Tampilkan postingan dengan label kritik sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kritik sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

MUSHOLA DAN TOILET (ke arah sini)

Berapa kali pemandangan ini kita lihat? satu kali, dua kali? Tanda penunjuk arah ini ada dimana-mana, di terminal, pusat perbelanjaan, bandara, dan pusat keramaian lain di daerah berpenduduk mayoritas muslim. Tanda penunjuk arah ini menjadi demikian lumrah sehingga tak banyak orang (atau mungkin tidak ada?) yang memikirkannya lebih dalam. Aktifitas orang-orang memang demikian menyita waktu dan perhatian, sehingga merenung masuk daftar terakhir hal yang ingin dikerjakan. Orang banyak lalu lalang di depan papan ini dan menerimanya begitu saja. Kalaupun beberapa menaruh perhatian, pilihannya tinggal dua saja : ingin ke mushola, atau toilet. Maaf, ternyata ada pilihan ke tiga, pergi kedua-duanya. 

Mushola dan Toilet, berapa kali kita lihat papan penunjuk arah yang menyatakan bahwa dua tempat yang derajatnya terpisah antara bumi dan langit ini ternyata di berada di lokasi yang sama (oke saya ralat, biasanya bertetangga). Dan memang seperti demikian adanya, umumnya keduanya berdekatan di lokasi sisa yang tersedia seadanya. Agar tidak melebar ke mana-mana, mari kita bahas kebiasaan yang terjadi di pusat perbelanjaan, atau kita sebut saja Mall.

Kamis, 24 Januari 2013

Hati-hati dengan iklan yang BEJO.

Awalnya tidak ada yang aneh ketika sebuah perusahaan membuat iklan obat masuk angin dengan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo". Memang sih, Bejo bukan kata yang umum, terutama bagi saya yang orang Sunda.

Kata "Bejo" yang berarti "beruntung" hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata "bejo", sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.

Alasan Pemilihan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo" sangat gampang ditebak. Jargon ini dipilih sebagai respon iklan produk pesaing yang mengusung jargon "Orang pintar ya Minum Tol*k Angin". Iklan ini punya dua target. Pertama, iklan ini ingin menggiring alam bawah sadar konsumen bahwa ketika masuk angin, cara cerdas dan pintar untuk mengobatinya adalah dengan minum Tol*k Angin.

Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang  terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga "dipilih oleh kalangan pintar" ketika mereka masuk angin.

Iklan "Orang Pintar" menghajar produk-produk pesaing di tempat yang tepat. Karena sebagus apapun produk anda, "orang pintar" tidak minum produk tersebut. Lagipula, ketika masuk angin, cara "pintar" untuk mengatasinya adalah minum Tol*k Angin. 

Senin, 30 Juli 2012

Acara Sahur (itu) Terburuk Tak Layak Tonton!



Seorang pria mendorong temannya sampai jatuh. Diiringi tertawaan dari teman-temannya yang lain. Seorang yang lain mengejek temannya, terkadang membuka aib, lagi-lagi diikuti gelak tawa. Pada momen lain, komunikasi diantara mereka hanya berisi saling melecehkan atau kekerasan. Alasannya? Agar orang yang melihat tertawa. Demikianlah, isi seluruh acara sahur itu tak lebih dari kekerasan, pelecehan, rasisme, membuka aib, penghinaan yang ternyata “boleh” ditertawakan. Memang pada akhirnya (menit-menit injury time) datang seorang yang berpeci, berjubah, dan bersorban (yang konon seorang alim ulama) untuk sekedar membaca khotbah-khotbah yang sudah tercetak dalam naskah. Nilai yang bisa diambil dari acara ini? Menertawakan penderitaan orang lain adalah baik. Tertawalah sekarang.

Di chanel lain, isinya berjubel dengan kuis-kuis berhadiah. Lengkap dengan sponsor disana sini. Isinya adalah “dakwah” tentang provider telekomunikasi yang perlu anda beli, sirup yang harus anda minum, cemilan yang harus disajikan untuk berbuka, atau pakaian yang perlu diborong.  Ada Iklan yang menjual handphone dengan bonus software kitab suci. Pesan iklan itu? Tingkatkan iman dengan membeli handphone, sungguh mengerikan. Ramadhan adalah tentang berbagi, namun acara ini menantang langsung dengan berteriak lantang : “BELI dan MILIKI, karena tanpa produk yang kami tayangkan, Idul Fitri Kalian akan BASI!!!”. Nilai yang bisa diambil dari acara ini? Konsumerisme adalah jalan menuju ampunan Tuhan.

Selasa, 27 Maret 2012

BERSUARALAH, SAMPAIKANLAH, BUKAN HANCURKAN

-->

Perjuangan itu selalu pahit. Siang itu di sebuah bukit yang gersang, seorang laki-laki menyeru kepada masyarakat di kotanya untuk menuju jalan kebenaran. Sendirian, laki-laki itu harus menghadapi kaum yang telah terjangkit kapitalisme, premanisme, rasisme, dan hedonisme yang akut.

Apa yang dihadapi Laki-laki itu bukanlah sesuatu yang main-main. Wahyu Kebenaran yang hendak disampaikannya berhadapan langsung dengan kepentingan para tokoh dan pemuka kaum yang menginginkan agar status quo tetap dipertahankan. Para tokoh dan pemuka khawatir bahwa dakwah yang disampaikannya akan merusak tatanan sosial yang selama ini menguntungkan mereka. Demikianlah, laki-laki tadi kini ibarat menggenggam bara api. 

Sang Laki-laki tadi begitu resah melihat kemerosotan yang terjadi di kota kelahirannya itu. Masyarakat di kotanya telah hidup terlalu lama dalam bayangan kegelapan. Kegelapan yang dipenuhi perang antar suku, kekerasan, penistaan wanita, perjudian, kebodohan, pembunuhan anak-anak dan perbudakan. Hatinya berteriak, jiwanya gundah.

Setelah sekian lama berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Muhammad, yang kelak akan memimpin sebuah pergerakan yang menggoncang dunia, memutuskan untuk menyuarakan kebenaran di hadapan kaumnya. Bukit itu, Shafa, menjadi saksi kebulatan tekadnya. Kebenaran haruslah disampaikan dengan terang. Kebenaran haruslah diteriakan.

Sejarah kemudian mencatat dahsyatnya penentangan yang menimpa Muhammad dan kaum Muslim. Dengan jumlah yang tidak seberapa, kaum muslim harus dihadapkan pada boikot ekonomi, terror sosial, pengusiran, penyiksaan, bahkan pembunuhan. 

