dalam hati berharap agar dirinya atau putra-putrinya diterima sebagai PNS.

Apakah menjadi PNS sesuatu yang buruk? Tentu saja tidak. PNS adalah profesi yang lagi-lagi duduk pada dua kutub yang ekstrim. Satu sisi, kita bisa beribadah dengan mengabdi kepada rakyat, disisi lain kita bisa mencari nafkah sebagai seorang profesional.

Tapi Kenapa? Selalu ada “kenapa” dalam setiap fenomena. Kenapa PNS demikian dibenci tapi di rindu? Tanyakan pada sembarang orang, jawabannya cenderung selalu sama : keamanan. Ya, keamanan adalah faktor utama kenapa PNS demikian diidolakan.  Status “keamanan” ini demikian multi dimensi dimana para PNS menikmati berbagai fasilitas seperti jaminan kesehatan, kepastian pendapatan yang selalu disesuaikan dengan inflasi, imej pekerjaan yang (konon) santai, banyak tunjangan (untuk pejabat), jaminan pensiun, mudah dapat kredit bank, dan terakhir, alasan yang selalu di agung-agungkan banyak orang : (konon) susah dipecat.

Kamis, 31 Maret 2011

Seminar Entrepreneurship ! Ikut ga ya?


Sering kita dengar pendapat bahwa jalan menuju kekayaan dan kesuksesan adalah dengan menjadi wirausaha. Pendapat itu menyatakan bahwa dengan menjadi wirausaha, kita akan mencapai apa yang disebut kebebasan finansial. Yaitu sebuah kondisi dimana “uang bekerja untuk kita, dan bukan sebaliknya”. Seringkali istilah kebebasan financial digambarkan bahwa seseorang dapat duduk santai tanpa harus bekerja apa-apa tapi tetap menerima aliran uang!!!

Seolah wirausaha merupakan kata sakti dimana semua masalah akan selesai dengannya, maka hampir setiap hari ada saja seminar atau pelatihan yang bertema “menjadi pengusaha sukses”. Jargonnya pun bermacam-macam tapi sebenarnya serupa. Yang satu bertema “Cara Gila Menjadi Pengusaha”, yang lain mengklaim sebagai raja “financial revolution”, tetangganya mengaku punya “golden ways”, sebelahnya memprovokasi agar “berhenti sekolah jika ingin kaya”. Jika dulu digunakan istilah pelatih, sekarang itu tidak berlaku lagi. Karena demi alasan komersial, maka istilah pelatih diganti menjadi fasilitator, coach, trainer, motivator, navigator, master dan gelar sejenis lainnya.

Dari sekian banyak seminar dan pelatihan yang saya pernah ikuti, saya bisa simpulkan tiga hal. Pertama, semuanya bertujuan untuk membantu anda memperbaiki diri. kedua, beberapa menawarkan peluang bisnis (contohnya MLM atau frenchise). Ketiga, banyak pengisi acaranya meski mengaku sukses sebagai pengusaha, sebenarnya bisnis pelatihan itulah bisnis utamanya. Beberapa kali, saya pernah jadi panitia sebuah acara training. Si trainer mengklaim dirinya pengusaha dan punya bisnis di sana sini. Bahkan dia mengaku ketua asosiasi pengusaha ini dan itu. Lama kelamaan saya faham bahwa itu semuanya bisnis dia yang lama dan sedang mandek. Soal ketua asosiasi? Ternyata anggotanya hanya hitungan jari.

Beberapa dari anda pasti bertanya apakah salah punya bisnis training? Tentu tidak, itu bisnis yang baik, sah dan tidak melawan hukum. Jadi jika anda kebetulan seorang trainer, saya tegaskan bahwa itu bukanlah bisnis yang buruk, selama anda jujur dan tidak mengaku-ngaku. Saya hanya ingin menunjukan agar orang tidak gampang terbuai dengan klaim-klaim dari beberapa trainer yang saya nilai berlebihan. Saya pribadi pernah bekerja di suatu lembaga training. Selama bekerja disana, kami tidak pernah membuat klaim yang memang tidak ada buktinya.

Apakah mengikuti pelatihan dan seminar seperti itu bermanfaat? Saya kira ya. Anda perlu sekali-kali hadir didalamnya. Tapi jangan berharap terlalu banyak, karena what you see and hear mostly is what you get. Banyak sahabat kecewa karena mereka berfikir dengan rajin-rajin ikut pelatihan dan seminar, hidup mereka akan secara ajaib berubah. Salah besar.

Seminar dan pelatihan, apakah itu motivasi, wirausaha, finansial atau lainnya, hanya membantu anda untuk merubah cara pandang dan sikap mental. Ibarat api, semangat membara yang anda rasakan begitu keluar dari forum pelatihan hanya bertahan lama jika “bahan bakar” dalam jiwa anda memang banyak. Artinya, bukan salah trainernya, tapi salah mental kita yang memang gampang loyo.

Kedua, kegagalan sering terjadi karena tidak konsisten menjalankan materi pelatihan. Katakanlah anda mengikuti seminar wirausaha. Pastilah anda diajarkan untuk tidak berhenti berusaha, sekarang tanyakan pada diri anda sendiri, benarkah kita konsisten untuk berusaha terus? Atau ketika diminta untuk memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha, jangan-jangan kita manja dengan terus memakan kas bisnis untuk kepentingan konsumtif.

Ketiga, kita sering terjebak dalam ilusi sosok. Bahwa kita ikut pelatihan hanya karena sosoknya bukan substansinya. Saya punya teori bahwa saat ini, trainer tak ubahnya selebritis sehingga komunikasi antara peserta pelatihan dan trainernya tak berbeda ketika artis ketemu fans. Mungkin si trainer tidak berubah, tapi para peserta tidak lagi melihat dirinya sebagai trainer biasa, tapi artis!

Lebih gawat lagi, ada ilusi lain yang seolah sengaja disebarkan. Yaitu ilusi bahwa sosok trainer adalah manusia sempurna yang diturunkan dari langit untuk menjawab segala permasalahan manusia. Saya faham bahwa seorang trainer harus tampil sempurna. Sekali gagal menjawab pertanyaan peserta, maka tamatlah karirnya. Tapi coba lihat brosur, buku, atau publikasi lain tentang acara pelatihan seperti ini. Seringkali sosok trainer digambarkan terlalu berlebihan yang ujung-ujungnya akan mengecewakan peserta. “aaah kalo begini aja, gua juga bisa… nyesel deh”, tak asing dengan keluhan seperti ini? Saya tidak kaget.

