Tampilkan postingan dengan label sosial kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

MUSHOLA DAN TOILET (ke arah sini)

Berapa kali pemandangan ini kita lihat? satu kali, dua kali? Tanda penunjuk arah ini ada dimana-mana, di terminal, pusat perbelanjaan, bandara, dan pusat keramaian lain di daerah berpenduduk mayoritas muslim. Tanda penunjuk arah ini menjadi demikian lumrah sehingga tak banyak orang (atau mungkin tidak ada?) yang memikirkannya lebih dalam. Aktifitas orang-orang memang demikian menyita waktu dan perhatian, sehingga merenung masuk daftar terakhir hal yang ingin dikerjakan. Orang banyak lalu lalang di depan papan ini dan menerimanya begitu saja. Kalaupun beberapa menaruh perhatian, pilihannya tinggal dua saja : ingin ke mushola, atau toilet. Maaf, ternyata ada pilihan ke tiga, pergi kedua-duanya. 

Mushola dan Toilet, berapa kali kita lihat papan penunjuk arah yang menyatakan bahwa dua tempat yang derajatnya terpisah antara bumi dan langit ini ternyata di berada di lokasi yang sama (oke saya ralat, biasanya bertetangga). Dan memang seperti demikian adanya, umumnya keduanya berdekatan di lokasi sisa yang tersedia seadanya. Agar tidak melebar ke mana-mana, mari kita bahas kebiasaan yang terjadi di pusat perbelanjaan, atau kita sebut saja Mall.

Rabu, 30 Januari 2013

Hubungan Wanda, Ami dan Anggelina

Sebenarnya antara para wanita yang sekarang terkenal ini tidak ada hubungan langsung. Wanda Hamidah (yang kini telah terbukti bersih narkoba) dan Amy Qarnita (ibunda Raffi) menjadi buah bibir karena kejadian penggerebakan yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional. Anggelina menjadi media darling karena kasus korupsi di Hambalang.

Satu-satunya yang menjadi perhatian saya adalah kacamata yang mereka kenakan ketika diliput oleh media. Mereka semua pada momen-momen tertentu, mengenakan kacamata frame kotak berwarna gelap. Entah apa alasannya, kacamata kotak memang meningkatkan penampilan para wanita ini.

Kacamata memang bisa mengangkat imej pemakainya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, orang-orang yang memakai kacamata saat wawancara kerja, lebih banyak diterima kerja. Menurut  College of Optometrists study, sepertiga responden di Inggris berpikir, kacamata membuat seseorang tampak profesional dan 43 persen berpikir kacamata membuat seseorang tampak cerdas.

Untuk para pria, kacamata konon dapat menambah daya tarik mereka. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Stockholm, wanita akan lebih tertarik pada pria yang menggunakan kacamata. Seperti pemikiran orang pada umumnya, kacamata akan membuat pria tampak cerdas. Wanita merasa bahwa pria terlihat lebih mengesankan dan mudah diajak berkomunikasi. Dimulai oleh Anggie, sekarang Wanda... kaca mata kotak ini tampaknya akan masih lama bertahan di panggung media.

Anggelina Sondakh (surabayasore.com)

Amy Qarnita (Detik.com)

  Wanda Hamidah

  Wanda Hamidah

 Wanda Hamidah

Wanda Hamidah



Kamis, 24 Januari 2013

Hati-hati dengan iklan yang BEJO.

Awalnya tidak ada yang aneh ketika sebuah perusahaan membuat iklan obat masuk angin dengan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo". Memang sih, Bejo bukan kata yang umum, terutama bagi saya yang orang Sunda.

Kata "Bejo" yang berarti "beruntung" hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata "bejo", sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.

Alasan Pemilihan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo" sangat gampang ditebak. Jargon ini dipilih sebagai respon iklan produk pesaing yang mengusung jargon "Orang pintar ya Minum Tol*k Angin". Iklan ini punya dua target. Pertama, iklan ini ingin menggiring alam bawah sadar konsumen bahwa ketika masuk angin, cara cerdas dan pintar untuk mengobatinya adalah dengan minum Tol*k Angin.

Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang  terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga "dipilih oleh kalangan pintar" ketika mereka masuk angin.

Iklan "Orang Pintar" menghajar produk-produk pesaing di tempat yang tepat. Karena sebagus apapun produk anda, "orang pintar" tidak minum produk tersebut. Lagipula, ketika masuk angin, cara "pintar" untuk mengatasinya adalah minum Tol*k Angin. 

Jumat, 21 September 2012

Mari pasang nyawa untuk Foke, Mari mati-matian membela Jokowi,


             Minggu ini denyut kota Jakarta, berdetak keras. Pasalnya, ada pemilihan kepala kampung baru yang akan memimpin Jakarta selama lima tahun kedepan (setidaknya itu bunyi pengumuman di KPU setempat). Mereka yang berKTP jakarta otomatis (seharusnya) memiliki hak untuk turut serta dalam urusan ini. biarpun kontribusinya tak lebih dari melubangi kertas suara. Justru kertas-kertas berlubang inilah yang akan menentukan apakah Pak Kumis atau Mas Kotak-kotak yang duduk di kursi empuk gubernur Jakarta.

                Saya tak tertarik untuk membahas keduanya. Selain saya bukan warga Jakarta, sudah terlalu banyak diskusi dan debat kusir soal dua orang ini. Saya justru tertarik dengan adu silat antara para pendukung masing masing cagub. Mengapa? karena meski tidak mendapatkan keuntungan ekonomi atau sosial secara langsung, kita bisa melihat begitu banyak pendukung masing-masing cagub yang seolah "berani mati" atau setidaknya "pasang badan" untuk membela jagonya. 

Senin, 30 Juli 2012

Acara Sahur (itu) Terburuk Tak Layak Tonton!



Seorang pria mendorong temannya sampai jatuh. Diiringi tertawaan dari teman-temannya yang lain. Seorang yang lain mengejek temannya, terkadang membuka aib, lagi-lagi diikuti gelak tawa. Pada momen lain, komunikasi diantara mereka hanya berisi saling melecehkan atau kekerasan. Alasannya? Agar orang yang melihat tertawa. Demikianlah, isi seluruh acara sahur itu tak lebih dari kekerasan, pelecehan, rasisme, membuka aib, penghinaan yang ternyata “boleh” ditertawakan. Memang pada akhirnya (menit-menit injury time) datang seorang yang berpeci, berjubah, dan bersorban (yang konon seorang alim ulama) untuk sekedar membaca khotbah-khotbah yang sudah tercetak dalam naskah. Nilai yang bisa diambil dari acara ini? Menertawakan penderitaan orang lain adalah baik. Tertawalah sekarang.