Apakah semua kekejian tersebut merubah caranya menyampaikan kebenaran? Tidak. Muhammad Sang Rasul tetap santun pada tetangga Quraisy yang terang-terangan menginginkan nyawanya. Beliau tetap berlaku adil kepada Yahudi yang secara frontal menantang dakwahnya. Baginya, dakwah hanyalah bisa disampaikan melalui kebaikan dan kesantunan. Kebenaran tidak bisa disebarkan melalui ujung pedang dan laras senapan. Kebenaran hanya bisa bertempat dihati yang lapang.

Sejarah mencatat, manusia melupakan. 14 abad yang lalu Rasulullah mencontohkan secara sempurna bagaimana sebuah pesan harus disampaikan dan perjuangan dilakukan. 14 abad kemudian, orang melupakan. Kini pesan disampaikan melalui aksi aksi anarkis. Perjuangan atas nama rakyat disebarkan dengan kepulan asap, lemparan batu, ayunan kayu dan barang-barang yang dibakar. 

Sore kemarin aku menjadi saksi bagaimana ribuan orang di seluruh Indonesia melupakan kebijakan sang Rasul. Suara hati rakyat untuk menolak kenaikan harga BBM diterjemahkan dengan mengorbankan rakyat itu sendiri. Di satu daerah, mahasiswa bentrok dengan warga karena para “aktivis” menjarah sebuah rumah makan dan merusak harta warga. Didaerah lain, (lagi-lagi) mahasiswa mencegat truk-truk pengangkut LPG untuk kemudian di jarah. Robin hood jadi tameng mereka. Para aktivis karbit tersebut mengira bahwa dengan merampok LPG milik rakyat dan membaginya kepada rakyat lain, maka mereka telah lengkap menjadi seorang “aktivis”. Label aktivis juga menjadi tameng untuk menghalalkan mahasiswa untuk mencegat kendaraan publik untuk dirusak. Polisi seolah menjadi warga kelas dua yang halal dilempari batu, sementara pendemo menjadi orang suci yang bebas dari kesalahan. Lagi-lagi sekedar karena label aktivis. Kalau sudah begini, sungguhlah pantas jika masyarakat menurunkan derajat “perjuangan” para aktivis menjadi sekedar pembuat onar dan kerusuhan. 

Terima kasih kepada “aktivis” yang menyuarakan suara hari rakyat dengan begini primitif, rakyat pun jengah. Aksi demo berjalan sambil lalu. Masyarakat menanti usai para pendemo menggelar aksi, semata-mata karena demonstrasi hanya memacetkan lalu lintas. Aktivis tak lagi dinanti. Para sopir bajaj dan taxi bermunajat agar mereka tak lagi memblokir jalan. Warga mengusir mereka. Aktivis menjadi makhluk asing untuk rakyat yang konon dibelanya. 

Aku ingat ketika disana bersama para sahabat meneriakan aspirasi menolak kedatangan penjajah George W Bush ke tanah air. Amerika kala itu aktif menyebarkan perang ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, Bush harus pergi jauh-jauh. Para sahabat melakukan aksi dengan merapatkan diri menjadi pagar betis menjaga istana bogor. Kala itu hujan menyirami dan para sahabat tetap disana, diam tak bergerak. Diselingi sejenak istirahat dan munajat kepada sang Khalik, aku ingat bahwa kami berbincang akrab dengan para polisi. Terkadang saling menggoda. 

Dua sisi yang bersebarangan, masing-masing melakukan apa yang diyakini. Kami meyakini bahwa Bush adalah Hitler yang bangkit kembali. Para petugas meyakini bahwa keamanan dan ketertiban haruslah ditegakkan. Tak ada ban yang dibakar, tak ada batu yang dilempar. Kami hanya ingin meneriakan suara hati. Syukurlah para polisi mengerti. Di akhir sore, kami semua pulang, karena hidup bukan sekedar aksi-aksi jalanan. Cukuplah Bush tahu, dirinya tak diinginkan disini.
14 abad yang lalu. Rasulullah membebaskan Mekkah dari cengkeram kegelapan dengan dakwah yang santun dan tindakan nyata. Beliau menjadi bagian dari solusi dan menjadi motor dari solusi itu sendiri. Kemarin, demonstrasi menolak kenaikan harga BBM berubah ricuh, puluhan orang ditangkap dan jatuh korban luka-luka. Ironis, masyarakat tak merasa dibela. Sore kemarin para sahabat lebih memilih pasrah dan berharap cemas menunggu pulang.

Minggu, 11 Maret 2012

Dinginnya (masyarakat) Perkotaan

-->
Malam tadi, di satu gerbong kereta yang melaju dari Bogor menuju Jakarta, saya terduduk sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, karena di gerbong itu sebenarnya ramai. Banyak orang lain di gerbong ini, sama-sama berbagi ruang dan udara. Saya mengatakan sendiri karena memang tiada satupun yang dikenal atau menemani. Ironis memang, sendirian dalam keramaian. Lebih ironis lagi, perasaan yang sama seolah menjangkiti seisi gerbong. Entah karena kecapaian atau memang tiada teman, sebagian besar hanya diam termenung.

Berhubung tak ada teman, Saya menghabiskan waktu dengan membaca koran.  Lagipula, tampaknya sebagian besar penumpang memang ingin segera tiba di tujuan masing-masing, sehingga berbincang dengan penumpang lain tampaknya bukan pilihan. Akhirnya, yang tersisa adalah Koran sore di tangan. Maka demikianlah cara berlalunya perjalanan itu. Sepanjang jalan, sepanjang rel, hanya aku dan koranku.

Sebetulnya  tak enak rasanya harus kembali cepat ke Kota bising ini. Sesungguhnya saya ingin tetap meluangkan waktu di rumah. Tapi pekerjaan adalah pekerjaan, dan esoknya aku harus bekerja. Kota ini ramai memang, tapi cenderung bising. Penuh dengan teriakan kemarahan dan kejengkelan. Sesak dengan keluhan dan ketidaksabaran.

Kota ini sungguh bising, mirip dengan dengungan nyamuk dengan soundsystem konser dangdut. Nyaring menyakitkan telinga, menguras kebahagiaan. Ada yang menghias hari dengan mengumpat soal kemacetan. Ada yang mengisi udara dengan makian soal kenaikan harga harga. Uniknya, sebagian besar dengungan ini berhenti di awan awan. Tak ada yang berubah sesudahnya. Paling-paling berubah bentuk, menjadi umpatan dan makian dengan topik yang berbeda.  
kau tahu? Sebenarnya keramaian dan kebisingan adalah dua hal yang jauh berbeda. Yang pertama menghangatkan jiwa, minimal berhasil memaksa kita tersenyum. Berkumpulnya keluarga adalah keramaian. Musyawarah warga adalah keramaian. Perayaan hari raya adalah keramaian. Tapi demonstrasi memblokir jalan bukanlah keramaian. Itu adalah kebisingan.