Untuk anda yang ingin menjadi seorang wirausaha dan berniat mengikuti training “jadi pengusaha”, saya mendukung sepenuhnya. Tapi harap ingat, sedahsyat apapun acaranya tetap saja sifatnya training alias latihan. Ibarat belajar nyetir, tentu kita tidak langsung bisa. Harus belajar teori dulu, belajar aturan dulu. Begitu juga dengan training. Apapun namanya, siapapun trainernya, sebenarnya tak beda dengan masuk ke ruang kelas dan belajar. Akan lebih baik jika memang diniatkan untuk mencari ilmu dan mencoba merubah pola pikir, bukan untuk mencari jalan cepat menuju sukses. Maaf saudara, mencari kekayaan dengan ilmu hitam pun perlu proses. Siapa bilang punya tuyul tidak pake biaya dan usaha? Jika di perjalanan anda mengalami kegagalan, jangan salahkan trainernya. Karena memang bukan tanggung jawabnya.

Terakhir, saya sarankan agar anda melupakan mimpi soal kebebasan financial. Tak ada ceritanya bahwa suatu saat kita bisa tetap duduk santai dan uang akan terus masuk begitu saja. Coba baca kisah-kisah orang-orang terkaya dunia. Bahkan dengan kekayaan begitu besarpun mereka masih tetap bekerja. Para investor terkaya dunia masih harus tetap terjun mengawasi dana yang mereka investasikan. Karena jika tidak, mereka akan dilibas oleh persaingan bisnis. Lupakan juga soal pelihara tuyul, saya tidak pernah dengar ada orang jadi milyuner karena bisnis tuyul.

Sabtu, 26 Maret 2011

Perpustakaan kecilku...


aku selalu bercita-cita punya perpustakaan. mungkin kelak rumahku penuh dengan buku. satu hal yang pasti, mereka tidak akan berdebu. Rak kecil ini cikal bakal rumahku, yang Insya Allah akan penuh dengan buku.

i like this..

Kamis, 24 Maret 2011

si coklat kotak

Mulai hari ini aku akan ditemani teman kerja baru. Belum diberi nama memang, tapi sementara ini dia dipanggil “coklat”, sesuai dengan warna tubuhnya. Si coklat ini punya tampang monoton persis seperti namanya. Sangat kaku, irit desain apalagi warna. Bentuk fisiknya yang kotak persegi sudah cukup menjelaskan bahwa dia diciptakan sekedar untuk keperluan fungsi. Urusan lain seperti estetika harap lupakan saja. Begitu standarnya bentuk si coklat, Andai dia main sembarangan ke dapur, mungkin ibu akan menjadikannya tatakan gelas atau alas untuk memotong wortel.

Selain membosankan, si coklat juga hobi makan tempat. Si geulis yang setia menemaniku bekerja saja tidak serakus ini. Tapi mentang-mentang baru, enak saja dia menghabiskan jatah meja kerjaku. Saking lebarnya, buku-buku diatas meja harus rela turun tahta. Biasanya di simpan penuh khidmat sebagai warga kehormatan, sekarang harus ikhlas mengungsi di lantai. Akan kucarikan buku-buku ini tempat yang layak, tapi sebelum itu harus kuurus dulu anak baru yang seenaknya ini.

Tampaknya, kalbu ini memang belum rela berpisah dengan si geulis. Hampa segera mencekat ketika kuambil keputusan bahwa kami harus berpisah. Harap maklum, dia telah menemaniku selama dua tahun ini. Melewati siang dan malam, saat senang ataupun sulit. Seburuk apapun keadaannya, dia tak pernah mengeluh. Tak perduli panas terik atau deras hujan, tak hirau seberat apapun jalan yang harus kami tempuh.

Kian berat perpisahan ini karena selama dua tahun ini dia tak pernah menuntut lebih dariku. Si geulis tak pernah protes kalau aku ini bekerja sampai malam. Tak sekalipun dia marah sekiranya aku pergi dan tak mengajak dirinya. Diapun menerima diriku apa adanya. Tak pernah terucap permintaan agar aku memperlakukan dirinya seperti orang lain, atau meminta diriku menjadi seseorang yang lain. selama kebersamaan kami, dia telah menjadi teman di saat senang maupun susah
Oleh karena itu, ketika aku mencari mitra kerja yang baru, aku masih belum bisa lepas dari bayang-bayang si geulis. Terpatri kuat dalam benakku tubuhnya yang berisi dan berwarna hitam. Hitamnya tidak setengah-setengah, apalagi plin plan. Sekali melihat, seseorang bisa langsung tahu bahwa si geulis adalah tipe yang tidak serius dan pantang bermain-main dalam urusan pekerjaan. Tubuhnya yang padat berisi namun ramping memancarkan aura bahwa dia bekerja dengan mengutamakan kecepatan dan kesederhanaan. Boleh jadi, bayangan seperti itulah yang membuatku mencari sosok yang mirip dengan si geulis. Apa boleh buat, yang kudapatkan adalah si coklat.

Sebenarnya kalau boleh jujur, warna si coklat tidak betul-betul coklat, karena kalau dilihat secara seksama tapi tidak dalam tempo yang singkat, warnanya justru lebih mirip besi karatan akut. Tentu agan agan pernah melihat besi rongsok yang karatan bukan? Nah begitulah kira-kira warnanya…, itulah kenapa lama-lama kulihat anak baru ini makin membosankan. Seolah mengamini petuah orang bijak, rasa sesal semakin mendera kalbu setelah aku melihat brosur dari toko yang menyatakan bahwa notebook sejenis dijual dengan tiga varian warna: coklat, merah dan biru.

Demikianlah saudara sekalian, aku baru saja membeli sebuah notebook baru. Setelah pemikiran panjang (super panjang) untuk membeli sebuah laptop, ditambah waktu yang panjang (yang ini agak panjang) untuk survey di internet maka jadilah siang tadi aku membulatkan tekad untuk membeli sebuah notebook. Setelah tanya sana sini, browsing siang malam, Aku memutuskan untuk membeli notebook. Awalnya, aku punya opsi untuk membeli netbook, notebook atau Ipad.

