Nyamuk nyamuk beterbangan kesana kemari. Aku tak perduli. Berbulan bulan mereka menghilang kini mereka kembali. Biarlah saja. Memang sudah waktunya mereka ada. Seperti biasa, seperti tahun tahun sebelumnya.
Lagipula aku dan mereka punya perjanjian tidak tertulis. Mereka bebas menghisap darahku, dan sebagai balasannya aku bebas menghabisi nyamuk nyamuk malang yang terlalu rakus. Terlalu rakus sehingga mereka menjadi lamban dan tidak waspada. Perjanjian yang adil.
Lagipula para penghuni lain seperi cecak dan laba laba turut bergembira dengan kehadiran para nyamuk. Akan ada anak anak cecak yang sehat dan kenyang, akan ada laba laba muda yang meneruskan jejaring halus karya orang tuanya.
Itulah hidup, kematian yang satu merupakan kehidupan dari yang lain. Sangat adil. Karena cecak dan laba-laba hanya mengambil seperlunya. Selama perut mereka kenyang dan anak anak mereka terpenuhi kebutuhannya, tak perlu lagi membunuh. Tak perlu ada nyawa lain yang dikorbankan. Tak ada timbunan nyamuk dijaring laba-laba, karena tak ada perdagangan nyamuk antara mereka. Tak akan ada kenaikan harga bangkai nyamuk di pasaran.
Itulah hidup didalam kamar kostku. Cecak sibuk mencari nyamuk dan lalat. Laba-laba sibuk menjaring sisanya. Kecoa sibuk melarikan diri dariku, dan setelah para kecoa lari, aku sibuk menulis. Aku tak khawatir dengan nyamuk, karena mereka sibuk lari dari cecak dan laba-laba. Harmonis sekali.
Sebenarnya ada penghuni lain di kamarku. Jumlahnya banyak, bergerombol menghabiskan tempat. Kerjanya hanya diam dan menunggu ajal. Ajal yang akan sangat lama sekali berkunjung. Mereka tak pernah bergerak, kerjanya hanya diam dan berdebu. Jika telah berdebu, akulah yang kena batunya untuk membersihkan mereka. Sama seperti pernikahan, siapa suruh aku memasukan mereka kekamarku. Kamar yang kuanggap sebagai area privat yang tak sembarang orang boleh masuk. Karena mereka sudah menjadi penghuni tetap. Akulah yang harus mengambil tanggung jawab.
Tumpukan buku buku ini telah menemaniku selama bertahun tahun. Ada yang sudah tua dan menguning. Ada yang masih muda dan baru. Tapi mayoritas masih terawat. Harap maklum, aku tak mengenal istilah meminjamkan buku. Cintaku posesif. Bukuku hanya untuk aku. Selamanya. Jika mau membaca, silahkan saja. Tapi luangkan waktu membacamu di kamarku. Karena setiap pecinta akan remuk redam kalbunya melihat cintanya dibawa pergi. Intinya mudah saja kawan, kau boleh baca, Jangan dibawa pulang.
Aku semenjak kecil selalu dididik untuk menghargai buku. Terlebih lagi ketika buku adalah sebuah benda mewah dan ajaib untuk kami. Kebiasaan ini menular. Aku pernah mengkoleksi (atau tepatnya menyimpan) tumpukan Koran olahraga yang aku beli secara rutin selama bertahun tahun. Koleksi itu tetap ada ditempatnya sampai ketika ibu mengancam bahwa entah Koran Koran itu yang pergi atau baju bajuku yang akan disimpan diluar.
Jika para wanita menjadi gelap mata ketika bersentuhan dengan tas, perhiasan, hak tinggi, sepatu, baju dan benda benda duniawi lainnya. Aku menjadi begitu bersemangat jika ada di toko buku, dan ketika toko itu memasang harga diskon, aku serasa menghisap ganja dan melayang jauh ke angkasa.