Kebisingan tak lebih dari suara-suara menyakitkan yang menghisap kebahagian langsung dari dasar hati. Rasa sakit adalah yang kurasakan ketika bising PSSI dan KPSI. Rasa sesak juga yang terjadi ketika orang berbising ria soal kasus korupsi. Bising hanya menghasilkan bunyi mengerikan, tidak pernah menyelesaikan masalah. Makanya aku yakin betul kebisingan adalah inspirasi JK Rowling ketika menciptakan sosok dementor.

Koranku akhirnya ku lipat, selesai sudah nasibnya. Entah akan ku buang atau ku simpan. Sebagian besar beritanya tak lebih dari kejahatan, kecurangan dan serangkaian berita tragis. Kalaupun ada berita yang baik, itu akan ditempatkan di bagian sisa. Media zaman sekarang memang mengerikan. Membacanya hanya akan menguras rasa optimis kita dan menggantinya dengan kemarahan dan kebencian. Aku adalah salah satu korbannya. Media berhasil mencuci otakku dan membuatku membenci banyak hal.

Aku membenci ketika sekelompok orang menjadi semakin kaya dimana sisanya semakin miskin. Aku membenci ketika  presiden tidak bertindak sesuai kehendakku. Aku membenci ketika kebijakan dan hukum cenderung berpihak pada yang punya duit. Aku membenci para artis yang kawin cerai. Aku membenci sandal crocs. Aku membenci justin beiber. Aku membenci Film twilight. Aku berubah menjadi monster pembenci.

itulah mengapa akhir-akhir ini aku tidak terlalu percaya media. Statusnya sekarang kusamakan dengan tukang gosip dan penyebar berita “bisik-bisik”. Lebih baik aku membaca buku. Buku tidak memaksaku percaya apa yang ditulis didalamnya. Tapi akhir akhir ini banyak buku dadakan.  Judulnya beda-beda, covernya selalu sama : ADA WAJAH ORANG TERSENYUM, BIASANYA PENULIS BUKU TERSEBUT. Mungkin itu kebijakan mendiknas untuk mencegah plagiat. Ide yang cukup bagus tampaknya.

Bosan melamun, akhirnya aku iseng mengamati orang-orang. Gerbong kereta adalah tempat yang menarik. Mungkin disinilah kita bisa menemui keragaman manusia selain di pasar. Didepanku ada gadis yang cukup manis, wajahnya jelas terlihat gusar, atau setidaknya tidak tenang. Tak salah lagi, dia sedang gundah. Sedikit sedikit dia membetulkan posisi duduknya. Seluruh bawaannya kini berfungsi sebagai komplementer pakaian dalam rangka menutupi apa yang mungkin sudah tergambar dalam benak para pria-pria dalam gerbong. Ada baiknya dia berhenti memakai rok mini ketika bepergian, siapa tahu dia tak perlu lagi hidup dijangkiti perasaan was was.

Ada lagi seorang pria di kejauhan sana. Tak terlalu tua, tapi tak muda lagi. Pria ini sedang dalam masa puncaknya. Hanya perlu sekilas pandang dan langsung terlihat bahwa pria ini pastilah menduduki posisi yang cukup bagus ditempatnya bekerja. Kubayangkan sepanjang hari dia keberja keras, dan baru pulang ketika matahari selesai shift kerja dan digantikan bulan. Itulah mengapa dia tertidur sangat pulas. Nyaman di kursi duduk sofa. Sayang dia lupa kalau itu khusus untuk para wanita tua, ibu hamil, para manula dan mereka yang memiliki keterbatasan. Tapi mungkin memang dia sangat kecapaian. Buktinya dia sama sekali tak menyadari kehadiran para wanita yang berdiri di depannya. Itulah hakikat orang tertidur. Menurut guruku, orang tertidur itu setengah mati, baik badannya, hatinya, terutama telinganya. Jadi percuma saja mengumpat dan obral sumpah serapah. Biarkanlah dia tertidur, karena esok pagi dia harus kembali bekerja.

Gerbong kereta adalah bukti bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia adalah bangsa pekerja keras. Bahkan sangat keras. Siapapun yang bilang bahwa orang Indonesia kurang giat bekerja perlu sekali kali berangkat kerja menumpang kereta diatas gerbong. Digerbong kereta, menyabung nyawa bukan lagi sesuatu yang aneh. Makanya aku yakin siapapun yang tewas ketika berangkat kerja termasuk mereka yang berjihad karena mereka berkorban jiwa dan raga demi keluarga di rumah. Itulah fungsi lain kereta, melatih masyarakat untuk siap berkorban jiwa. Tak heran, tak satupun negara di dunia ini nekat untuk menyerang kita.

Kereta jalur bogor Jakarta memiliki musuhnya sendiri : HUJAN. Setiap kali hujan, selalu saja ada yang mogok. Namun karena dinilai tak cerdas, maka pera petugas tidak pernah menyebut hujan sebagai dalang kemacetan kereta. Kerusakan sinyal lah yang selalu menjadi kambing hitam.
 Kembali ke dalam gerbong. Satu persatu stasiun dilalui. Sama persis dengan denting denting waktu yang berdetak lalu menghilang. Sebentar lagi aku sampai. Perjalanan ini dingin sekali. Sedingin beton dan besi yang membangun kota ini.


catatan : gambar diambil di situs Ini

Jumat, 14 Oktober 2011

Gua nggak butuh sholat! Buat apa sih Sholat?

ini murni kopas dari milis ini. sebenarnya pingin nyari sumber aslinya tapi ga ketemu. 
moga moga bermanfaat.
 
 
Mohon maaf bila judulnya bikin napsu ! ! ! 
insyaAllah isinya gak separah judulnya, itu cuman bikin penasaran aja. Saya cuman pengen berbagi, saya dapet email dari temen di sebuah milis. email itu isinya cerita begini:

Anak : Pa, solat itu buat apa sih?
Ortu : (menghardik) Udah, lu jangan tanya-tanya macem-macem.. kapir lu nanti!
Anak : (terdiam)

Belasan tahun kemudian, si anak bertemu lagi dengan saya. Mana saya tahu kalau dia dulu tunya-tanya kayak gitu kan ? Biar gampang, kita sebut aja dia Boni.

Saya : Woy, jumatan atuh.. orang-orang udah pada ngabur!

Boni : Hoream ah…. keur naon solat? (males ah, buat apa sholat?)

Saya : (untung ajah, dulu kenyang di plonco adik PAS) Dasar.. Ari kamu sholat buat apa?

Boni : Saya mah, sholat kalo butuh dong. Nggak solat kalo aku nggak merasa butuh. Solat itu harus merupakan kebutuhan, bukan kewajiban dong. Tuhan nggak butuh solat kita, yang butuh itu kita! Sekarang gua lagi nggak butuh solat, jadi buat apa gua solat. PEUN.