Netbook enak untuk dibawa kemana-mana karena ringan dan ringkas. Sangat bagus untuk bekerja di lapangan. Untuk anda yang hobi traveling atau sering bepergian, netbook bisa jadi teman yang menyenangkan untuk menulis catatan selama melancong atau kunjungan kerja. Keunggulan netbook memang terletak di ukurannya yang kecil dan ringan (ukuran rata-rata 30cmx20cm dan berat dibawah 1,5 kg). Meskipun kecil, netbook umumnya telah dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi kenyamanan bekerja.

Secara umum spesifikasi netbook (semua merk) sudah cukup memadai jika keperluannya sekedar untuk kerja kantoran. Ukuran harddisc-nya sudah sangat besar (antara250-320 GB) dengan Memori RAM minimal 1 GB. Setahu saya, seluruh pabrik (kecuali yang khilaf) telah menyertakan perangkat standar seperti wi-fi, bluetooth, ethernet LAN, USB port, card reader dan webcam untuk bernarsis ria.

Namun karena budgetku hanya 4 juta (pas segitu-gitunya), netbook langsung kuhapus dari daftar. Setelah kubandingkan antara kualitas, harga dan keperluanku maka dengan harga saat ini (antara 3 – 5 jutaan) maka kuanggap membeli netbook bukan pilihan yang tepat. Netbook tidak memiliki Drive DVD, banyak dikeluhkan cepat panas dan memiliki ukuran prosesor seadanya (kinerjanya tidak bisa dipaksa). Dengan demikian, untuk keperluanku yang sekedar untuk menulis artikel dan online di rumah, maka membeli netbook masuk ke dalam istilah : kemahalan.

Lanjut pada pilihan kedua : IPad. IPad sebenarnya bukan ditujukan sebagai pengganti computer. Dia sebenarnya dirancang sebagai e-Book Reader. Jika anda mengharapkan kinerja seperti notebook maka lupakan saja. Memang sih kita bisa mendengarkan musik, nonton film, mengakses Facebook, Twiter, Maps, YouTube, iTunes, Mail, Safari dan kegiatan surfing lainnya di dunia maya.

Seperti semua desain keluaran Apple, Ipad mempunyai tampilan yang menarik. Ukurannya sebesar buku dengan Seberapa dimensi 9.56 x 7.47 x 0.5 inci (sedikit lebih besar daripada Samsung galaxy tab), dengan berat hanya 1.5 pounds. iPad menawarkan ruang data mulai dari 16GB, 32 GB sampai 64GB, itu artinya kita bisa menyimpan ratusan bahkan ribuan lagu di iPad. iPad mampu bertahan selama 10 jam bahkan lebih saat digunakan untuk browsing maupun kegiatan lainnya

Sayangnya IPad tidak memiliki fitur Real Multi Tasking. Jangan bermimpi membuka twitter, facebook, dengerin musik sampai skype pada waktu bersamaan. Sial semakin bertambah ketika ternyata IPad belum mensupport Flash, yang menjadikan kita browsing tanpa minim tampilan animasi. Malang tak dapat ditolak, tampaknya Apple khilaf melengkapi IPad dengan kamera. Selamat tinggal narsis… harganya juga tidak kepalang ampun. Dengan begitu banyak fitur yang hilang, aku harus merogoh rekeningku dalam dalam. Saat ini IPad dijual antara 4,5 – 9 jutaan. Ah, lupakan saja.

Dengan hilangnya dua pilihan yang lain, maka pilihanku tinggal notebook. Pertanyaannya, notebook merk apa yang harus aku pilih. Begitu banyak merk diluar sana dan semuanya persis calon lurah : kami notebook nomor 1. Karena kebutuhanku sebenarnya hanya untuk keperluan menulis dan browsing, maka sebenarnya spesifikasi yang kubutuhkan hanya bersifat standar saja.

Pantaslah jika orang bilang mencari jodoh itu gampang-gampang sulit. Ternyata sekedar membeli notebook saja membutuhkan waktu seharian penuh. Maklumlah, seperti yang saya bilang tadi, semua merk berteriak lantang bahwa mereka nomor satu. Saran saya, jika suatu hari nanti anda hendak membeli perangkat elektronik, entah besok entah lusa, maka jujurlah pada hati dan kantong anda. Jangan membohongi diri jika memang tak mampu, cukuplah membeli yang sesuai kebutuhan.

Demikianlah, hari itu saya bertekad bagaimana dengan bujet yang ada bisa mendapatkan kualitas yang sebenarnya lebih mahal. Kunamakan ini prinsip “best buy”, yaitu dengan biaya seminim mungkin bisa mendapatkan barang sebanyak atau sebagus mungkin. Entah kenapa, ada beberapa orang menyebut prinsip ini dengan sebutan pelit.

Saya membagi merk notebook menjadi dua tipe. Pembagian ini sepenuhnya didasarkan pada harga jual notebook dengan spesifikasi standar (minimal harddisc 250 GB, memory 1GB DDR 2, layar 12 inch, punya DVD RW, webcam, wifi, Bluetooth, LAN dan USB port, dan memory card slot). Tipe pertama adalah tipe mahal, yaitu merk yang mayoritas tipe notebooknya dibandrol diatas 5 jutaan. Termasuk jenis ini adalah merk Fujitsu, Sony, Asus dan Toshiba. Tipe kedua adalah tipe moderat, yaitu merk yang selain memiliki lini produk mahal, tapi juga menyediakan tumpuan harapan para kantong cekak. Termasuk dalam jenis ini adalah merk Acer, HP, Lenovo, Axioo dan Advance.

Saya mencari notebook termurah berdasarkan patokan spesifikasi diatas. Akan lebih mantap lagi jika bisa mendapatkan kualitas diatasnya dengan harga yang sama. Dan memang betul kata orang, kalau sudah rezeki tidak akan lari (asal dicari). Saya akhirnya membeli ACER Aspire 4253 keluaran tahun 2011 dengan spesifikasi sebagai berikut : Processor AMD E350 1,3 GHz, layar 14.0 HD LED LCD, grafis AMD Radeon HD 6310, memory 1 GB DDR 3, Harddisc 500 GB, DVD Super Multi DL Drive, OS Windows 7 Asli dengan harga Rp. 4.050.000, dan ya, warnanya memang coklat. Harusnya aku beli yang warna merah saja. Sekarang, aku mengetik artikel ini bersama si coklat. Si geulis sedang istirahat, besok aku ketemu dia lagi.