Berapa lama yang kau habiskan untuk membaca novel harry potter? Tiga hari? Empat hari? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca novel Dan Brown? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca literatur social? Aku cukup satu hari. Sombong memang, tapi itulah kenyataannya. Pengecualian hanya terjadi untuk Al-Quran. Kitab ini adalah ilmu Allah yang Maha Luas, manusia selama berabad-abad belum selesai mengkajinya. Aku tak pantas menjadikannya arena pacuan adu cepat khatam. Tiap lembarnya adalah bijak dan selamatnya hidup. Tiap menit membacanya adalah dunia yang mengecil dan semesta yang semakin tersingkap. Kitab ini terlalu mulia untuk sekedar dibaca. Kitab ini adalah hidup manusia.
Sebagai pecinta buku, jangan heran jika hadiahku padamu akan berupa buku. Ketika aku menghadiahkan sesuatu untuk seseorang, itu artinya aku ingin mereka bahagia. Tapi ketika aku memberikan padamu sebuah buku. Itu artinya aku ingin kau membacanya dan berbahagia dengannya. Itu artinya aku ingin berbagi sepotong kehidupanku denganmu. Sebagian orang sayangnya, melihatnya sebagai membosankan.
Tapi menjadi pembaca buku tidak melulu berkutat dengan kertas-kertas. Ada kebijakan yang orang abaikan. Ada pemahaman yang orang lupakan. Ada tujuan yang orang belokan. Buku adalah kebijaksanaan yang merendahkan dirinya semata-mata supaya dia difahami orang banyak. Sebuah upaya yang mulia dengan hasil yang seadanya.
Biasanya orang yang hobi membaca pintar menulis puisi. Biasanya, tapi tidak juga. Tapi aku tahu pasti, orang yang hobi membaca banyak menulis puisi. Entah tentang gundah gulana, entah tentang riang gembira. Sekedar unek unek atau riuh riuh hari harinya. Tulisan mereka tajam, dipenuhi untaian kata kata yang banyak orang tak kenal atau dengar sebelumnya. Seringkali begitu aneh sehingga hanya Tuhan dan pembuatnya sendiri yang faham. Para pembaca buku memang selalu memiliki sisi yang hanya untuk mereka sendiri. Tidak untuk orang lain, tidak untuk diceritakan, tidak untuk dibagikan. Cukup Tuhan dan dia.
Nyamuk sudah pergi, pertanda koloni mereka kekurangan serdadu. Siklus kehidupan berputar cepat rupanya. Aku harus mengakhiri tulisan ini. Karena tak ada lagi yang perlu ku bagikan untukmu. Lagipula kau pasti malas menerima hadiah buku dariku.
Blog ini tentang lifehacks alias hal-hal yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Penulis bisa dihubungi firmansyafei@gmail.com atau syafei_firman@yahoo.com
Tampilkan postingan dengan label hasil ngelamun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hasil ngelamun. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Agustus 2011
Rabu, 27 Juli 2011
catatan seorang pertapa
Aku tidak suka sinetron. tayangan seperti itu lebih cocok ditujukan untuk metode interogasi polisi. itulah kenapa aku lebih memilih mendekam sendiri di kamar daripada ikut ramai memelototi siaran terkutuk itu. jadilah diriku ini pertapa ditengah keramaian. orang lain berkumpul bercengkerama, aku sendirian saja.
tapi tidak mengapa. semenjak kecil aku memang lebih akrab dengan kesendirian daripada keramaian. aku lebih nyaman bersama benda benda mati berlabel mainan daripada berkumpul bersama sesama manusia.
bahkan tahun kelahiranku pun seolah mengisyaratkan bahwa aku akan hidup dalam alam yang berbeda. 1984 adalah tahun dimana generasi yang lahir dikampungku hanya diisi oleh dua orang saja. aku dan seorang lagi. nasib keduanya sama. kami sama sama asing di kampung halaman dan sibuk berjuang untuk mencari tempat kami di dunia ini. perjuangan yang seringkali gagal
aku ingat masa masa kecilku. terlalu muda untuk bergaul dengan rekan rekan yang lain. terlalu besar untuk bermain dengan generasi sesudahnya. tapi alasan utamanya sebenarnya lebih dalam dari itu. itu telah ada didalam darahku.