Saya : Itu betul, memang kita harus punya sense ‘butuh’ terhadap sholat. Tapi, menurut gua, kita tetep ‘wajib’ sholat, meskipun kita sedang tidak ‘butuh’.

Boni : Buat apa? Menurut gua, disitulah letak nggak gunanya solat.
Lebih cuih lagi, kalo orang solat buat ngejar ‘gelar’, gua paling nggak suka!

Saya : Maksud loe?

Boni : Ya itu, jenis-jenis manusia yang solatnya buat pamer, kalo dia itu paling soleh!! Menurut gua sih, kalo die solat seribu rokaat juge, kalo abis solat die korup, die membunuh, die menjelekkan orang, menggunjing, tetep aje die tu, lebih buruk, dibanding orang nyang gak solat tapi berbuat baik sama orang lain!

Saya : Lu bener di satu sisi..Orang yang menzalimi orang lain, meski solat, tetep lebih buruk dibanding yang gak solat tapi berbuat baik

Boni : Tuu, bener kan gue!

Saya : Tapi di sisi lain, lu juga salah Bon! Menurut saya nih, solat tetep wajib!

Boni : Salah gimane? Ah paling lu mau ngeluarin ayat.

Saya : Ok, kita pake akal aja. Nah, sekarang saya mau nanya neh. Gaji lu berapa Bon?

Boni : Rahasia dong.. yah oke deh, sekitar 3-an lah

Saya : Lu kerja berapa jam sehari tuh, buat 3-an itu? 8 jam sehari ada nggak?

Boni : Ya iya lah.. lebih kali

Saya : Selain itu, saya yakin kalo lu dapet segitu, karena skill dan gelar lu kan ? Gak cuma karena kerjaan lu. Yang jelas, pengorbanan lu untuk dapet gaji segitu, lebih banyak dari sekedar kerja 8 jam sehari. Bener gak?

Boni : Bener banget! Tapi segitu juga udah untung. Gua suka dapet bonus, jadi gua yah, berterimakasih banget dah, sama Boss gua. Dia care banget sih sama kita.

Saya : Nah, Bon, ngomong-ngomong lu pernah denger ada jual beli ginjal gak buat transplantasi?

Boni : Oh iya dong, gile, satu ginjal ada satu milyar kali! Gua sih nggak bakal jual. Gila aja kali! Ntar gua pake apa dong?

Saya : Nah lu dikasih semilyar, kok gak mau berterimakasih sama sekali?

Boni : Bentar-bentar gua nggak ngerti neh.. dikasih semilyar gimana?

Saya : Tuh, mata loe… harganya berapa? Ok, ginjal satu milyar kan ? Oh ya, belon ntu tuh, kuping, mulut, muka… hm, loba euy (banyak euy), semua jatuhnya berapa ya? Trilyunan tuh.
Tapi semuanya dikasih gratis…

Boni : ……..

Saya : Bon, Sekali lagi neh, menurut aku, sholat tetep wajib, karna, itu salah satu cara kita untuk berterimakasih sama Yang ngasih badan kita, rejeki kita, keberuntungan kita, yah, segalanya yang udah Dia kasih dah.

Kita rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan 3 juta rupiah. Kita sangat berterimakasih sama orang yang ngasih kita tambahan bonus sekedar seratus-duaratus ribu, tapi kita kadang lupa berterimakasih sama ‘seseorang’ yang ngasih kita mata, mulut, tangan, kaki, ginjal, yang harganya jauh lebih mahal kalo kita jual. Well, bahkan bisa dibilang tak ternilai harganya. CUma orang kepepet berat atau orang bodoh yang mau jual badan dia sendiri.

Memang idealnya, orang solat tuh terhindar dari perbuatan buruk. Toh solat kan aslinya mencegah perbuatan buruk, dan membuat kita terbiasa melakukan perbuatan baik. Tapi itu kalau dia menghayati makna sholat sebagai sarana mengingat Tuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban (seperti saya hehehe).

Di situasi ideal ini, selepas sholat, orang jadi mengingat kembali, betapa banyak yang Tuhan berikan dan lakukan demi kebaikan kita. Coba aja telaah arti bacaan shalat dan arti gerakan solat. So pasti lu temukan deh, banyak bacaan solat maknanya kearah ini.

Karena dia ngeh bahwa Tuhan selalu melihat, dan telah banyak berbuat buat dia, dia bakal berfikir 1000 kali buat berbuat hal yang nggak Tuhan sukai.
yah kalo solatnya sekedar nyari gelar seperti yg lu bilang sih, memang gak bakal ada manfaatnya.

Tapi lu cerdas Bon, lu juga SQ-nya tinggi, makanya lu nggak mau solat sekedar menggugurkan kewajiban. Karena itu, lu pasti ngerti bahwa solat tetep wajib, meski kita lagi nggak butuh solat. Kita wajib solat, untuk berterimakasih sama yang telah ngasih kita segalanya.

Boni : Seandainya dulu bapa gua ngejawab kayak gitu, gua mungkin gak bakal terlalu anti solat ya…
Saya : ???
Boni : Sudahlah, gak usah dibahas… Tapi thanks ya.. gua jadi ngerti neh.
================================================== =======

yah, alhamdulilah, berkat dialog yang kacrut ini (aslinya jauh lebih ngalor ngidul dan panjang), Boni sekarang rajin shalat, dan berusaha menghayati solatnya. Semoga aku jg ketularan Boni ya
teman-teman… jangan pernah berhenti mencari jawaban tentang sesuatu yang kita nggak ngerti tentang Tuhan atau agama. Banyak orang kecewa terhadap agama (apapun), kemudian jadi atheis, atau punya sekte sendiri, cuma karena pertanyaan dia tidak terjawab.

Bertanyalah pada ulama, bila belum puas, cari ulama lain, bila nggak puas juga, layangkan email ke ulama di luar negeri. Atau berdiskusilah dengan banyak teman-teman. Jangan puas dengan hanya satu jawaban. Jadilah pencari Tuhan yang sebenar-benarnya.

Bukan pencari Kebenaran Hakiki namanya, kalo cuma ngaku-ngaku aja. jangan ngaku pencari kebenaran, kalo tak pernah mencari.

buat para ortu, jangan sampai menghardik anak bila nggak ngerti ngejawab pertanyaan. Mendingan bilang terus terang aja, kalo bapa nggak bisa, ntar kita cari sama-sama. thats it
YOURE a father NOT a superhero.

sumbernya nih . . . 
 