Jumat, 11 Maret 2011

FILM HOLLYWOOD VERSI SUNDA

ini posting udah lama tapi lucu pisan hahaha, sori ya kalo udah baca kemarin2. hatur nuhun pisan ka kang Bambang Tresna.

a. Saving Private Ryan - Nulungan si Rian

b. Enemy At The Gate - Musuh Ngajedog di Pager

c. Die Hard - Teu Paeh-Paeh

d. Die Hard II - Can Paeh Keneh

e. Die Hard III With A Vengeance - Nya�an euy Hese Pisan Paehna

f. Bad Boys � budag bedegong

g. Rocky - Osok Neunggeulan Batur

h. Rain Man - Lalaki Cicing di Bogor

i. Here�s Something About Marry - Ari Ceu Meri Teh Kunaon?

j. Mission Impossible - Moal Bisa

k. Titanic - Tilelep

l. Paycheck - Nganjuk Heula

m. Reign of Fire - Beubeuleuman

n. Original Sin - Tara Ka Mesjid

o. Sleepless In Seattle - Cenghar Di Ciateul

p. Silence of The Lambs - Embe Pundung

q. Ghost - Jurig Kasep

r. Bad Boys - Budak Baong

s. Are We There Yet? - Lila Teuing Nepina Euy?

t. Home Alone - Tinggaleun

u. Casablanca - Mengkol Ti Sudirman

v. Gone In Sixty Seconds - Indit Siah Kaditu!

w. The Awakening - Hudang Sare

x. After The Sunset - Tereh Maghrib

hidupku terancam di Trotoar...

Akhir-akhir ini jalan raya punya penguasa baru, entah kapan dipilih, entah kapan kudeta. yang pasti merekalah penguasa jalanan ibukota saat ini. Saya tidak sedang membicarakan armada kopaja atau bajaj yang legendaris itu, tapi saya sedang bicara soal satu pasukan baru penjelajah jalanan kota. Lebih cepat, lebih gesit, lebih lincah. Tak satupun, saya ulangi, tak satupun orang waras yang mau cari masalah dengan pasukan ini. Ya kawan, jika armada motor yang ada di benak saudara, maka pikiran kita sama.

Kemarin waktu berangkat rapat, aku dan taxi yang kutumpangi berjalan santai menuju suatu gedung di jalan S.Parman, kebetulan kami lewat jalur Tomang. Pada dasarnya jalanan cukup ramai, tapi lancar. Taxi yang kutumpangi bisa berjalan cukup mulus melalui jalanan sambil melewati berbagai bangunan landmark Jakarta. Obrolan dengan pak supirpun mengalir akrab. Intinya pagi itu, perjalananku cukup menyenangkan.

Tapi suasana jadi runyam ketika tiba-tiba saja, dengan kecepatan tinggi satu armada motor melewati kami dari sisi kiri. Ya kawan, sisi kiri ! tidak tanggung-tanggung, bukan satu dua motor, bukan satu dua, tapi satu armada ! saya bisa bilang satu “armada” karena jumlahnya mungkin sekitar belasan. Saya tidak bisa menghitung dengan tepat jumlahnya. Yang pasti suasana makin runyam, ketika entah sejak kapan, tanpa disadari, sirkuit sentul sudah pindah ke hadapan kami. Puluhan motor berbagai tipe menyeruak tiba-tiba seolah “menginvasi” setiap sudut jalanan dan mulai beratraksi dengan saling salip satu sama lain. Spion kiri, kaca tengah kini sama krusialnya dengan spion kanan, karena hanya Tuhan dan para “road runners” itu saja yang tahu sisi mana yang akan dipakai untuk menyalip kami. Belum lepas pikiranku soal adu salip antara motor dengan taxi, aku dihadapkan pada kenyataan miris bahwa bangsaku memang memiliki mental pemberani, namun kadang salah tempat. Di depanku, aku melihat dengan jelas beberapa motor dengan tenang penuh syahdu hendak menyalip bus kopaja yang juga sedang hendak menyalip ke depan. Ya kawan ! balapan di mulai !

Harusnya orang Indonesia ada yang masuk GP500. bukan sekedar masuk tapi juara ! harus juara, berturut-turut ! Karena bus kopaja yang semenjak jaman Bang Ben dan Kang Ibing sudah merajai jalanan kota akhirnya harus “lengser turun tahta” dan mempersilahkan teknologi roda dua dengan mesin sistem TAK untuk menjadi pangeran jalanan. Bus kopaja tadi menyerah. Tak sanggup disalip berturut-turut oleh pasukan motor yang nekad minta ampun. Bagaimana tidak nekad? Banyak pengendara yang membawa keluarga. Satu motor bisa dinaiki oleh tiga sampai empat orang (ayah ibu dan dua anak). Parahnya seringkali para anak-anak tidak memakai helm. Tak sanggup ku bayangkan wajah-wajah tak berdosa itu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun memang karakter penguasa dimana-mana cenderung sama. Tak puas menguasai jalanan, kini mereka punya program baru : invasi trotoar, halte, halaman dan jembatan. Jika anda berjalan kaki sepanjang jalur medan merdeka timur ke arah tugu tani, maka anda akan berbagi trotoar dengan para motor. Ya sobat, entah kapan aturan lalu lintas berubah, tapi yang pasti inilah yang kuhadapi selama setahun ini. Kala pulang sore hari sambil berjalan kaki, seringkali motor tanpa merasa perlu membunyikan klason muncul dari belakangku dan dengan tenang menyalip kedepan. Kalau itu belum cukup, motor – motor itu melahap lajur trotoar dengan kecepatan tinggi. Kadang aku berfikir untuk mulai berjalan kaki di tengah jalan saja.