Di chanel lain, isinya berjubel dengan kuis-kuis berhadiah. Lengkap dengan sponsor disana sini. Isinya adalah “dakwah” tentang provider telekomunikasi yang perlu anda beli, sirup yang harus anda minum, cemilan yang harus disajikan untuk berbuka, atau pakaian yang perlu diborong.  Ada Iklan yang menjual handphone dengan bonus software kitab suci. Pesan iklan itu? Tingkatkan iman dengan membeli handphone, sungguh mengerikan. Ramadhan adalah tentang berbagi, namun acara ini menantang langsung dengan berteriak lantang : “BELI dan MILIKI, karena tanpa produk yang kami tayangkan, Idul Fitri Kalian akan BASI!!!”. Nilai yang bisa diambil dari acara ini? Konsumerisme adalah jalan menuju ampunan Tuhan.

Selasa, 27 Maret 2012

BERSUARALAH, SAMPAIKANLAH, BUKAN HANCURKAN

-->

Perjuangan itu selalu pahit. Siang itu di sebuah bukit yang gersang, seorang laki-laki menyeru kepada masyarakat di kotanya untuk menuju jalan kebenaran. Sendirian, laki-laki itu harus menghadapi kaum yang telah terjangkit kapitalisme, premanisme, rasisme, dan hedonisme yang akut.

Apa yang dihadapi Laki-laki itu bukanlah sesuatu yang main-main. Wahyu Kebenaran yang hendak disampaikannya berhadapan langsung dengan kepentingan para tokoh dan pemuka kaum yang menginginkan agar status quo tetap dipertahankan. Para tokoh dan pemuka khawatir bahwa dakwah yang disampaikannya akan merusak tatanan sosial yang selama ini menguntungkan mereka. Demikianlah, laki-laki tadi kini ibarat menggenggam bara api. 

Sang Laki-laki tadi begitu resah melihat kemerosotan yang terjadi di kota kelahirannya itu. Masyarakat di kotanya telah hidup terlalu lama dalam bayangan kegelapan. Kegelapan yang dipenuhi perang antar suku, kekerasan, penistaan wanita, perjudian, kebodohan, pembunuhan anak-anak dan perbudakan. Hatinya berteriak, jiwanya gundah.

Setelah sekian lama berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Muhammad, yang kelak akan memimpin sebuah pergerakan yang menggoncang dunia, memutuskan untuk menyuarakan kebenaran di hadapan kaumnya. Bukit itu, Shafa, menjadi saksi kebulatan tekadnya. Kebenaran haruslah disampaikan dengan terang. Kebenaran haruslah diteriakan.

Sejarah kemudian mencatat dahsyatnya penentangan yang menimpa Muhammad dan kaum Muslim. Dengan jumlah yang tidak seberapa, kaum muslim harus dihadapkan pada boikot ekonomi, terror sosial, pengusiran, penyiksaan, bahkan pembunuhan. 

Apakah semua kekejian tersebut merubah caranya menyampaikan kebenaran? Tidak. Muhammad Sang Rasul tetap santun pada tetangga Quraisy yang terang-terangan menginginkan nyawanya. Beliau tetap berlaku adil kepada Yahudi yang secara frontal menantang dakwahnya. Baginya, dakwah hanyalah bisa disampaikan melalui kebaikan dan kesantunan. Kebenaran tidak bisa disebarkan melalui ujung pedang dan laras senapan. Kebenaran hanya bisa bertempat dihati yang lapang.

Sejarah mencatat, manusia melupakan. 14 abad yang lalu Rasulullah mencontohkan secara sempurna bagaimana sebuah pesan harus disampaikan dan perjuangan dilakukan. 14 abad kemudian, orang melupakan. Kini pesan disampaikan melalui aksi aksi anarkis. Perjuangan atas nama rakyat disebarkan dengan kepulan asap, lemparan batu, ayunan kayu dan barang-barang yang dibakar. 

Sore kemarin aku menjadi saksi bagaimana ribuan orang di seluruh Indonesia melupakan kebijakan sang Rasul. Suara hati rakyat untuk menolak kenaikan harga BBM diterjemahkan dengan mengorbankan rakyat itu sendiri. Di satu daerah, mahasiswa bentrok dengan warga karena para “aktivis” menjarah sebuah rumah makan dan merusak harta warga. Didaerah lain, (lagi-lagi) mahasiswa mencegat truk-truk pengangkut LPG untuk kemudian di jarah. Robin hood jadi tameng mereka. Para aktivis karbit tersebut mengira bahwa dengan merampok LPG milik rakyat dan membaginya kepada rakyat lain, maka mereka telah lengkap menjadi seorang “aktivis”. Label aktivis juga menjadi tameng untuk menghalalkan mahasiswa untuk mencegat kendaraan publik untuk dirusak. Polisi seolah menjadi warga kelas dua yang halal dilempari batu, sementara pendemo menjadi orang suci yang bebas dari kesalahan. Lagi-lagi sekedar karena label aktivis. Kalau sudah begini, sungguhlah pantas jika masyarakat menurunkan derajat “perjuangan” para aktivis menjadi sekedar pembuat onar dan kerusuhan. 

Terima kasih kepada “aktivis” yang menyuarakan suara hari rakyat dengan begini primitif, rakyat pun jengah. Aksi demo berjalan sambil lalu. Masyarakat menanti usai para pendemo menggelar aksi, semata-mata karena demonstrasi hanya memacetkan lalu lintas. Aktivis tak lagi dinanti. Para sopir bajaj dan taxi bermunajat agar mereka tak lagi memblokir jalan. Warga mengusir mereka. Aktivis menjadi makhluk asing untuk rakyat yang konon dibelanya. 

Aku ingat ketika disana bersama para sahabat meneriakan aspirasi menolak kedatangan penjajah George W Bush ke tanah air. Amerika kala itu aktif menyebarkan perang ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, Bush harus pergi jauh-jauh. Para sahabat melakukan aksi dengan merapatkan diri menjadi pagar betis menjaga istana bogor. Kala itu hujan menyirami dan para sahabat tetap disana, diam tak bergerak. Diselingi sejenak istirahat dan munajat kepada sang Khalik, aku ingat bahwa kami berbincang akrab dengan para polisi. Terkadang saling menggoda. 

Dua sisi yang bersebarangan, masing-masing melakukan apa yang diyakini. Kami meyakini bahwa Bush adalah Hitler yang bangkit kembali. Para petugas meyakini bahwa keamanan dan ketertiban haruslah ditegakkan. Tak ada ban yang dibakar, tak ada batu yang dilempar. Kami hanya ingin meneriakan suara hati. Syukurlah para polisi mengerti. Di akhir sore, kami semua pulang, karena hidup bukan sekedar aksi-aksi jalanan. Cukuplah Bush tahu, dirinya tak diinginkan disini.
14 abad yang lalu. Rasulullah membebaskan Mekkah dari cengkeram kegelapan dengan dakwah yang santun dan tindakan nyata. Beliau menjadi bagian dari solusi dan menjadi motor dari solusi itu sendiri. Kemarin, demonstrasi menolak kenaikan harga BBM berubah ricuh, puluhan orang ditangkap dan jatuh korban luka-luka. Ironis, masyarakat tak merasa dibela. Sore kemarin para sahabat lebih memilih pasrah dan berharap cemas menunggu pulang.