mungkin kalau ada psikolog jaman SD, mesti ini hasilnya. Firman Syafei : semenjak kecil, sudah terlihat cukup cerdas dalam pelajaran, tapi cukup bodoh untuk memahami cara bergaul dengan sesama. tidak betul betul bisa cocok dalam kelompok. kurang dalam sosialisasi. outsider
tapi itu semua bukan murni kesalahanku. pergaulan selalu didasarkan kepada kesamaan minat. entah itu mainan baru, video game, olahraga, musik, ketenaran, atau kepintaran. aku tidak pernah punya mainan yang bisa dibanggakan waktu itu, tidak mampu membeli video game, tidak punya bakat olahraga, gagap bermusik, miskin ketenaran, dan selalu kalah dalam kepintaran dari bintang kelas. temanku banyak, tapi tidak benar benar bisa akrab.
menginjak SMU, semuanya semakin kapitalis. aku menjadi orang pinggiran di pusaran elit perkotaan. atau setidaknya itu yang aku pikir waktu itu. Seperti semua anak yang baru puber. Diriku mencoba mencari jati diri. Tapi maaf saja, di kota, jati diri ditentukan berapa uang yang kau miliki. Iri sekali jika melihat kawan kawan yang jadi pusat perhatian. envy.. dan dada semakin sakit ketika kau bertemu cinta pertamamu dan detik itu pula kau tahu.. bahwa cinta itu untuk dilupakan. dia putri angsa dan putri angsa butuh pangeran berkuda. sayang sekali, kuda tersebut telah ditambatkan dan sang pangeran telah menanti. so i killed the very first love.. it died painfully.
kuliah. kuliah bagi keluargaku adalah satu kata yang asing sampai tahun 2002 tiba. tak satupun anggota keluargaku yang jejak sendalnya pernah menginjakan kaki di lantai para cendikia. manusia semakin aneh aneh saja. ekstrim kanan, ekstrim kiri, idealis, agamis, hedonis, komunis, ateis, sosialis, hipokrit, anarkis, oportunis,tinggal pilih saja. aku lebih memilih belajar dengan baik. aku semakin baik dalam berorganisasi, tapi bukan dalam sosialisasi. bertahun tahun aku mendengar sebuah terminologi asing yang bertahun tahun pula aku tidak pernah miliki. terminologi itu bernama : "teman curhat"
face it lad, i dont have it. aku menelan mentah mentah semua masalahku dan ku selesaikan semampuku. beruntung Allah bermurah hati sehingga sebagian besar masalah itu berlalu. kecuali ketika sahabatku berhianat dan meninggalkan lubang besar di hatiku. lubang itu menamakan dirinya sendiri "monumen kebodohan firman syafei". pada lubang itu aku menggoreskan ungkapan kepahitan abadi : homo homini lupus, kata latin yang berarti manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. temanku itu salah satunya.
baiklah, sekarang bekerja. aku menjadi pertapa di kost. aku kesulitan untuk memahami gaya pergaulan teman teman. beda budaya, beda cara. jadilah aku disini saja, berteman dengan kotak berlayar. dikantor cukup sulit juga. baru kemarin-kemarin bisa menemukan teman ngobrol.
tapi aku tetap seorang penyendiri.
tapi tidak mengapa. semenjak kecil aku memang lebih akrab dengan kesendirian daripada keramaian. aku lebih nyaman bersama benda benda mati berlabel mainan daripada berkumpul bersama sesama manusia.