Lanjut ke kisahku yang tadi. Kami baru saja menikmati ketenangan karena armada motor tadi sudah berlalu. Obrolan tidak beranjak jauh dari hilangnya empati dan toleransi di jalan. Akupun bisa kembali menikmati bangunan-bangunan di Jakarta. Tapi mungkin pagi itu aku harus kembali terhenyak. Miris…., sepeda motor kini parkir di halte tunggu busway. Entah siapa yang menaruhnya disitu. Yang pasti mataku merekam pemandangan motor yang berjajar di atas halte busway. Rupanya aku memang kurang gaul, karena setelah momen menyedihkan itu, kini terhampar pemandangan dimana trotoar sudah berubah menjadi parkiran tidak resmi. Gawat.

Aku tidak lagi mencari pak polisi, tak sedikitpun hasrat sumpah serapah ingin kutumpahkan pada rekan sesama abdi negara itu. Seingatku dulu waktu jaman sekolah dasar, kami diajarkan bagaimana tata krama di jalanan. Setidaknya bagaimana saling bertoleransi di jalanan. Waktu itu sekolahku jauh dari kota dan yang sekolah disanapun bukan anak kota. Entah kenapa sekarang kita makin egois, tapi lamunanku beranjak jauh lagi dimana memang ibukota betul-betul menguji moral kita sebagai manusia. Lamunanku semakin jauh kepada adagium ribuan tahun lalu : “homo homini lupus”. Arti adagium ini sangat mengerikan : “manusia adalah serigala untuk manusia yang lain”. Di kota yang penuh tekanan ini, kita memang terkadang lupa bahwa kebutuhan kita bukan sekedar fisik semata, tapi juga jiwa. Saling empati akan membawa ketenangan dalam hidup. Dengan empati, kita akan terdorong untuk saling tolong-menolong. Moga-moga momen ramadhan ini bisa membukakan hati kita semua, moga-moga jiwa kita tidak di korupsi oleh “kekejaman” kota yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Amin. Dan sekarang aku kembali bekerja sambil mendengarkan lagu “every hurts” dari R.E.M

Apa itu cantik? siapa ya yang cantik?

sambil dengerin lagu "suara" dari hijau daun. harus aku akui, lagu ini enak untuk dibawa nulis (inspiring kitu lah). Aku melihat-lihat profil teman2ku dan teman2 mereka di FB. sekian menit kulihat banyak foto-foto disana. satu hal yang muncul di otakku. sekarang semua orang seolah berlomba untuk memunculkan dirinya sendiri. lihat saja, account FB mana yang sama? tiap account pastilah memiliki ciri sendiri. makin berwarna-warni ketika masuk ke FB para wanita. Minimal foto depannya tampil semodis mungkin atau semenarik mungkin. Masih kurang? tengok tagline atau shoutoutnya, pastilah ungkapan yang dibuat se"cewek" mungkin. minimal bercerita hidupnya hari itu.

Jadilah, ssetiap account FB menjadi ungkapan hati setiap pemiliknya. mau tahu yang diinginakn atau dirasakan seseorang? lihat account FBnya. mungkin kesimpulan tadi terlalu menggeneralisir. tapi minimal sekarang sudah berbalik dari jaman dulu. dahulu kala kita akan menyiram seseorang dengan kuah baso panas jika ada yang berani membuka buku harian kita. sekarang semua buku harian dibuka dengan sendirinya (harusnya aku membuka buku diary temanku sekarang... bukan dulu pas SMA).

Pertanyaan kedua yang muncul. setiap wanita ingin sekali menjadi cantik, minimal untuk dirinya sendiri. kecenderungan ini telah muncul sejak manusia ada. tak ada yang salah dengan itu. malah menurutku bagus. disaat para laki-laki muncul dengan stereotip yang kurang elok (diluar pria metroseksual). minimal ada para kaum wanita yang membuat dunia ini indah.

namun satu hal yang membuatku bertanya-tanya? apa itu cantik, mengapa teman-teman ku yang wanita sering menyiksa diri sendiri hanya untuk menjadi cantik? sering kuperhatikan mereka menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk sesuatu yang justru membuatku berkata dalam hati "kau aslinya sudah cantik, ga usah berlebihan lah..."

jujur, aku ini pria yang tidak terlalu pusing dengan kecantikan. yang penting manis dan itu sudah cukup. sekarang apa itu manis untuk seorang Firman? akupun tak tahu? he he

dalam hatiku, aku meyakini bahwa setiap orang dilahirkan dengan kecantikan dan "kegantengan" (maksa nihh) masing-masing. setiap orang itu unik dan tak berhak dinilai dengan keunikan orang lain. Itulah mengapa aku selalu meyakini bahwa tak satupun orang bisa menyamai diriku (narsisssss abisss he he). dan secara jujur pula aku katakan bahwa aku bisa melihat sisi cantik dari setiap wanita. terutama ketika dia sedang berinteraksi dengan orang yang disayangi. oleh karena itu pacar orang selalu terlihat cantik.

mau tahu pendapatku tentang saat-saat tercantik seorang wanita? bukan saat dia memakai pakaian atau make up yang terbaik,sama sekali tidak.

justru aku sangat senang melihat seorang wanita sedang mengendong atau memeluk bayinya. itulah saat seorang wanita terlihat sangat cantik. seorang dewi yang turun dari langit. bidadari yang rela turun ke dunia yang kering dan kejam ini untuk menyemaikan kasih sayang dan cinta pada seorang manusia lemah tidak berdaya. lihatlah adegan itu dan kau akan melihat surga. oleh karena itu sebagai penutup aku ingin katakan bahwa surga memang ada di telapak ibu..

i love you mom

Cerita Mobil Putihku

Pagi ini, aku berdiri (lagi) dipinggir jalan ini. Aku menunggu sebuah mobil putih. Penampilannya biasa saja, terkadang sedikit kotor. Jika dijual harganya tidak akan semahal citycar yang sekarang sedang digandrungi banyak anak muda. Tapi ada sesuatu yang membuat mobil ini ditunggu banyak orang. Jangan ragukan betapa ditunggunya kehadiran mobil ini.

Lihat saja dari ujung kabut di Cianjur sampai ramainya perbatasan Tol Ciawi. Di sepanjang jalur sejauh puluhan kilometer ini, berjajar ratusan manusia berbaris hampir rapi, menunggu penuh harap.