Minggu, 11 Maret 2012

Dinginnya (masyarakat) Perkotaan

-->
Malam tadi, di satu gerbong kereta yang melaju dari Bogor menuju Jakarta, saya terduduk sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, karena di gerbong itu sebenarnya ramai. Banyak orang lain di gerbong ini, sama-sama berbagi ruang dan udara. Saya mengatakan sendiri karena memang tiada satupun yang dikenal atau menemani. Ironis memang, sendirian dalam keramaian. Lebih ironis lagi, perasaan yang sama seolah menjangkiti seisi gerbong. Entah karena kecapaian atau memang tiada teman, sebagian besar hanya diam termenung.

Berhubung tak ada teman, Saya menghabiskan waktu dengan membaca koran.  Lagipula, tampaknya sebagian besar penumpang memang ingin segera tiba di tujuan masing-masing, sehingga berbincang dengan penumpang lain tampaknya bukan pilihan. Akhirnya, yang tersisa adalah Koran sore di tangan. Maka demikianlah cara berlalunya perjalanan itu. Sepanjang jalan, sepanjang rel, hanya aku dan koranku.

Sebetulnya  tak enak rasanya harus kembali cepat ke Kota bising ini. Sesungguhnya saya ingin tetap meluangkan waktu di rumah. Tapi pekerjaan adalah pekerjaan, dan esoknya aku harus bekerja. Kota ini ramai memang, tapi cenderung bising. Penuh dengan teriakan kemarahan dan kejengkelan. Sesak dengan keluhan dan ketidaksabaran.

Kota ini sungguh bising, mirip dengan dengungan nyamuk dengan soundsystem konser dangdut. Nyaring menyakitkan telinga, menguras kebahagiaan. Ada yang menghias hari dengan mengumpat soal kemacetan. Ada yang mengisi udara dengan makian soal kenaikan harga harga. Uniknya, sebagian besar dengungan ini berhenti di awan awan. Tak ada yang berubah sesudahnya. Paling-paling berubah bentuk, menjadi umpatan dan makian dengan topik yang berbeda.  
kau tahu? Sebenarnya keramaian dan kebisingan adalah dua hal yang jauh berbeda. Yang pertama menghangatkan jiwa, minimal berhasil memaksa kita tersenyum. Berkumpulnya keluarga adalah keramaian. Musyawarah warga adalah keramaian. Perayaan hari raya adalah keramaian. Tapi demonstrasi memblokir jalan bukanlah keramaian. Itu adalah kebisingan.

Kebisingan tak lebih dari suara-suara menyakitkan yang menghisap kebahagian langsung dari dasar hati. Rasa sakit adalah yang kurasakan ketika bising PSSI dan KPSI. Rasa sesak juga yang terjadi ketika orang berbising ria soal kasus korupsi. Bising hanya menghasilkan bunyi mengerikan, tidak pernah menyelesaikan masalah. Makanya aku yakin betul kebisingan adalah inspirasi JK Rowling ketika menciptakan sosok dementor.

Koranku akhirnya ku lipat, selesai sudah nasibnya. Entah akan ku buang atau ku simpan. Sebagian besar beritanya tak lebih dari kejahatan, kecurangan dan serangkaian berita tragis. Kalaupun ada berita yang baik, itu akan ditempatkan di bagian sisa. Media zaman sekarang memang mengerikan. Membacanya hanya akan menguras rasa optimis kita dan menggantinya dengan kemarahan dan kebencian. Aku adalah salah satu korbannya. Media berhasil mencuci otakku dan membuatku membenci banyak hal.

Aku membenci ketika sekelompok orang menjadi semakin kaya dimana sisanya semakin miskin. Aku membenci ketika  presiden tidak bertindak sesuai kehendakku. Aku membenci ketika kebijakan dan hukum cenderung berpihak pada yang punya duit. Aku membenci para artis yang kawin cerai. Aku membenci sandal crocs. Aku membenci justin beiber. Aku membenci Film twilight. Aku berubah menjadi monster pembenci.

itulah mengapa akhir-akhir ini aku tidak terlalu percaya media. Statusnya sekarang kusamakan dengan tukang gosip dan penyebar berita “bisik-bisik”. Lebih baik aku membaca buku. Buku tidak memaksaku percaya apa yang ditulis didalamnya. Tapi akhir akhir ini banyak buku dadakan.  Judulnya beda-beda, covernya selalu sama : ADA WAJAH ORANG TERSENYUM, BIASANYA PENULIS BUKU TERSEBUT. Mungkin itu kebijakan mendiknas untuk mencegah plagiat. Ide yang cukup bagus tampaknya.

Bosan melamun, akhirnya aku iseng mengamati orang-orang. Gerbong kereta adalah tempat yang menarik. Mungkin disinilah kita bisa menemui keragaman manusia selain di pasar. Didepanku ada gadis yang cukup manis, wajahnya jelas terlihat gusar, atau setidaknya tidak tenang. Tak salah lagi, dia sedang gundah. Sedikit sedikit dia membetulkan posisi duduknya. Seluruh bawaannya kini berfungsi sebagai komplementer pakaian dalam rangka menutupi apa yang mungkin sudah tergambar dalam benak para pria-pria dalam gerbong. Ada baiknya dia berhenti memakai rok mini ketika bepergian, siapa tahu dia tak perlu lagi hidup dijangkiti perasaan was was.

Ada lagi seorang pria di kejauhan sana. Tak terlalu tua, tapi tak muda lagi. Pria ini sedang dalam masa puncaknya. Hanya perlu sekilas pandang dan langsung terlihat bahwa pria ini pastilah menduduki posisi yang cukup bagus ditempatnya bekerja. Kubayangkan sepanjang hari dia keberja keras, dan baru pulang ketika matahari selesai shift kerja dan digantikan bulan. Itulah mengapa dia tertidur sangat pulas. Nyaman di kursi duduk sofa. Sayang dia lupa kalau itu khusus untuk para wanita tua, ibu hamil, para manula dan mereka yang memiliki keterbatasan. Tapi mungkin memang dia sangat kecapaian. Buktinya dia sama sekali tak menyadari kehadiran para wanita yang berdiri di depannya. Itulah hakikat orang tertidur. Menurut guruku, orang tertidur itu setengah mati, baik badannya, hatinya, terutama telinganya. Jadi percuma saja mengumpat dan obral sumpah serapah. Biarkanlah dia tertidur, karena esok pagi dia harus kembali bekerja.

Gerbong kereta adalah bukti bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia adalah bangsa pekerja keras. Bahkan sangat keras. Siapapun yang bilang bahwa orang Indonesia kurang giat bekerja perlu sekali kali berangkat kerja menumpang kereta diatas gerbong. Digerbong kereta, menyabung nyawa bukan lagi sesuatu yang aneh. Makanya aku yakin siapapun yang tewas ketika berangkat kerja termasuk mereka yang berjihad karena mereka berkorban jiwa dan raga demi keluarga di rumah. Itulah fungsi lain kereta, melatih masyarakat untuk siap berkorban jiwa. Tak heran, tak satupun negara di dunia ini nekat untuk menyerang kita.