M. Febriansyah Z
Media Center
Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU
Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Telepon : (021) 87780015 / Facsimile: (021) 87780013
E-mail : pkpu_pu...@pkpu.or.id / Website : http://www.pkpu.or.id

Rabu, 12 Oktober 2011

Waktu Adalah Pedang yang Membelah


Dalam buku “The Hobbit”, Gollum menantang Bilbo Baggins untuk bermain teka teki. Tantangan itu diajukan karena dia hendak memakan Bilbo. Terjebak dalam gua yang gelap dan penuh labirin, Bilbo tak punya pilihan lain selain menerima tantangan tersebut. Dia ingin mengulur waktu sambil menyusun rencana pelarian diri. Dalam satu kesempatan, Gollum mengajukan sebuah pertanyaan:

Benda ini makan segalanya;
Burung, binatang, pohon dan bunga;
Mengerat besi, menggigit baja;
Batu Keraspun digilingnya;
Membunuh Raja, Menghancurkan Kota
Meruntuhkan gunung sampai rata


Dalam keputusasaan, Bilbo meminta waktu untuk berfikir dahulu, dan nasib baik memang ada dipihaknya. Jawaban teka teki tadi memang waktu.

Jika umumnya teka teki dibuat menggunakan perumpamaan atau bahasa bersayap, tidak demikian dengan apa yang ditulis oleh JRR Tolkien ini. Teka teki ini begitu gamblang, begitu jelas, bahkan nyaris bukan sebuah teka teki. JRR Tolkien ingin mengingatkan kita bahwa waktu akan mengalahkan semuanya, menghancurkan segalanya. Tidak akan ada yang abadi.

Waktu akan mengakhiri segalanya. Itulah inti teka teki Gollum. Sepanjang sejarah, manusia telah melihat kebangkitan dan kehancuran sebuah masa. Orang bijak berkata, segalanya akan berlalu seiring waktu. Ucapan ini bukan sekedar pelipur lara untuk mereka yang menjalani kehidupan yang sulit Ucapan ini adalah satu-satunya yang nyata di alam yang sebenarnya fana ini.

Siapa yang menyangka bahwa Uni Soviet akan hancur pada tahun 1991? Siapa yang mengira bahwa Menara World Trade Center di New York akan roboh sepuluh tahun berikutnya? Siapa yang mengira pada tahun 2010, tentara Israel yang “konon” begitu kuat harus pulang menanggung malu setelah kalah dari Hizbullah. Siapa yang pernah bertaruh bahwa amerika ternyata impoten ketika menyerang kuba dan vietnam. Dua negara yang sebenarnya miskin. Siapa yang pernah bermimpi bahwa Saddam Husein, Muaamar Khaddafi, Husni Mubarak, dan Zine El Abidine Ben Ali akan tumbang. Bukankah mereka hidup dalam impian keabadian seperti yang pernah dikatakan Firaun di depan Musa? Siapa sangka akhirnya Steve Jobs pergi meninggalkan kita?

Manusia selalu mengira bahwa dirinya dan dunianya akan abadi. Alexander Agung dulu mengira kekaisarannya yang merentang dari Yunani sampai Himalaya akan berdiri abadi. Kaisar Pertama Cina (Qin Shi Huang) begitu mengagumi dirinya yang berhasil menyatukan seluruh kerajaan cina sehingga dia merasa titisan Dewa. Tapi waktu telah membunuh para Raja dan menghancurkan kota. Peninggalan mereka baru kita ketahui setelah kita menggalinya dari dalam tanah.

Waktu akan mengalahkan semuanya. Siapa yang menyangka ekonomi amerika yang begitu kuat akan terseok seok bukan karena perang tapi justru karena masalah defisit anggaran (yang sebenarnya karena perang juga). Ekonomi liberal kapitalis dan berbasis bunga kredit yang disembah disana justru menjadi pembunuh utama. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.

Ironis, Teriakan untuk menghentikan ekonomi kapitalis justru datang dari jantung kapitalisme itu sendiri. Ironis, karena sebelumnya pada pendemo ini kemungkinan besar dulunya adalah penganut kapitalisme dan ekonomi liberal. Begitulah kawan, Waktu akan menunjukan rupa asli manusia yang opportunis. Semakin miris karena pusat para pendemo adalah di ground zero, lapangan yang diatasnya pernah berdiri ikon kapitalisme dunia, Menara world trade centre.

Waktu menunjukan kebenaran sejati, perang melawan terorisme (islam) yang dulu diamini seluruh dunia terbukti hanya topeng Amerika untuk mengamankan pasokan minyaknya. Senjata pemusnah massal Irak yang diteriakan Bush terbukti ternyata hanya palsu belaka. Tentara Amerika dan PBB tidak pernah menemukannya dan belakangan informan CIA mengakuinya sebagai akal-akalan untuk menumbangkan Saddam. Oh ya, tahukah anda bahwa alasan utama Amerika menyerang Afganistan adalah agar pipa minyak dari Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan tidak harus melewati Rusia tapi bisa langsung melewati Afganistan? Amerika malas membayar fee ke Rusia.

Waktu membuktikan semuanya. Apa yang kita ketahui sekarang, pada dasarnya tidak diketahui sebelumnya. Apa yang tidak kita ketahui sekarang kemungkinan besar akan diketahui di masa depan. Kaum Quraisy tertawa-tawa mengejek Nabi Muhammad ketika beliau menyampaikan wahyu bahwa Kerajaan Romawi akan mengalahkan Persia. Wahyu itu turun tujuh tahun setelah pasukan romawi kalah telah dari pasukan Persia (kira kira tahun 613 M). Tujuh tahun berikutnya, para kaum Quraisy harus menelan kembali kata-katanya. Sejarah mencatat bahwa pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Begitu juga Copernicus yang akhirnya teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari (dan bukan sebaliknya) terbukti walaupun dia sebenarnya telat 900 tahun pada seorang arab penggembala kambing bernama Muhammad.

Namun waktu tidak hanya menghancurkan. Dia juga hadir untuk membangun. Dalam bukunya yang berjudul “Outliers”, Malcolm Gladwell menceritakan alasan kenapa The Beatles, Bill Gates, Steve Jobs, berhasil memperolah kesuksesan. Alasan utamanya adalah waktu yang mereka curahkan dalam perjalanan ke sana. Sebelum meledak, The Beatle menghabiskan ribuan jam manggung di kafe kafe di kota hamburg, jerman. Ketika akhirnya mereka menjadi selebriti, Mereka telah memiliki pengalaman tampil di depan public melebihi rata rata band lain saat itu, bahkan sekarang. Begitu juga dengan Bill Gates dan Steve Jobs yang menghabiskan masa mudanya di depan Komputer melebihi anak lain pada masanya. Prinsip mencurahkan sebanyak mungkin waktu untuk bekerja keras sering dinamakan kaidah 10.000 jam. Konon 10.000 jam adalah waktu yang anda butuhkan untuk menjadi benar benar ahli dalam bidang apapun. Walaupun sebenarnya inti dari kisah diatas adalah mereka yang berhasil melebihi orang lain sebenarnya telah berusaha sekeras mungkin melebihi orang lain.