Tidak ada yang meragukan kredibilitas angkutan ini, jarak cianjur ke bogor bisa ditempuh dengan waktu hanya 1 jam lebih. Perkara lebihnya berapa hanya Tuhan yang tahu. Maklum terkadang ada-ada saja yang terjadi di jalan. Belum lagi jika muatan penumpang sudah penuh dari awal terminal. Maka waktu 1 jam tadi bisa “diringkas demi kenyamanan penumpang”. Jalan menjadi seolah milik sendiri.

Sebenarnya karakter ini tidak berlaku untuk semua pengemudi angkutan umum, biasanya supir2 muda yang baru kemarin sore pegang sim, atau mereka yang nafasnya bau alkohol. Akan terlihat jelas mana yang sudah senior dan mana yang masih belum bisa bedakan mana sirkuit sentul dan jalan raya.

Tapi begitulah anehnya orang indonesia, membenci tapi sekaligus merindu. Caci maki keluar tiada tara ketika ada mobil angkutan yang mengebut di jalan, belum lagi bumbu sumpah serapah dan khutbah berkepanjangan soal disiplin nasional. Tapi terkadang caci maki keluar juga ketika angkutan yang ditumpangi dinilai “lamban” dan “kurang tangkas” saat berkendara.

Kupikir-pikir, Harusnya bangsa ini punya banyak pembalap tangguh, minimal bisa unjuk gigi di lintasan monaco sana. Sebagai contoh, siapa yang meragukan kelihaian supir bajaj? Dengan mesin versi serba tambal sulam (dimana aku curiga onderdil penggantinya mencakup peralatan dapur dan mesin foto kopi), dia bisa meliuk-liuk di jalanan Jakarta.

Gagahnya bajaj ini semakin mentereng ketika semua orang mahfum bahwa Hanya Allah dan sang supir saja yang tahu kapan pedal rem akan diinjak. Belum lagi kalau kita bicara soal angkutan lain. Diluar sana, siang dan malam, ada begitu banyak pembalap potensial yang mengasah kemampuannya sambil mencari nafkah. Sehingga aku yakin harusnya Bapak Menpora bisa mengoptimalkan anggaran pembinaan untuk soal balap membalap. Tinggal buka audisi untuk jadi pembalap, adakan kerja sama dengan stasiun TV, aku yakin juara dunia sebentar lagi ada tangan putra-putri Indonesia.

Kembali ke soal angkutan tadi. Sebenarnya mobil ini punya nama asli yang kurang enak diucapkan : LX-300. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya produsen mobil ini memberi nama yang kurang elok macam LX-300. Demikianlah, ternyata aku tidak sendiri, seantero penghuni tatar pasundan region cianjur-bogor, bersepakat mengganti nama yang tampaknya tidak pernah “diselamati” ini dengan nama baru yang lebih gagah.

Akhirnya, tanpa sidang yang berlarut-larut, tanpa penolakan, tanpa istilah deadlock, tanpa ada aksi walk out, dengan konsensus tanpa biaya, kami rakyat cianjur-bogor sepakat memberi nama yang seindah melodi pagi, semerdu embun, sejernih awan, dan segagah langit ! :

Nama barunya adalah : Kol Mini.

Jika naik dari cisarua, cukup bayar Rp. 5000 (catatan : harga tahun 2008 dan jika tidak ada fluktuasi harga BBM) anda akan diantarkan sampai di depan terminal Baranang Siang. Saran saya bayarlah dengan uang pas. Bukan karena uang kembalian akan dipotong, tapi untuk meringankan beban sopir dan kernet jika ada penumpang yang membayar dengan uang “berwarna biru dan merah”.

Harap diingat, no pain no gain. Ada kompensasi yang harus dibayar untuk semua keunggulan ini. Terima kasih kepada sistem transportasi yang tumpang tindih, dibalik jumlah penduduk indonesia yang semakin banyak, operator transportasi justru mengeluh soal menurunnya omset bisnis mereka.

Seiring meningkatnya jumlah kendaraan di jalan, baik pribadi maupun umum, jumlah penumpang yang di dapat per trip (para supir menyebutnya per rit) menjadi semakin sedikit. Sehingga para supir dituntut untuk “kreatif” dalam rangka memenuhi target uang setoran dan uang yang akan dibawa pulang ke rumah.

Disinilah hukum “optimalisasi ruang dan waktu” sangat penting untuk diterapkan. Optimalisasi ruang berarti memuat sebanyak mungkin penumpang setiap trip. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jam-jam sepi di jalan. Kaidah filsafat optimalisasi ruang ini sangatlah pas untuk menjelaskan fenomena berjubelnya penumpang angkutan umum (bis, metromini, dan untuk kasus kita, termasuk kol mini) pada jam kantor di perkotaan.

Jika assesment dari kernet menyimpulkan bahwa masih ada “ruang kosong” untuk tambahan penumpang, maka meskipun kondisi penumpang sudah layak masuk katagori penyiksaan jaman nippon, maka mau tidak mau, penumpang harus merelakan ruang untuk penumpang lain masuk. Saran saya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, masukan barang berharga kedalam tas, dan siapkan tabung oksigen mini.

Kaidah optimalisasi waktu hanya berarti dua hal, mengemudi secepat mungkin agar penumpang tidak keburu diambil angkutan lain dan secepat mungkin sampai ke tujuan agar semakin banyak trip yang bisa di tempuh dalam satu hari. Kalau tidak salah, para ahli bahasa indonesia sudah bersepakat untuk menamai perilaku ini dengan istilah “ugal-ugalan”.

Demikianlah saudara-saudara, “kisah kasih benci tapi rindu” yang harus dihadapi semua orang setiap hari. Aku yakin dalam dalam hati, tak seorangpun baik para sopir atau penumpang yang ingin ini terjadi. Siapa yang mau terjebak stress setiap hari? Alih-alih sampai ke tempat kerja dengan semangat penuh produktifitas, mungkin yang muncul adalah gairah praktik tinju ala mike tyson.

Harusnya ada penelitian terkait efek kemacetan dan ugal-ugalan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, katakanlah “hubungan kemacetan di jalan dengan tingkat perceraian keluarga” atau “studi tingkat kekerasan dengan semrawutnya lalu lintas”, bisa juga “Berapa Milyar rupiah yang hilang di jalan raya?”. Selain sosial ekonomi, kemacetan juga bisa dijadikan bahan kajian dalam ilmu-ilmu kejiwaan, sebagai contoh “tingkat stress masyarakat akibat kemacetan dalam konteks kenaikan angka pembunuhan dan bunuh diri”, mungkin juga “studi penurunan toleransi masyarakat sebagai implikasi fenomena bertransportasi”.