Kereta jalur bogor Jakarta memiliki musuhnya sendiri : HUJAN. Setiap kali hujan, selalu saja ada yang mogok. Namun karena dinilai tak cerdas, maka pera petugas tidak pernah menyebut hujan sebagai dalang kemacetan kereta. Kerusakan sinyal lah yang selalu menjadi kambing hitam.
 Kembali ke dalam gerbong. Satu persatu stasiun dilalui. Sama persis dengan denting denting waktu yang berdetak lalu menghilang. Sebentar lagi aku sampai. Perjalanan ini dingin sekali. Sedingin beton dan besi yang membangun kota ini.


catatan : gambar diambil di situs Ini

Jumat, 14 Oktober 2011

Gua nggak butuh sholat! Buat apa sih Sholat?

ini murni kopas dari milis ini. sebenarnya pingin nyari sumber aslinya tapi ga ketemu. 
moga moga bermanfaat.
 
 
Mohon maaf bila judulnya bikin napsu ! ! ! 
insyaAllah isinya gak separah judulnya, itu cuman bikin penasaran aja. Saya cuman pengen berbagi, saya dapet email dari temen di sebuah milis. email itu isinya cerita begini:

Anak : Pa, solat itu buat apa sih?
Ortu : (menghardik) Udah, lu jangan tanya-tanya macem-macem.. kapir lu nanti!
Anak : (terdiam)

Belasan tahun kemudian, si anak bertemu lagi dengan saya. Mana saya tahu kalau dia dulu tunya-tanya kayak gitu kan ? Biar gampang, kita sebut aja dia Boni.

Saya : Woy, jumatan atuh.. orang-orang udah pada ngabur!

Boni : Hoream ah…. keur naon solat? (males ah, buat apa sholat?)

Saya : (untung ajah, dulu kenyang di plonco adik PAS) Dasar.. Ari kamu sholat buat apa?

Boni : Saya mah, sholat kalo butuh dong. Nggak solat kalo aku nggak merasa butuh. Solat itu harus merupakan kebutuhan, bukan kewajiban dong. Tuhan nggak butuh solat kita, yang butuh itu kita! Sekarang gua lagi nggak butuh solat, jadi buat apa gua solat. PEUN.

Saya : Itu betul, memang kita harus punya sense ‘butuh’ terhadap sholat. Tapi, menurut gua, kita tetep ‘wajib’ sholat, meskipun kita sedang tidak ‘butuh’.

Boni : Buat apa? Menurut gua, disitulah letak nggak gunanya solat.
Lebih cuih lagi, kalo orang solat buat ngejar ‘gelar’, gua paling nggak suka!

Saya : Maksud loe?

Boni : Ya itu, jenis-jenis manusia yang solatnya buat pamer, kalo dia itu paling soleh!! Menurut gua sih, kalo die solat seribu rokaat juge, kalo abis solat die korup, die membunuh, die menjelekkan orang, menggunjing, tetep aje die tu, lebih buruk, dibanding orang nyang gak solat tapi berbuat baik sama orang lain!

Saya : Lu bener di satu sisi..Orang yang menzalimi orang lain, meski solat, tetep lebih buruk dibanding yang gak solat tapi berbuat baik

Boni : Tuu, bener kan gue!

Saya : Tapi di sisi lain, lu juga salah Bon! Menurut saya nih, solat tetep wajib!

Boni : Salah gimane? Ah paling lu mau ngeluarin ayat.

Saya : Ok, kita pake akal aja. Nah, sekarang saya mau nanya neh. Gaji lu berapa Bon?

Boni : Rahasia dong.. yah oke deh, sekitar 3-an lah

Saya : Lu kerja berapa jam sehari tuh, buat 3-an itu? 8 jam sehari ada nggak?

Boni : Ya iya lah.. lebih kali

Saya : Selain itu, saya yakin kalo lu dapet segitu, karena skill dan gelar lu kan ? Gak cuma karena kerjaan lu. Yang jelas, pengorbanan lu untuk dapet gaji segitu, lebih banyak dari sekedar kerja 8 jam sehari. Bener gak?

Boni : Bener banget! Tapi segitu juga udah untung. Gua suka dapet bonus, jadi gua yah, berterimakasih banget dah, sama Boss gua. Dia care banget sih sama kita.

Saya : Nah, Bon, ngomong-ngomong lu pernah denger ada jual beli ginjal gak buat transplantasi?

Boni : Oh iya dong, gile, satu ginjal ada satu milyar kali! Gua sih nggak bakal jual. Gila aja kali! Ntar gua pake apa dong?

Saya : Nah lu dikasih semilyar, kok gak mau berterimakasih sama sekali?

Boni : Bentar-bentar gua nggak ngerti neh.. dikasih semilyar gimana?

Saya : Tuh, mata loe… harganya berapa? Ok, ginjal satu milyar kan ? Oh ya, belon ntu tuh, kuping, mulut, muka… hm, loba euy (banyak euy), semua jatuhnya berapa ya? Trilyunan tuh.
Tapi semuanya dikasih gratis…

Boni : ……..

Saya : Bon, Sekali lagi neh, menurut aku, sholat tetep wajib, karna, itu salah satu cara kita untuk berterimakasih sama Yang ngasih badan kita, rejeki kita, keberuntungan kita, yah, segalanya yang udah Dia kasih dah.

Kita rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan 3 juta rupiah. Kita sangat berterimakasih sama orang yang ngasih kita tambahan bonus sekedar seratus-duaratus ribu, tapi kita kadang lupa berterimakasih sama ‘seseorang’ yang ngasih kita mata, mulut, tangan, kaki, ginjal, yang harganya jauh lebih mahal kalo kita jual. Well, bahkan bisa dibilang tak ternilai harganya. CUma orang kepepet berat atau orang bodoh yang mau jual badan dia sendiri.

Memang idealnya, orang solat tuh terhindar dari perbuatan buruk. Toh solat kan aslinya mencegah perbuatan buruk, dan membuat kita terbiasa melakukan perbuatan baik. Tapi itu kalau dia menghayati makna sholat sebagai sarana mengingat Tuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban (seperti saya hehehe).

Di situasi ideal ini, selepas sholat, orang jadi mengingat kembali, betapa banyak yang Tuhan berikan dan lakukan demi kebaikan kita. Coba aja telaah arti bacaan shalat dan arti gerakan solat. So pasti lu temukan deh, banyak bacaan solat maknanya kearah ini.

Karena dia ngeh bahwa Tuhan selalu melihat, dan telah banyak berbuat buat dia, dia bakal berfikir 1000 kali buat berbuat hal yang nggak Tuhan sukai.
yah kalo solatnya sekedar nyari gelar seperti yg lu bilang sih, memang gak bakal ada manfaatnya.

Tapi lu cerdas Bon, lu juga SQ-nya tinggi, makanya lu nggak mau solat sekedar menggugurkan kewajiban. Karena itu, lu pasti ngerti bahwa solat tetep wajib, meski kita lagi nggak butuh solat. Kita wajib solat, untuk berterimakasih sama yang telah ngasih kita segalanya.