bahkan tahun kelahiranku pun seolah mengisyaratkan bahwa aku akan hidup dalam alam yang berbeda. 1984 adalah tahun dimana generasi yang lahir dikampungku hanya diisi oleh dua orang saja. aku dan seorang lagi. nasib keduanya sama. kami sama sama asing di kampung halaman dan sibuk berjuang untuk mencari tempat kami di dunia ini. perjuangan yang seringkali gagal
aku ingat masa masa kecilku. terlalu muda untuk bergaul dengan rekan rekan yang lain. terlalu besar untuk bermain dengan generasi sesudahnya. tapi alasan utamanya sebenarnya lebih dalam dari itu. itu telah ada didalam darahku.
mungkin kalau ada psikolog jaman SD, mesti ini hasilnya. Firman Syafei : semenjak kecil, sudah terlihat cukup cerdas dalam pelajaran, tapi cukup bodoh untuk memahami cara bergaul dengan sesama. tidak betul betul bisa cocok dalam kelompok. kurang dalam sosialisasi. outsider
tapi itu semua bukan murni kesalahanku. pergaulan selalu didasarkan kepada kesamaan minat. entah itu mainan baru, video game, olahraga, musik, ketenaran, atau kepintaran. aku tidak pernah punya mainan yang bisa dibanggakan waktu itu, tidak mampu membeli video game, tidak punya bakat olahraga, gagap bermusik, miskin ketenaran, dan selalu kalah dalam kepintaran dari bintang kelas. temanku banyak, tapi tidak benar benar bisa akrab.
menginjak SMU, semuanya semakin kapitalis. aku menjadi orang pinggiran di pusaran elit perkotaan. atau setidaknya itu yang aku pikir waktu itu. Seperti semua anak yang baru puber. Diriku mencoba mencari jati diri. Tapi maaf saja, di kota, jati diri ditentukan berapa uang yang kau miliki. Iri sekali jika melihat kawan kawan yang jadi pusat perhatian. envy.. dan dada semakin sakit ketika kau bertemu cinta pertamamu dan detik itu pula kau tahu.. bahwa cinta itu untuk dilupakan. dia putri angsa dan putri angsa butuh pangeran berkuda. sayang sekali, kuda tersebut telah ditambatkan dan sang pangeran telah menanti. so i killed the very first love.. it died painfully.
kuliah. kuliah bagi keluargaku adalah satu kata yang asing sampai tahun 2002 tiba. tak satupun anggota keluargaku yang jejak sendalnya pernah menginjakan kaki di lantai para cendikia. manusia semakin aneh aneh saja. ekstrim kanan, ekstrim kiri, idealis, agamis, hedonis, komunis, ateis, sosialis, hipokrit, anarkis, oportunis,tinggal pilih saja. aku lebih memilih belajar dengan baik. aku semakin baik dalam berorganisasi, tapi bukan dalam sosialisasi. bertahun tahun aku mendengar sebuah terminologi asing yang bertahun tahun pula aku tidak pernah miliki. terminologi itu bernama : "teman curhat"
face it lad, i dont have it. aku menelan mentah mentah semua masalahku dan ku selesaikan semampuku. beruntung Allah bermurah hati sehingga sebagian besar masalah itu berlalu. kecuali ketika sahabatku berhianat dan meninggalkan lubang besar di hatiku. lubang itu menamakan dirinya sendiri "monumen kebodohan firman syafei". pada lubang itu aku menggoreskan ungkapan kepahitan abadi : homo homini lupus, kata latin yang berarti manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. temanku itu salah satunya.
baiklah, sekarang bekerja. aku menjadi pertapa di kost. aku kesulitan untuk memahami gaya pergaulan teman teman. beda budaya, beda cara. jadilah aku disini saja, berteman dengan kotak berlayar. dikantor cukup sulit juga. baru kemarin-kemarin bisa menemukan teman ngobrol.
tapi aku tetap seorang penyendiri.
Kamis, 14 April 2011
JAUHKAN AKU DARI ORGAN TUNGGAL !!!!...