Saya yakin, penelitian-penelitian ini sangatlah penting untuk segera dilakukan. Maka sudah seharusnya pula pihak pemda, pemkot atau pemprov mulai mengkaji ulang sistem transportasi yang ada sekarang. Sampai saat itu tiba saya akan tetap naik kol mini.

Jalayalah kol miniku !



Nb1: terima kasih setulusnya untuk para supir dan kernet angkutan bogor-cianjur. Semoga Allah memberkati dan melindungi kita semua.

Nb2: untuk pemda kab.Bogor, jam di persimpangan masuk tol gadog (dekat pos polisi) mati semenjak setahun yang lalu

Jumat, 08 Oktober 2010

Jambi oh Jambi....

Aku beruntung diberi kesempatan untuk pergi ke kota Jambi. kunjungan kali ini adalah untuk melaksanakan temu UMKM, KKMB dan Perbankan. KKMB adalah singkatan dari Konsultan Keuangan Mitra Bank. Untuk anda yang bingung apa maksud KKMB ini, bayangkan saja safir senduk atau aidil akbar, mirip-mirip seperti merekalah kerjaannya. bedanya, jika dua nama tadi urusannya dengan bisnis menengah ke atas. nah KKMB ini kliennya UMKM.

Program KKMB ini sendiri sejarahnya sudah cukup lama.tapi mungkin aku ceritakan nanti sajah yaa, karena aku sekarang ingin bercerita tentang Kota Jambi. Kota ini merupakan ibukota dari provinsi Jambi (mirip2 prov gorontalo yang nama ibukotanya gorontalo juga). seperti semua daerah di nusantara, Kota ini memiliki sebuah motto yaitu "Jambi Beradat". menurut situsnya (http://www.kotajambi.go.id) Jambi beradat ini artinya bersih, aman dan tertib.

soal urusan bersih, boleh dibilang kota jambi termasuk bersih. Minimal disepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel, tidak terlihat "pemanis pemandangan" berupa tumpukan sampah di tepi-tepi jalan. Pendapatku ini harus dicek ulang karena aku tidak sempat keliling seluruh kota untuk melihat suasana kebersihannya(secara aku bukan dinas kebersihan dan bukan juga panitia lomba adipura)

setelah semua tugas dan pekerjaan selesai, aku sebenarnya berniat untuk melihat-lihat suasana kota. Rencananya cukup sederhana : (1) cari ojek, (2) sewa ojek untuk mengantar keliling kota (3) keliling kota (4) belanja kalau memang ada yang unik (5) pulang. Biasanya rencana ini selalu berhasil, nanti aku akan ceritakan pengalamanku jalan-jalan di kota-kota lain dengan metode diatas. Selepas maghrib, berangkatlah aku ke luar hotel.

setelah tanya ini itu ke petugas hotel, aku memutuskan dua hal : (1) belanja pempek khas kota jambi, (2) nongkrong di dekat mall Angso duo yang menurut petugas hotel adalah pusat keramaian kota. walaupun sudah ditawari untuk dicarikan taksi tapi tetap saja aku memilih untuk mencari ojek. Sebenarnya aku mancari becak motor yang umum di daerah sumatera, bagiku ada kesan tersendiri setiap naik moda transportasi yang satu ini.

terkadang terlalu percaya diri memang menyesatkan, begitulah jadinya diriku ini. mati gaya di pinggir jalan, sendirian tak tentu arah. ojek yang dicari tiada, angkutan umum entah kemana, jangan tanya taxi, karena sampai kakiku lemas berdiri, tak satupun lewat. terselip dalam benakku bahwa bisa jadi di jambi ini taxi dan harimau sudah masuk spesies yang terancam kepunahan

setelah dipikir-pikir, ternyata lokasi aku menginap memang dipinggir kota, walapun itungannya dekat dengan pusat kota. jadinya yaa agak sepi. dan menurutku agak seram karena lumayan gelap dan sepi.

karena keburu lapar ya sudah makan dulu, dan seperti seharusnya ketika jalan-jalan kemanapun, kita sebaiknya makan makanan khas daerah tersebut. dan jadilah aku makan pecel ayam... hehehe (sumpah disepanjang jalan ga ada warung jambi, yang ada warung padang)

alhamdulillah selepas makan ketemu juga dengan ojek yang dengan baik hati mau mengantar saya membeli pempek. sebagai informasi, ada beberapa merk pempek yang terkenal dijambi antara lain merk Selamet, Ahiong, dan Selerakoe. banyak orang bilang kalau pempek di jambi ini lebih enak daripada yang ada di palembang. tapi saya bau bawang putihnya terlalu kuat, sehingga agak merusak mood. secara umum rasa pempeknya sendiri dan cuka cukup enak.

sayang saya tidak bisa terlalu banyak berjalan-jalan di Jambi ini, berhubung memang ke sini bukan untuk jalan-jalan. oleh karena itu untuk juragan-juragan yang mau melihat objek-objek menarik di jambi silahkan main ke sini, kaskuser Saratoga yang kampungnya asli di Jambi sudah dengan baik hati membagikan keindahan dan objek objek di jambi

okeh sekian catatan amatiran inih, sampai ketemu di catatan lain

Kamis, 07 Oktober 2010

Ramadhan tanpa wanita

catatan : sebenarnya ramadan sudah usai, tapi bulan itu terlalu sayang jika dianggap selesai... aku menulis ini pada hari hari terakhir ramadan dan menurut ku menjadi salah satu renungan yang  bagus untuk kita semua.. khusus mereka yang mengaku laki-laki. silahkan gan lanjutkan :

Demikianlah saudara, malam tadi selepas pukul 10 aku browsing di internet untuk mencari data untuk penunjang tulisanku. Ceritanya sih mau nulis opini soal mengapa negara kita tercinta akhir-akhir ini selalu menjadi bulan-bulanan negara lain. Entah singapura, malaysia, thailand, Philippina, brunei, Amerika, Australia, China (loh koq jadi semuanya ya?).