Boni : Seandainya dulu bapa gua ngejawab kayak gitu, gua mungkin gak bakal terlalu anti solat ya…
Saya : ???
Boni : Sudahlah, gak usah dibahas… Tapi thanks ya.. gua jadi ngerti neh.
================================================== =======

yah, alhamdulilah, berkat dialog yang kacrut ini (aslinya jauh lebih ngalor ngidul dan panjang), Boni sekarang rajin shalat, dan berusaha menghayati solatnya. Semoga aku jg ketularan Boni ya
teman-teman… jangan pernah berhenti mencari jawaban tentang sesuatu yang kita nggak ngerti tentang Tuhan atau agama. Banyak orang kecewa terhadap agama (apapun), kemudian jadi atheis, atau punya sekte sendiri, cuma karena pertanyaan dia tidak terjawab.

Bertanyalah pada ulama, bila belum puas, cari ulama lain, bila nggak puas juga, layangkan email ke ulama di luar negeri. Atau berdiskusilah dengan banyak teman-teman. Jangan puas dengan hanya satu jawaban. Jadilah pencari Tuhan yang sebenar-benarnya.

Bukan pencari Kebenaran Hakiki namanya, kalo cuma ngaku-ngaku aja. jangan ngaku pencari kebenaran, kalo tak pernah mencari.

buat para ortu, jangan sampai menghardik anak bila nggak ngerti ngejawab pertanyaan. Mendingan bilang terus terang aja, kalo bapa nggak bisa, ntar kita cari sama-sama. thats it
YOURE a father NOT a superhero.

sumbernya nih . . . 
 
M. Febriansyah Z
Media Center
Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU
Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Telepon : (021) 87780015 / Facsimile: (021) 87780013
E-mail : pkpu_pu...@pkpu.or.id / Website : http://www.pkpu.or.id

Rabu, 12 Oktober 2011

Waktu Adalah Pedang yang Membelah


Dalam buku “The Hobbit”, Gollum menantang Bilbo Baggins untuk bermain teka teki. Tantangan itu diajukan karena dia hendak memakan Bilbo. Terjebak dalam gua yang gelap dan penuh labirin, Bilbo tak punya pilihan lain selain menerima tantangan tersebut. Dia ingin mengulur waktu sambil menyusun rencana pelarian diri. Dalam satu kesempatan, Gollum mengajukan sebuah pertanyaan:

Benda ini makan segalanya;
Burung, binatang, pohon dan bunga;
Mengerat besi, menggigit baja;
Batu Keraspun digilingnya;
Membunuh Raja, Menghancurkan Kota
Meruntuhkan gunung sampai rata


Dalam keputusasaan, Bilbo meminta waktu untuk berfikir dahulu, dan nasib baik memang ada dipihaknya. Jawaban teka teki tadi memang waktu.

Jika umumnya teka teki dibuat menggunakan perumpamaan atau bahasa bersayap, tidak demikian dengan apa yang ditulis oleh JRR Tolkien ini. Teka teki ini begitu gamblang, begitu jelas, bahkan nyaris bukan sebuah teka teki. JRR Tolkien ingin mengingatkan kita bahwa waktu akan mengalahkan semuanya, menghancurkan segalanya. Tidak akan ada yang abadi.

Waktu akan mengakhiri segalanya. Itulah inti teka teki Gollum. Sepanjang sejarah, manusia telah melihat kebangkitan dan kehancuran sebuah masa. Orang bijak berkata, segalanya akan berlalu seiring waktu. Ucapan ini bukan sekedar pelipur lara untuk mereka yang menjalani kehidupan yang sulit Ucapan ini adalah satu-satunya yang nyata di alam yang sebenarnya fana ini.

Siapa yang menyangka bahwa Uni Soviet akan hancur pada tahun 1991? Siapa yang mengira bahwa Menara World Trade Center di New York akan roboh sepuluh tahun berikutnya? Siapa yang mengira pada tahun 2010, tentara Israel yang “konon” begitu kuat harus pulang menanggung malu setelah kalah dari Hizbullah. Siapa yang pernah bertaruh bahwa amerika ternyata impoten ketika menyerang kuba dan vietnam. Dua negara yang sebenarnya miskin. Siapa yang pernah bermimpi bahwa Saddam Husein, Muaamar Khaddafi, Husni Mubarak, dan Zine El Abidine Ben Ali akan tumbang. Bukankah mereka hidup dalam impian keabadian seperti yang pernah dikatakan Firaun di depan Musa? Siapa sangka akhirnya Steve Jobs pergi meninggalkan kita?

Manusia selalu mengira bahwa dirinya dan dunianya akan abadi. Alexander Agung dulu mengira kekaisarannya yang merentang dari Yunani sampai Himalaya akan berdiri abadi. Kaisar Pertama Cina (Qin Shi Huang) begitu mengagumi dirinya yang berhasil menyatukan seluruh kerajaan cina sehingga dia merasa titisan Dewa. Tapi waktu telah membunuh para Raja dan menghancurkan kota. Peninggalan mereka baru kita ketahui setelah kita menggalinya dari dalam tanah.

Waktu akan mengalahkan semuanya. Siapa yang menyangka ekonomi amerika yang begitu kuat akan terseok seok bukan karena perang tapi justru karena masalah defisit anggaran (yang sebenarnya karena perang juga). Ekonomi liberal kapitalis dan berbasis bunga kredit yang disembah disana justru menjadi pembunuh utama. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.

Ironis, Teriakan untuk menghentikan ekonomi kapitalis justru datang dari jantung kapitalisme itu sendiri. Ironis, karena sebelumnya pada pendemo ini kemungkinan besar dulunya adalah penganut kapitalisme dan ekonomi liberal. Begitulah kawan, Waktu akan menunjukan rupa asli manusia yang opportunis. Semakin miris karena pusat para pendemo adalah di ground zero, lapangan yang diatasnya pernah berdiri ikon kapitalisme dunia, Menara world trade centre.

Waktu menunjukan kebenaran sejati, perang melawan terorisme (islam) yang dulu diamini seluruh dunia terbukti hanya topeng Amerika untuk mengamankan pasokan minyaknya. Senjata pemusnah massal Irak yang diteriakan Bush terbukti ternyata hanya palsu belaka. Tentara Amerika dan PBB tidak pernah menemukannya dan belakangan informan CIA mengakuinya sebagai akal-akalan untuk menumbangkan Saddam. Oh ya, tahukah anda bahwa alasan utama Amerika menyerang Afganistan adalah agar pipa minyak dari Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan tidak harus melewati Rusia tapi bisa langsung melewati Afganistan? Amerika malas membayar fee ke Rusia.