Jujur, Aku tidak suka organ tunggal. Bukan karena pemain musiknya, tapi lebih kepada suasana yang ditimbulkannya. Setiap kali kantor mengadakan acara kebersamaan, selalu saja dimasukan acara hiburan berupa organ tunggal.Yang jadi masalah bukanlah organ tunggalnya, tapi pilihan lagu yang dimainkannya. Itulah masalah utamaku. Bukannya sok stylish, tapi aku memang termasuk pemilih kalo urusan lagu.
Terus terang aku bosan mendengar lagu-lagu itu itu saja yang dimainkan setiap kali ada acara kantor. Tembang pilihannya pastilah tak jauh jauh dari hits hits klasik (baca: jadul) yang rentang tahunnya mulai dari tahun 60an dan mentok di tahun 80an awal. Jika pilihan lagu tadi sudah habis, pilihan pastilah berganti ke lagu lagu daerah yang lagi-lagi itu itu saja dan tenar ketika sebagian besar generasi sekarang belum lahir. Bukan maksudku untuk anti lagu daerah, tapi harus kita akui, lagu lagu daerah ditinggalkan karena memang tak mau mengikuti perkembangan jaman. Lagu baru saja belum tentu disukai, apalagi lagu lama yang seolah sakral dan pantang dimodifikasi?
Situasi makin buruk ketika dangdut mulai dimainkan. Entah siapa yang akan memulai, tapi selalu saja ada “sesi” joged bersama. Jika itu yang terjadi, aku lebih memilih untuk menyingkir dan mencari teman ngobrol. Hal yang sama kulakukan ketika lagu “poco-poco” dimainkan. Aku sendiri penasaran kenapa lagu ini seolah jadi lagu wajib nasional jika ada acara hiburan. Tidak di pemerintahan, tidak di swasta, sama saja. Ketika teman-teman sibuk “goyang poco-poco” biasanya aku hanya duduk dan melihat. Mungkin aku jadi terkesan “tidak gaul” atau “tidak asik”, tapi terserahlah, karena ini urusan selera. Oleh karena itu aku tidak pernah mengganggu atau mengejek, selama teman-temanku suka, that's fine with me. Tapi urusan joged-joged ini bisa jadi urusan serius, suatu saat aku pernah hilang feeling karena wanita yang aku suka ikut goyang poco-poco, dan tiba-tiba saja terbersit keraguan dalam hati. “Lupakan saja....” kataku membatin.
Pada dasarnya aku bukan ingin usil dengan hobi orang lain. Bukan urusanku juga untuk menghakimi selera musik seseorang. Karena selera bukan soal benar dan salah. Tapi urusan cara menikmati hidup. Aku sendiri tidak akan memaksakan pilihan laguku untuk disukai orang lain. Tapi satu hal saja yang aku minta. Jauhkan aku dari organ tunggal. Sungguh, selama aku ketemu organ tunggal, baik waktu acara kantor, kawinan, atau kampanye, pilihan lagunya selalu saja tidak asik untukku dengar. Aku bukan tipe-tipe yang sok "ikut seru-seruan". Aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa goyang poco-poco itu tidak "segitu" serunya, bahkan biasanya saja. aku juga tidak ragu untuk mengatakan bahwa lagu "kemesraan" sebaiknya dilarang saja, karena sudah terlalu sering dinyanyikan. Tapi kalau ada yang ingin, silahkan saja. Asal jangan paksa diriku.
oleh karena itu, sampai tiba waktu lagu padi, sheila on 7, Nidji, GIGI, kla project, linkin park, the coors, atau L'Arc En Ciels dimainkan oleh organ tunggal. Aku lebih memilih duduk bersama dan mengobrol saja.. dibawah cemerlang rembulan, ditemani semilir keredupan.
saking seringnya waktu hidup goyang poco-poco, ini yang terjadi setelah mati :
sumber disinih
Terus terang aku bosan mendengar lagu-lagu itu itu saja yang dimainkan setiap kali ada acara kantor. Tembang pilihannya pastilah tak jauh jauh dari hits hits klasik (baca: jadul) yang rentang tahunnya mulai dari tahun 60an dan mentok di tahun 80an awal. Jika pilihan lagu tadi sudah habis, pilihan pastilah berganti ke lagu lagu daerah yang lagi-lagi itu itu saja dan tenar ketika sebagian besar generasi sekarang belum lahir. Bukan maksudku untuk anti lagu daerah, tapi harus kita akui, lagu lagu daerah ditinggalkan karena memang tak mau mengikuti perkembangan jaman. Lagu baru saja belum tentu disukai, apalagi lagu lama yang seolah sakral dan pantang dimodifikasi?