Sedihnya, kebanyakan kita hanya bisa ngurut dada (yang sebetulnya sudah berkerut karena kebanyakan diurut). Berhubung bukan presiden, tidak bisa membuat kebijakan. Karena juga bukan anggota dewan, maka tidak bisa menekan presiden untuk membuat kebijakan. Makanya aku hanya bisa menulis opini dengan harapan akan memberikan pencerahan buat teman-teman sesama orang Indonesia.

Karena tidak punya sambungan internet di kost, mainlah aku ke warnet terdekat. Lumayan, selain bisa dapat data, juga bisa baca opini teman-teman lain. Data di tangan, ide tulisan di kepala. Pukul satu malam melangkahlah diriku kembali ke kost. Kalau sudah begini, biasanya lebih enak langsung menulis, karena kepala masih panas dengan ide-ide. Tapi berhubung waktu sahur sebentar lagi, aku putuskan untuk istirahat sebentar.

Sesaat sebelum membuka pintu gerbang, samar-samar terdengar bunyi-bunyi aneh. Seperti sedang ada yang memasak. Mungkin teman sebelah kamar pikirku. Seperti umumnya kost para kaum adam, ada saja penghuni yang pola hidupnya mirip-mirip batman. Aku menduga yang sedang memasak adalah temanku yang membuat mie instan. Ritualnya memasak mie instan akan dilanjutkan dengan ritual mencari siaran sepak bola. Andaikan tidak ada siaran sepak bola, dia akan menghabiskan malamnya dengan menonton sinetron remaja ditemani semangkuk mie instan dan segelas susu hangat.

Kost sudah gelap gulita saat aku masuk. Rasa penasaran membuatku tidak langsung masuk ke kamar, tapi langsung menuju dapur. Betul dugaanku, memang ada yang sedang memasak. Tapi rupa-rupanya tebakanku salah, yang sedang memasak bukan teman yang tadi kuceritakan. Aku bisa langsung menyimpulkan karena sosok itu terlihat sibuk memasak sesuatu yang jelas-jelas bukan mie instan. Setahuku temanku itu tak memiliki secuil bakat pun dalam perkara masak-memasak, persis seperti diriku.
Ketika mendekati sosok tersebut, aku baru sadar bahwa itu ibu kost yang sedang memasak menu sahur untuk kami semua. Untuk informasi, di tempatku numpang hidup ini, Ibu kost dengan sangat baik hati memasakan menu sahur untuk kami semua selama ramadhan. Kami hanya perlu membantu dengan menyediakan anggarannya saja. Kusapa sebentar sang ibu kost, setelah ngobrol sejenak aku pamit undur diri kembali ke kamar.

Terus terang aku tidak bisa langsung tidur setelah kejadian tadi. Melihat kenyataan bahwa ibu kost sudah harus bangun jam satu malam membuatku ingat pada ibuku di rumah. Tiba-tiba aku berfikir, dua puluh tahun lebih aku jadi anaknya tapi tak pernah aku tahu jam berapa Ibu membuat makanan untuk sahur kami sekeluarga. Yang aku tahu, tiba-tiba saja, makanan sudah tersedia. Tidak ada kekhawatiran soal kualitas dan keamanan makanan, karena sepenuhnya dibuat dengan cinta.

Pikiranku menjadi dipenuhi bayang-bayang apa jadinya ramadhan ini tanpa kerelaan para wanita untuk membuat menu sahur untuk orang-orang yang mereka sayangi. Entah Ibu, Istri, Kakak, Nenek atau Ibu Kost. Padahal siang harinya mereka harus tetap beraktivitas seperti biasa. Belum lagi kesibukan di sore hari untuk menyiapkan buka puasa. Ini belum ditambah tarawih yang tentu menguras energi.

Melupakan istirahat di malam hari setelah beraktivitas seharian merupakan sebuah pengorbanan yang menurutku harus dibayar imbalan setimpal. Menurut pikiran laki-lakiku, siang adalah waktu untuk bekerja dan malam adalah waktu untuk istirahat. Tapi ternyata tidak begitu untuk para wanita, selain dituntut untuk tetap bekerja di siang hari, waktu istirahatnya pun harus didiskon, semuanya demi orang lain tulus tanpa imbalan. Kalau sudah begini, malu rasanya mengklaim diri sebagai “pekerja keras”. Pantas saja surga ada di telapak kaki para wanita.

Oleh karena itu, saya selaku laki-laki menghimbau kepada semua kaum adam di dunia ini, terutama yang menjalankan ibadah puasa. Hargailah masakan apapun yang tersaji di meja kala sahur, maupun berbuka. Abaikan rasanya jika terlalu asin, manis ataupun tak karuan karena seringkali para wanita harus memasak sambil berpuasa sehingga tidak memungkinkan untuk mencicipi rasanya. Pura-pura tidak tahulah ketika ada lauk yang bentuknya tak jelas atau mungkin sedikit gosong. Karena para wanita harus membuatnya dibawah tekanan rasa lelah dan kantuk. Apapun hasilnya, katakanlah bahwa masakan yang mereka buat adalah terenak sepanjang sejarah dan semua kekurangan disana sini adalah dosa para pedagang yang menjual bahan makanan yang tak jelas kualitasnya.

Habiskanlah apapun yang tersaji di meja dan akhirilah dengan terima kasih dan senyuman. Karena seenak apapun masakan di restoran, tak akan pernah mengalahkan masakan yang dibuat dengan kasih sayang sepenuh hati. Akan lebih baik lagi jika menyempatkan diri untuk membantu memasak, dengan begitu kita akan tahu kesusahan macam apa yang harus mereka lalui.

Ramadhan adalah momen yang pas untuk mulai berbagi kebahagiaan. Karena kebahagiaan harus tetap dibagi setelahnya. Ramadhan juga adalah momen pendidikan untuk lebih menghargai apa yang telah kita miliki. Dengan demikian, menghargai dan menyenangkan setulusnya para wanita disekeliling kita bisa jadi titik awal yang baik. Aku belum memiliki seseorang yang akan memasakkan menu sahur untukku, tapi aku tahu apa yang nanti akan aku katakan padanya, mungkin seperti ini : “Cinta, masakin gurame pesmol ya?...nanti Aa bantu deeh”
hm hm hmmm =)
NB : Cintaku setulusnya untuk ibu di rumah dan terima kasihku sebesar-besarnya untuk ibu kost.