Waktu membuktikan semuanya. Apa yang kita ketahui sekarang, pada dasarnya tidak diketahui sebelumnya. Apa yang tidak kita ketahui sekarang kemungkinan besar akan diketahui di masa depan. Kaum Quraisy tertawa-tawa mengejek Nabi Muhammad ketika beliau menyampaikan wahyu bahwa Kerajaan Romawi akan mengalahkan Persia. Wahyu itu turun tujuh tahun setelah pasukan romawi kalah telah dari pasukan Persia (kira kira tahun 613 M). Tujuh tahun berikutnya, para kaum Quraisy harus menelan kembali kata-katanya. Sejarah mencatat bahwa pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Begitu juga Copernicus yang akhirnya teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari (dan bukan sebaliknya) terbukti walaupun dia sebenarnya telat 900 tahun pada seorang arab penggembala kambing bernama Muhammad.

Namun waktu tidak hanya menghancurkan. Dia juga hadir untuk membangun. Dalam bukunya yang berjudul “Outliers”, Malcolm Gladwell menceritakan alasan kenapa The Beatles, Bill Gates, Steve Jobs, berhasil memperolah kesuksesan. Alasan utamanya adalah waktu yang mereka curahkan dalam perjalanan ke sana. Sebelum meledak, The Beatle menghabiskan ribuan jam manggung di kafe kafe di kota hamburg, jerman. Ketika akhirnya mereka menjadi selebriti, Mereka telah memiliki pengalaman tampil di depan public melebihi rata rata band lain saat itu, bahkan sekarang. Begitu juga dengan Bill Gates dan Steve Jobs yang menghabiskan masa mudanya di depan Komputer melebihi anak lain pada masanya. Prinsip mencurahkan sebanyak mungkin waktu untuk bekerja keras sering dinamakan kaidah 10.000 jam. Konon 10.000 jam adalah waktu yang anda butuhkan untuk menjadi benar benar ahli dalam bidang apapun. Walaupun sebenarnya inti dari kisah diatas adalah mereka yang berhasil melebihi orang lain sebenarnya telah berusaha sekeras mungkin melebihi orang lain.

Sebuah sya'ir Arab menggambarkan dengan tepat tentang hakikat sang waktu: “Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha'haa qath'aka” (Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu). Mereka yang lengah hendaknya bersiap menjadi korban. Menjadi korban karena berulangkali terhenyak, menyadari bahwa semuanya sudah telambat dan sekedar menyisakan sesal.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal : "Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4 perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya." (HR. Bazzar dan Thabrani).

Selasa, 23 Agustus 2011

catatan seorang Pertapa jilid 2

Nyamuk nyamuk beterbangan kesana kemari. Aku tak perduli. Berbulan bulan mereka menghilang kini mereka kembali. Biarlah saja. Memang sudah waktunya mereka ada. Seperti biasa, seperti tahun tahun sebelumnya.

Lagipula aku dan mereka punya perjanjian tidak tertulis. Mereka bebas menghisap darahku, dan sebagai balasannya aku bebas menghabisi nyamuk nyamuk malang yang terlalu rakus. Terlalu rakus sehingga mereka menjadi lamban dan tidak waspada. Perjanjian yang adil.

Lagipula para penghuni lain seperi cecak dan laba laba turut bergembira dengan kehadiran para nyamuk. Akan ada anak anak cecak yang sehat dan kenyang, akan ada laba laba muda yang meneruskan jejaring halus karya orang tuanya.

Itulah hidup, kematian yang satu merupakan kehidupan dari yang lain. Sangat adil. Karena cecak dan laba-laba hanya mengambil seperlunya. Selama perut mereka kenyang dan anak anak mereka terpenuhi kebutuhannya, tak perlu lagi membunuh. Tak perlu ada nyawa lain yang dikorbankan. Tak ada timbunan nyamuk dijaring laba-laba, karena tak ada perdagangan nyamuk antara mereka. Tak akan ada kenaikan harga bangkai nyamuk di pasaran.

Itulah hidup didalam kamar kostku. Cecak sibuk mencari nyamuk dan lalat. Laba-laba sibuk menjaring sisanya. Kecoa sibuk melarikan diri dariku, dan setelah para kecoa lari, aku sibuk menulis. Aku tak khawatir dengan nyamuk, karena mereka sibuk lari dari cecak dan laba-laba. Harmonis sekali.

Sebenarnya ada penghuni lain di kamarku. Jumlahnya banyak, bergerombol menghabiskan tempat. Kerjanya hanya diam dan menunggu ajal. Ajal yang akan sangat lama sekali berkunjung. Mereka tak pernah bergerak, kerjanya hanya diam dan berdebu. Jika telah berdebu, akulah yang kena batunya untuk membersihkan mereka. Sama seperti pernikahan, siapa suruh aku memasukan mereka kekamarku. Kamar yang kuanggap sebagai area privat yang tak sembarang orang boleh masuk. Karena mereka sudah menjadi penghuni tetap. Akulah yang harus mengambil tanggung jawab.

Tumpukan buku buku ini telah menemaniku selama bertahun tahun. Ada yang sudah tua dan menguning. Ada yang masih muda dan baru. Tapi mayoritas masih terawat. Harap maklum, aku tak mengenal istilah meminjamkan buku. Cintaku posesif. Bukuku hanya untuk aku. Selamanya. Jika mau membaca, silahkan saja. Tapi luangkan waktu membacamu di kamarku. Karena setiap pecinta akan remuk redam kalbunya melihat cintanya dibawa pergi. Intinya mudah saja kawan, kau boleh baca, Jangan dibawa pulang.

Aku semenjak kecil selalu dididik untuk menghargai buku. Terlebih lagi ketika buku adalah sebuah benda mewah dan ajaib untuk kami. Kebiasaan ini menular. Aku pernah mengkoleksi (atau tepatnya menyimpan) tumpukan Koran olahraga yang aku beli secara rutin selama bertahun tahun. Koleksi itu tetap ada ditempatnya sampai ketika ibu mengancam bahwa entah Koran Koran itu yang pergi atau baju bajuku yang akan disimpan diluar.

Jika para wanita menjadi gelap mata ketika bersentuhan dengan tas, perhiasan, hak tinggi, sepatu, baju dan benda benda duniawi lainnya. Aku menjadi begitu bersemangat jika ada di toko buku, dan ketika toko itu memasang harga diskon, aku serasa menghisap ganja dan melayang jauh ke angkasa.

Berapa lama yang kau habiskan untuk membaca novel harry potter? Tiga hari? Empat hari? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca novel Dan Brown? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca literatur social? Aku cukup satu hari. Sombong memang, tapi itulah kenyataannya. Pengecualian hanya terjadi untuk Al-Quran. Kitab ini adalah ilmu Allah yang Maha Luas, manusia selama berabad-abad belum selesai mengkajinya. Aku tak pantas menjadikannya arena pacuan adu cepat khatam. Tiap lembarnya adalah bijak dan selamatnya hidup. Tiap menit membacanya adalah dunia yang mengecil dan semesta yang semakin tersingkap. Kitab ini terlalu mulia untuk sekedar dibaca. Kitab ini adalah hidup manusia.