Sebuah sya'ir Arab menggambarkan dengan tepat tentang hakikat sang waktu: “Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha'haa qath'aka” (Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu). Mereka yang lengah hendaknya bersiap menjadi korban. Menjadi korban karena berulangkali terhenyak, menyadari bahwa semuanya sudah telambat dan sekedar menyisakan sesal.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal : "Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4 perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya." (HR. Bazzar dan Thabrani).

Rabu, 27 Juli 2011

sebelum ramadhan gagal kembali

ramadhan itu sebenarnya cara paling mudah untuk mengetahui siapa kita. Pelanggaran berulang yang kita lakukan di setiap harinya cukuplah menjadi cermin. kemenangan? kemenangan apa yang secara sangat naif kita bayangkan? kemenangan menahan lapar? kemenangan berpuasa? Tuhan tak butuh lapar kita. lebih jauh lagi, Dia tak butuh kita.

apakah aku bisa menjadi orang yang lebih sabar. bisakah menjadi sedikit bijak, atau setidaknya, bertambah baikkah diriku? setiap tahun kita bermaaf maafan dengan dendam yang enggan beranjak. dengki seolah telah membangun peristirahatan di kalbu kita. iri dan hasud menjadi teman setia untuk bercengkarama. dikeriuhan kelamnya hati, amarah datang untuk melengkapinya. binatang, kita tak lebih dari itu

kebohongan tetaplah kebohongan. meski itu dibalut kemanusiaan. jangan tutupi itu. tahun demi tahun aku menjerit. ingin sekali berteriak. puasaku untuk diriku bukan untuk siapa siapa.

kita mengaku islam dan senantiasa menjadi penghianat atas keyakinan kita sendiri. aku tak merasa diampuni. aku merasa hidup dalam tali gantungan dari emas dan perak. menjual jiwaku pada benda benda fana. hanya untuk membeli baju baru, hanya untuk membeli oleh oleh.

dalam perenunganku, ku dengar jawaban. "itulah ujiannya..., kau pilih JalanKU atau jalan yang lain, itu terserah kamu". memang benar, naik motor saja harus lulus ujian.

sekarang pertanyaannya. apakah ramadhan kali ini kita akan gagal kembali. jujur sajalah, tahun lalu kita lalui hari hari mulia itu seolah sampah. hari hari dimana lampau sang Nabi tak lewatkan sedetikpun tanpa kebajikan dan derma justru kita lalui sambil lalu

seiring tangan munafikku menulis teks teks tak penting ini. sekeping akal sehatku yang masih tersisa tetap bertanya, apakah kau akan gagal kembali tahun ini?

Senin, 11 April 2011

KELAKUAN DPR DAN ANAK TK

Gus Dur pernah bilang bahwa tidak ada beda antara anak TK dan anggota DPR. saya pribadi tidak setuju dengan perumpamaan ini. Terus terang, dengan menyamakan Anak TK dengan anggota DPR sama saja dengan melecehkan dan menghina anak TK. kenapa saya bilang begitu? karena banyak perilaku anggota DPR, praktis jarang sekali dilakukan oleh anak TK. Jika agan agan masih ragu, mari saya buktikan.

1. Anak TK tidak pernah beramai ramai menginjak meja

2. Anak TK tidak pernah ramai ramai tidur di ruangan




3. Anak TK tidak pernah buka film porno di kelas (dan moga2 di manapun)




4. Anak TK tak pernah bikin video porno
maaf ya.. daripada saya ditangkap karena UU pornografi.. untuk ini ga ada fotonyah

5. Anak TK tidak pernah terima suap

6. Anak TK tidak pernah rusuh dan berkelahi di kelas

daftar perilaku buruk ini sebenarnya masih panjang, dan tak satupun persisnya dilakukan oleh mayoritas anak anak TK di Indonesia. oleh karena itu, sayah mendukung seluruh anak TK di Indonesia untuk menolak keras disamakan dengan anggota DPR..

Sabtu, 09 April 2011

MALINDA DEE DAN PLASTIK BASKOM

Terus terang nama Malinda dee membuat saya ngeri. Saya tidak berbicara soal kasus yang dituduhkan kepadanya. Apakah dia memang menguras isi rekening kliennya atau tidak, biarlah pengadilan yang membuktikan. Kengerian yang saya rasakan berasal dari hal lain yang ada pada diri Malinda Dee. Hal yang menurutku seharusnya tidak ada.

Semenjak kasusnya mencuat, marak orang memberikan label untuk Malinda dee. Mulai dari “pembobol bank cantik”, “pencuri sexy”, “penipu cantik” dan lain sebagainya. Seolah-olah karena cantik dan sexy maka semua kejahatannya (jika memang terbukti) bisa di”maklumi”. Tapi maaf saja, itu tidak berlaku untukku. Bagiku, “keseksian” atau “kecantikan” Malinda dee justru memberikan aura yang tidak menyenangkan.

Mungkin karena penampilan fisiknya, banyak orang menilai bahwa si tersangka pembobol citibank ini sebagai wanita yang cantik dan seksi. Namun kesan yang kudapat justru sebaliknya. Semakin sering kulihat foto-fotonya di internet, makin jelas gurat-gurat perjuangan Malinda Dee untuk membohongi umur. Dari info yang kudapat Malinda Dee berumur sekitar 47 tahun, ada pula yang mengatakan 37 tahun. Namun jelas sekali bahwa Malinda dee tidak lagi berusia 20an.

Begitu juga dengan fisiknya secara keseluruhan. Jelas sekali terpancar aura penipuan dan membohongi diri sendiri. Seorang sahabat mengatakan bahwa tubuh Malinda dee melanggar seluruh aturan hukum alam dan perlu ada penyelidikan kandungan “zat non alami” di dalamnya. Sahabat yang lain sambil berkelakar mengatakan bahwa kandungan plastik di tubuh Malinda Dee mengalahkan kandungan plastik pada boneka Barbie. Memang tak jauh jauh kawan, aku curiga bahwa Abah Silikon telah turun tangan.

Aku tak bermaksud menjustifikasi perilaku Malinda Dee. Apapun bentuknya, selama tidak merugikan orang lain, maka itu adalah hak pribadi dirinya. Aku hanya miris dengan kecenderungan dirinya untuk membohongi diri sendiri dengan harapan membohongi orang lain. yang muncul bukannya “grace from beauty” tapi justru “grave of beauty”. Sampai detik ini, tak seorangpun sahabat yang yakin bahwa penampilan Malinda Dee alami adanya. Mufakat justru tercapai untuk menentukan dimanakah abah silikon paling banyak bersemayam di tubuh Malinda Dee. Seorang sahabat dengan sinis mengatakan bahwa bisa jadi bukan silikon yang dipakai untuk mempermak tubuh Malinda Dee, taPi plastik baskom. Itulah satu satunya penjelasan mengapa “ukuran”nya tak berbeda jauh dengan baskom.

Untuk sahabat-sahabatku para wanita, ketahuilah. kami para pria memang suka dengan tubuh yang bagus. Tapi ukuran bagus itu relatif. Ada yang suka dengan yang tinggi, tapi banyak pula yang senang dengan wanita-wanita yang mungil. Ada yang selera dengan wanita kurus dan ramping, ada yang memilih wanita yang berisi. Dari sekian banyak hal hal yang relatif, ada satu hal yang pasti dan tidak akan pernah berubah. Semua laki laki menginginkan wanita yang alami, tidak dibuat buat. Menjadi cantik adalah anugerah para wanita, tapi bukan berarti dengan menjejalkan kepalsuan kepada sesuatu yang sebenarnya telah sempurna.

Sebagai penutup aku lampirkan foto Malinda Dee ketika remaja dan sekarang.

1. Waktu masih remaja

2. sekarang ketika sudah "berubah"

DAN INI ADALAH CANTIK YANG SESUNGGUHNYA....LADY DIANA..

biar udah tua, auranya makin keliatan



sayang Allah telah memanggil Lady Di...

Jumat, 11 Maret 2011

PANDUAN MEMBUAT SINETRON (2)

C. Make Up dan pakaian
Prinsip keberhasilan dalam make-up dan pakaian sangatlah sederhana. Untuk pemeran utama dan tokoh-tokoh yang sering muncul. Jangan sekali-kali menampilkan mereka tanpa make-up. Bahkan pada adegan sholat atau mengaji pun, anda harus mampu mengekspose make-up si tokoh. Akan sangat lebih bagus lagi, jika make-up menor itu tetap muncul pada saat adegan-adegan berikut ini :

1. Si tokoh terbaring di kasur rumah sakit
2. Saat sedang sekarat / sudah meninggal
3. Saat berperan sebagai hantu
4. Saat jadi pemulung/gelandangan
5. Saat tersesat di pulau terpencil selama berminggu-minggu
6. Tergeletak di jalan setelah di tabrak penjahat
7. Saat tidur atau setelah bangun tidur
8. Di tangkap polisi
9. Di dalam sel tahanan
10. Sedang dan setelah bermain bola /olahraga lainnya
11. Prosesi pemakaman
12. kerja kasar / buruh
13. terbaring koma berbulan-bulan dan terbangun dengan amnesia
14. sedang makan (sarapan, siang, malam dan ngemil)
15. sedang tamasya
16. sedang naik haji, zakat, mengaji dan sholat
17. sedang berkelahi
18. sedang luluran
19. sedang ujian atau belajar di kelas
20. Adegan lainnya yang saya tidak ingat lagi

Catatan : apapun profesi dan umur tokoh-tokoh dalam cerita, make up menor harus selalu muncul. Terlepas apakah tokoh dalam cerita berprofesi sebagai penjual asongan atau tukang sampah, Uztad, Pelajar SD-SMP-SMA, Om Senang, Tante Girang, Koruptor, Polisi, Penjahat atau lainnya, Tokoh-tokoh tersebut tidak boleh sedetikpun kehilangan aura kecantikan/kegantengannya. Ingat, faktor ganteng/cantiknya pemeran dalam cerita adalah sangat krusial dalam menentukan laku tidaknya sinetron anda.

Untuk pakaian, prinsip utama yang harus selalu dipegang teguh adalah dalam adegan apapun, kondisi apapun, jangan pernah menampilkan tokoh-tokoh utama (jagoan atau penjahat) tanpa menggunakan rumus baku kostum. Rumus ini selalu berhasil dengan level kegagalan nol persen. Jadi anda tidak boleh alpa sekalipun untuk mengamalkan rumus ini. Berikut rumus baku/pasti penentuan kostum tokoh:

1. tokoh utama dan teman-temannya selalu berpakaian sederhana atau miskin
2. tokoh penjahat selalu berpakaian mewah dan glamour
3. tokoh yang bersimpati pada tokoh utama boleh berpakaian mewah atau sederhana tergantung nilai rekening si karakter
4. tokoh yang bersimpati pada tokoh penjahat harus selalu berpakaian mewah dan glamour

Rumus ini baku dan harus berlaku untuk seluruh adegan, berikut contoh penggunaan rumus ini untuk tokoh jahat:
1. Terbaring di kasur rumah sakit mengenakan baju mewah
2. Saat sedang sekarat / sudah meninggal mengenakan baju mewah
3. Saat bangkit sebagai hantu mengenakan baju mewah
4. Tersesat di pulau terpencil selama berminggu-minggu mengenakan baju mewah
5. Tergeletak di jalan setelah di tabrak penjahat saingan mengenakan baju mewah
6. Saat tidur atau setelah bangun tidur mengenakan baju mewah
7. Di tangkap polisi mengenakan baju mewah
8. Di dalam sel tahanan mengenakan baju mewah
9. Sedang dan setelah bermain bola /olahraga lainnya mengenakan baju mewah
10. Prosesi pemakaman mengenakan baju mewah
11. kerja kasar / buruh mengenakan baju mewah
12. terbaring koma lalu terbangun dengan amnesia mengenakan baju mewah
13. sedang makan (sarapan, siang, malam dan ngemil) mengenakan baju mewah
14. sedang tamasya mengenakan baju mewah
15. sedang naik haji, zakat, mengaji dan sholat mengenakan baju mewah
16. sedang berkelahi mengenakan baju mewah
17. sedang luluran mengenakan baju mewah
18. sedang ujian atau belajar di kelas mengenakan baju mewah
19. Adegan lainnya yang saya tidak ingat lagi mengenakan baju mewah

Kembali saya ingatkan bahwa, kedisplinan anda untuk menerapkan rumus baku kostum ini berpengaruh pada laku tidaknya sinetron anda. Untuk sinetron remaja ada rumus lain yang wajib juga dilaksanakan :

1. Pelajar putri HARUS SELALU MENGGUNAKAN ROK MINI
2. Pelajar putri HARUS SELALU MENCAT WARNA WARNI RAMBUTNYA
3. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MENGELUARKAN BAJUNYA (TIDAK BOLEH DIMASUKAN)
4. Pelajar putri HARUS SELALU MENGGUNAKAN PAKAIAN SERAGAM YANG AGAK TRANSPARAN
5. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MEMAKAI DASI MENGGANTUNG DI DADA
6. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MEMAKAI HANDPHONE BARU YANG MAHAL
7. Pelajar putra HARUS SELALU GONDRONG ATAU SPIKE
8. Pelajar putra (jagoan) HARUS SELALU MEMAKAI ANTING DAN BERTATO
9. PAKAIAN SERAGAN HARUS TETAP DIPAKAI BAHKAN DI ADEGAN MALAM HARI, TIDAK ADA PENGECUALIAN
10.DALAM SINETRON REMAJA TIDAK ADA KARAKTER ORANG MISKIN.

bersambung
(nb : panduan ini hanya hasutan sesat semata....)

hidupku terancam di Trotoar...