Sebagai pecinta buku, jangan heran jika hadiahku padamu akan berupa buku. Ketika aku menghadiahkan sesuatu untuk seseorang, itu artinya aku ingin mereka bahagia. Tapi ketika aku memberikan padamu sebuah buku. Itu artinya aku ingin kau membacanya dan berbahagia dengannya. Itu artinya aku ingin berbagi sepotong kehidupanku denganmu. Sebagian orang sayangnya, melihatnya sebagai membosankan.

Tapi menjadi pembaca buku tidak melulu berkutat dengan kertas-kertas. Ada kebijakan yang orang abaikan. Ada pemahaman yang orang lupakan. Ada tujuan yang orang belokan. Buku adalah kebijaksanaan yang merendahkan dirinya semata-mata supaya dia difahami orang banyak. Sebuah upaya yang mulia dengan hasil yang seadanya.

Biasanya orang yang hobi membaca pintar menulis puisi. Biasanya, tapi tidak juga. Tapi aku tahu pasti, orang yang hobi membaca banyak menulis puisi. Entah tentang gundah gulana, entah tentang riang gembira. Sekedar unek unek atau riuh riuh hari harinya. Tulisan mereka tajam, dipenuhi untaian kata kata yang banyak orang tak kenal atau dengar sebelumnya. Seringkali begitu aneh sehingga hanya Tuhan dan pembuatnya sendiri yang faham. Para pembaca buku memang selalu memiliki sisi yang hanya untuk mereka sendiri. Tidak untuk orang lain, tidak untuk diceritakan, tidak untuk dibagikan. Cukup Tuhan dan dia.

Nyamuk sudah pergi, pertanda koloni mereka kekurangan serdadu. Siklus kehidupan berputar cepat rupanya. Aku harus mengakhiri tulisan ini. Karena tak ada lagi yang perlu ku bagikan untukmu. Lagipula kau pasti malas menerima hadiah buku dariku.

Rabu, 27 Juli 2011

sebelum ramadhan gagal kembali

ramadhan itu sebenarnya cara paling mudah untuk mengetahui siapa kita. Pelanggaran berulang yang kita lakukan di setiap harinya cukuplah menjadi cermin. kemenangan? kemenangan apa yang secara sangat naif kita bayangkan? kemenangan menahan lapar? kemenangan berpuasa? Tuhan tak butuh lapar kita. lebih jauh lagi, Dia tak butuh kita.

apakah aku bisa menjadi orang yang lebih sabar. bisakah menjadi sedikit bijak, atau setidaknya, bertambah baikkah diriku? setiap tahun kita bermaaf maafan dengan dendam yang enggan beranjak. dengki seolah telah membangun peristirahatan di kalbu kita. iri dan hasud menjadi teman setia untuk bercengkarama. dikeriuhan kelamnya hati, amarah datang untuk melengkapinya. binatang, kita tak lebih dari itu

kebohongan tetaplah kebohongan. meski itu dibalut kemanusiaan. jangan tutupi itu. tahun demi tahun aku menjerit. ingin sekali berteriak. puasaku untuk diriku bukan untuk siapa siapa.

kita mengaku islam dan senantiasa menjadi penghianat atas keyakinan kita sendiri. aku tak merasa diampuni. aku merasa hidup dalam tali gantungan dari emas dan perak. menjual jiwaku pada benda benda fana. hanya untuk membeli baju baru, hanya untuk membeli oleh oleh.

dalam perenunganku, ku dengar jawaban. "itulah ujiannya..., kau pilih JalanKU atau jalan yang lain, itu terserah kamu". memang benar, naik motor saja harus lulus ujian.

sekarang pertanyaannya. apakah ramadhan kali ini kita akan gagal kembali. jujur sajalah, tahun lalu kita lalui hari hari mulia itu seolah sampah. hari hari dimana lampau sang Nabi tak lewatkan sedetikpun tanpa kebajikan dan derma justru kita lalui sambil lalu

seiring tangan munafikku menulis teks teks tak penting ini. sekeping akal sehatku yang masih tersisa tetap bertanya, apakah kau akan gagal kembali tahun ini?

Jumat, 11 Maret 2011

PANDUAN MEMBUAT SINETRON (2)

C. Make Up dan pakaian
Prinsip keberhasilan dalam make-up dan pakaian sangatlah sederhana. Untuk pemeran utama dan tokoh-tokoh yang sering muncul. Jangan sekali-kali menampilkan mereka tanpa make-up. Bahkan pada adegan sholat atau mengaji pun, anda harus mampu mengekspose make-up si tokoh. Akan sangat lebih bagus lagi, jika make-up menor itu tetap muncul pada saat adegan-adegan berikut ini :

1. Si tokoh terbaring di kasur rumah sakit
2. Saat sedang sekarat / sudah meninggal
3. Saat berperan sebagai hantu
4. Saat jadi pemulung/gelandangan
5. Saat tersesat di pulau terpencil selama berminggu-minggu
6. Tergeletak di jalan setelah di tabrak penjahat
7. Saat tidur atau setelah bangun tidur
8. Di tangkap polisi
9. Di dalam sel tahanan
10. Sedang dan setelah bermain bola /olahraga lainnya
11. Prosesi pemakaman
12. kerja kasar / buruh
13. terbaring koma berbulan-bulan dan terbangun dengan amnesia
14. sedang makan (sarapan, siang, malam dan ngemil)
15. sedang tamasya
16. sedang naik haji, zakat, mengaji dan sholat
17. sedang berkelahi
18. sedang luluran
19. sedang ujian atau belajar di kelas
20. Adegan lainnya yang saya tidak ingat lagi

Catatan : apapun profesi dan umur tokoh-tokoh dalam cerita, make up menor harus selalu muncul. Terlepas apakah tokoh dalam cerita berprofesi sebagai penjual asongan atau tukang sampah, Uztad, Pelajar SD-SMP-SMA, Om Senang, Tante Girang, Koruptor, Polisi, Penjahat atau lainnya, Tokoh-tokoh tersebut tidak boleh sedetikpun kehilangan aura kecantikan/kegantengannya. Ingat, faktor ganteng/cantiknya pemeran dalam cerita adalah sangat krusial dalam menentukan laku tidaknya sinetron anda.

Untuk pakaian, prinsip utama yang harus selalu dipegang teguh adalah dalam adegan apapun, kondisi apapun, jangan pernah menampilkan tokoh-tokoh utama (jagoan atau penjahat) tanpa menggunakan rumus baku kostum. Rumus ini selalu berhasil dengan level kegagalan nol persen. Jadi anda tidak boleh alpa sekalipun untuk mengamalkan rumus ini. Berikut rumus baku/pasti penentuan kostum tokoh:

1. tokoh utama dan teman-temannya selalu berpakaian sederhana atau miskin
2. tokoh penjahat selalu berpakaian mewah dan glamour
3. tokoh yang bersimpati pada tokoh utama boleh berpakaian mewah atau sederhana tergantung nilai rekening si karakter
4. tokoh yang bersimpati pada tokoh penjahat harus selalu berpakaian mewah dan glamour

Rumus ini baku dan harus berlaku untuk seluruh adegan, berikut contoh penggunaan rumus ini untuk tokoh jahat:
1. Terbaring di kasur rumah sakit mengenakan baju mewah
2. Saat sedang sekarat / sudah meninggal mengenakan baju mewah
3. Saat bangkit sebagai hantu mengenakan baju mewah
4. Tersesat di pulau terpencil selama berminggu-minggu mengenakan baju mewah
5. Tergeletak di jalan setelah di tabrak penjahat saingan mengenakan baju mewah
6. Saat tidur atau setelah bangun tidur mengenakan baju mewah
7. Di tangkap polisi mengenakan baju mewah
8. Di dalam sel tahanan mengenakan baju mewah
9. Sedang dan setelah bermain bola /olahraga lainnya mengenakan baju mewah
10. Prosesi pemakaman mengenakan baju mewah
11. kerja kasar / buruh mengenakan baju mewah
12. terbaring koma lalu terbangun dengan amnesia mengenakan baju mewah
13. sedang makan (sarapan, siang, malam dan ngemil) mengenakan baju mewah
14. sedang tamasya mengenakan baju mewah
15. sedang naik haji, zakat, mengaji dan sholat mengenakan baju mewah
16. sedang berkelahi mengenakan baju mewah
17. sedang luluran mengenakan baju mewah
18. sedang ujian atau belajar di kelas mengenakan baju mewah
19. Adegan lainnya yang saya tidak ingat lagi mengenakan baju mewah

Kembali saya ingatkan bahwa, kedisplinan anda untuk menerapkan rumus baku kostum ini berpengaruh pada laku tidaknya sinetron anda. Untuk sinetron remaja ada rumus lain yang wajib juga dilaksanakan :

1. Pelajar putri HARUS SELALU MENGGUNAKAN ROK MINI
2. Pelajar putri HARUS SELALU MENCAT WARNA WARNI RAMBUTNYA
3. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MENGELUARKAN BAJUNYA (TIDAK BOLEH DIMASUKAN)
4. Pelajar putri HARUS SELALU MENGGUNAKAN PAKAIAN SERAGAM YANG AGAK TRANSPARAN
5. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MEMAKAI DASI MENGGANTUNG DI DADA
6. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MEMAKAI HANDPHONE BARU YANG MAHAL
7. Pelajar putra HARUS SELALU GONDRONG ATAU SPIKE
8. Pelajar putra (jagoan) HARUS SELALU MEMAKAI ANTING DAN BERTATO
9. PAKAIAN SERAGAN HARUS TETAP DIPAKAI BAHKAN DI ADEGAN MALAM HARI, TIDAK ADA PENGECUALIAN
10.DALAM SINETRON REMAJA TIDAK ADA KARAKTER ORANG MISKIN.

bersambung
(nb : panduan ini hanya hasutan sesat semata....)

PANDUAN MEMBUAT SINETRON (BAG 1)

Firman’s guide to make Indonesian Sinetron

Berikut ini adalah panduan lebay dan singkat produksi sinetron Indonesia. Panduan ini disusun berdasarkan belasan tahun pengalaman tersiksa menonton sinetron. Kualitas akting yang buruk dan cerita yang mengada-ada merupakan paduan tepat yang telah terbukti mampu menyihir sinetron yang diduga hasil jiplakan menjadi tontonan favorit keluarga.

Panduan ini ditujukan untuk semua kalangan, baik yang sudah terjun di dunia hiburan, maupun yang amatir. Untuk Anda para pemula, tidak perlu khawatir atau tidak percaya diri. Sama sekali tidak dibutuhkan keahlian atau pendidikan khusus di bidang cinematografi atau perfilman. Selain itu, kreatifitas dan pencarian ide-ide segar menjadi tidak relevan dan bisa diabaikan. Panduan ini akan menunjukan pada anda bahwa siapapun bisa membuat sinetron. Tanpa harus sekolah atau pendidikan, anda langsung bisa duduk di kursi sutradara. Syukur-syukur dengan sedikit modal, anda bisa memulai membuat Production House (PH) sendiri.

Karena sinetron adalah bagian dari industri hiburan, maka esensi paling penting adalah bisa menghibur penonton. Sekalipun isinya penuh kebohongan, pembodohan, dan ketololan. Semua itu bisa dikesampingan demi tegaknya rating dan kukuhnya pemasukan dari iklan. Logika cerita dan teknik perfilman tidak perlu anda fikirkan. Karena hanya dua hal ini yang menjadi tolok ukur utama untuk menilai apakah sinetron anda masuk katagori (1) ancur, (2) sangat ancur dan (3) ancur banget. Berikut ini matriks penilaian kualitas sinetron :

(1) ancur : rating rendah dan iklan rendah
(2) sangat ancur : rating sedang dan iklan sedang
(3) ancur banget : rating tinggi dan iklan tinggi

Memang masih ada level ke empat yaitu “ancur seancur ancurnya”, namun ini sangat jarang dan hanya bisa dicapai oleh sinetron legendaris berjudul “tersandung”. Prestasi sinetron “tersandung“ sampai saat ini tidak tertandingi, mencapai 356 episode dan diputar selama tujuh tahun berturut-turut. Mohon maaf saudara, hanya para jenius dan maestro saja yang bisa menciptakan sinetron dengan level seperti ini.

Secara singkat, panduan ini akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas elemen-elemen penting untuk memproduksi sinetron dari sisi teknis, yaitu seting lokasi, pemeran, peralatan dan lainnya. Bagian kedua akan dikhususkan untuk membahas aspek cerita dan tips dan trik bagaimana membuat alur cerita yang berkualitas.


Bagian Pertama :

A. Setting lokasi
Apapun cerita sinetron anda, anda harus memfokuskan 98% lokasi syuting anda di kawasan perumahan mewah. Kalaupun memang tokoh utamanya adalah seorang miskin, maka usahakan ceritanya sedemikian rupa sehingga si miskin akan bisa tinggal di rumah mewah. Akan sangat baik jika tipe rumah lokasi syuting anda adalah tipe tipe eropa, atau yang menunjukan bahwa itu rumah orang super kaya. Rumah ini setidaknya harus seharga 1 milyar ke atas. Sangat dilarang jika lokasi syuting anda dekat dengan perumahan rakyat jelata atau kumuh. 200 km adalah jarak minimal antara lokasi syuting anda dengan rumah orang miskin terdekat. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah aura kemiskinan masuk ke dalam sinetron anda. Harap dicatat, penonton tidak suka sinetron yang didalamnya dimunculkan istilah-istilah semacam “sederhana”, “bersahaja”, “miskin”, “melarat” dan sebagainya

B. Fasilitas lainnya
Selain rumah super mewah, anda harus bisa menampilkan barang-barang mewah di dalam sinetron anda. Jika sinetron anda ingin laku, jangan sekali-kali menampilkan mobil yang harganya dibawah 500 juta. Begitu juga dengan perhiasan dan gadget yang dipakai para pemeran, harus selalu barang termahal dipasaran. Ingat, berdasarkan pengalaman, hal seperti inilah yang selalu ada di sinetron-sinetron dengan rating tinggi.

bersambung....
(nb : note ini hanya panduan sesat belaka)