Akhir-akhir ini jalan raya punya penguasa baru, entah kapan dipilih, entah kapan kudeta. yang pasti merekalah penguasa jalanan ibukota saat ini. Saya tidak sedang membicarakan armada kopaja atau bajaj yang legendaris itu, tapi saya sedang bicara soal satu pasukan baru penjelajah jalanan kota. Lebih cepat, lebih gesit, lebih lincah. Tak satupun, saya ulangi, tak satupun orang waras yang mau cari masalah dengan pasukan ini. Ya kawan, jika armada motor yang ada di benak saudara, maka pikiran kita sama.

Kemarin waktu berangkat rapat, aku dan taxi yang kutumpangi berjalan santai menuju suatu gedung di jalan S.Parman, kebetulan kami lewat jalur Tomang. Pada dasarnya jalanan cukup ramai, tapi lancar. Taxi yang kutumpangi bisa berjalan cukup mulus melalui jalanan sambil melewati berbagai bangunan landmark Jakarta. Obrolan dengan pak supirpun mengalir akrab. Intinya pagi itu, perjalananku cukup menyenangkan.

Tapi suasana jadi runyam ketika tiba-tiba saja, dengan kecepatan tinggi satu armada motor melewati kami dari sisi kiri. Ya kawan, sisi kiri ! tidak tanggung-tanggung, bukan satu dua motor, bukan satu dua, tapi satu armada ! saya bisa bilang satu “armada” karena jumlahnya mungkin sekitar belasan. Saya tidak bisa menghitung dengan tepat jumlahnya. Yang pasti suasana makin runyam, ketika entah sejak kapan, tanpa disadari, sirkuit sentul sudah pindah ke hadapan kami. Puluhan motor berbagai tipe menyeruak tiba-tiba seolah “menginvasi” setiap sudut jalanan dan mulai beratraksi dengan saling salip satu sama lain. Spion kiri, kaca tengah kini sama krusialnya dengan spion kanan, karena hanya Tuhan dan para “road runners” itu saja yang tahu sisi mana yang akan dipakai untuk menyalip kami. Belum lepas pikiranku soal adu salip antara motor dengan taxi, aku dihadapkan pada kenyataan miris bahwa bangsaku memang memiliki mental pemberani, namun kadang salah tempat. Di depanku, aku melihat dengan jelas beberapa motor dengan tenang penuh syahdu hendak menyalip bus kopaja yang juga sedang hendak menyalip ke depan. Ya kawan ! balapan di mulai !

Harusnya orang Indonesia ada yang masuk GP500. bukan sekedar masuk tapi juara ! harus juara, berturut-turut ! Karena bus kopaja yang semenjak jaman Bang Ben dan Kang Ibing sudah merajai jalanan kota akhirnya harus “lengser turun tahta” dan mempersilahkan teknologi roda dua dengan mesin sistem TAK untuk menjadi pangeran jalanan. Bus kopaja tadi menyerah. Tak sanggup disalip berturut-turut oleh pasukan motor yang nekad minta ampun. Bagaimana tidak nekad? Banyak pengendara yang membawa keluarga. Satu motor bisa dinaiki oleh tiga sampai empat orang (ayah ibu dan dua anak). Parahnya seringkali para anak-anak tidak memakai helm. Tak sanggup ku bayangkan wajah-wajah tak berdosa itu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun memang karakter penguasa dimana-mana cenderung sama. Tak puas menguasai jalanan, kini mereka punya program baru : invasi trotoar, halte, halaman dan jembatan. Jika anda berjalan kaki sepanjang jalur medan merdeka timur ke arah tugu tani, maka anda akan berbagi trotoar dengan para motor. Ya sobat, entah kapan aturan lalu lintas berubah, tapi yang pasti inilah yang kuhadapi selama setahun ini. Kala pulang sore hari sambil berjalan kaki, seringkali motor tanpa merasa perlu membunyikan klason muncul dari belakangku dan dengan tenang menyalip kedepan. Kalau itu belum cukup, motor – motor itu melahap lajur trotoar dengan kecepatan tinggi. Kadang aku berfikir untuk mulai berjalan kaki di tengah jalan saja.

Lanjut ke kisahku yang tadi. Kami baru saja menikmati ketenangan karena armada motor tadi sudah berlalu. Obrolan tidak beranjak jauh dari hilangnya empati dan toleransi di jalan. Akupun bisa kembali menikmati bangunan-bangunan di Jakarta. Tapi mungkin pagi itu aku harus kembali terhenyak. Miris…., sepeda motor kini parkir di halte tunggu busway. Entah siapa yang menaruhnya disitu. Yang pasti mataku merekam pemandangan motor yang berjajar di atas halte busway. Rupanya aku memang kurang gaul, karena setelah momen menyedihkan itu, kini terhampar pemandangan dimana trotoar sudah berubah menjadi parkiran tidak resmi. Gawat.

Aku tidak lagi mencari pak polisi, tak sedikitpun hasrat sumpah serapah ingin kutumpahkan pada rekan sesama abdi negara itu. Seingatku dulu waktu jaman sekolah dasar, kami diajarkan bagaimana tata krama di jalanan. Setidaknya bagaimana saling bertoleransi di jalanan. Waktu itu sekolahku jauh dari kota dan yang sekolah disanapun bukan anak kota. Entah kenapa sekarang kita makin egois, tapi lamunanku beranjak jauh lagi dimana memang ibukota betul-betul menguji moral kita sebagai manusia. Lamunanku semakin jauh kepada adagium ribuan tahun lalu : “homo homini lupus”. Arti adagium ini sangat mengerikan : “manusia adalah serigala untuk manusia yang lain”. Di kota yang penuh tekanan ini, kita memang terkadang lupa bahwa kebutuhan kita bukan sekedar fisik semata, tapi juga jiwa. Saling empati akan membawa ketenangan dalam hidup. Dengan empati, kita akan terdorong untuk saling tolong-menolong. Moga-moga momen ramadhan ini bisa membukakan hati kita semua, moga-moga jiwa kita tidak di korupsi oleh “kekejaman” kota yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Amin. Dan sekarang aku kembali bekerja sambil mendengarkan lagu “every hurts” dari R.E.M