Situasi makin buruk ketika dangdut mulai dimainkan. Entah siapa yang akan memulai, tapi selalu saja ada “sesi” joged bersama. Jika itu yang terjadi, aku lebih memilih untuk menyingkir dan mencari teman ngobrol. Hal yang sama kulakukan ketika lagu “poco-poco” dimainkan. Aku sendiri penasaran kenapa lagu ini seolah jadi lagu wajib nasional jika ada acara hiburan. Tidak di pemerintahan, tidak di swasta, sama saja. Ketika teman-teman sibuk “goyang poco-poco” biasanya aku hanya duduk dan melihat. Mungkin aku jadi terkesan “tidak gaul” atau “tidak asik”, tapi terserahlah, karena ini urusan selera. Oleh karena itu aku tidak pernah mengganggu atau mengejek, selama teman-temanku suka, that's fine with me. Tapi urusan joged-joged ini bisa jadi urusan serius, suatu saat aku pernah hilang feeling karena wanita yang aku suka ikut goyang poco-poco, dan tiba-tiba saja terbersit keraguan dalam hati. “Lupakan saja....” kataku membatin.
Pada dasarnya aku bukan ingin usil dengan hobi orang lain. Bukan urusanku juga untuk menghakimi selera musik seseorang. Karena selera bukan soal benar dan salah. Tapi urusan cara menikmati hidup. Aku sendiri tidak akan memaksakan pilihan laguku untuk disukai orang lain. Tapi satu hal saja yang aku minta. Jauhkan aku dari organ tunggal. Sungguh, selama aku ketemu organ tunggal, baik waktu acara kantor, kawinan, atau kampanye, pilihan lagunya selalu saja tidak asik untukku dengar. Aku bukan tipe-tipe yang sok "ikut seru-seruan". Aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa goyang poco-poco itu tidak "segitu" serunya, bahkan biasanya saja. aku juga tidak ragu untuk mengatakan bahwa lagu "kemesraan" sebaiknya dilarang saja, karena sudah terlalu sering dinyanyikan. Tapi kalau ada yang ingin, silahkan saja. Asal jangan paksa diriku.
oleh karena itu, sampai tiba waktu lagu padi, sheila on 7, Nidji, GIGI, kla project, linkin park, the coors, atau L'Arc En Ciels dimainkan oleh organ tunggal. Aku lebih memilih duduk bersama dan mengobrol saja.. dibawah cemerlang rembulan, ditemani semilir keredupan.
saking seringnya waktu hidup goyang poco-poco, ini yang terjadi setelah mati :
sumber disinih
Rabu, 13 April 2011
KETIKA KAU BERTEMU DENGAN KEPAHITAN
Kau tahu? terkadang kepahitan tidak datang sekonyong-konyong. Dia datang bertahap. langkah demi langkah. Begitu teratur sehingga seringkali, mereka yang akhirnya bersua dengan pahit melayangkan pandang ke langit dan menjatuhkan tatap ke tanah seraya berkata "seharusnya aku sadari sedari dulu...."
Demikianlah adanya kepahitan. getir bukanlah sesuatu yang didambakan, apalagi untuk dilayangkan undangan. dia bukanlah tamu agung, dia bukanlah kerabat pengobat rindu.
Begitu getir sehingga mereka berharap begitu rupa. Berandai-andai bahwa hidup bisa di ulang dan lembar-lembar masa lalu adalah hayalan yang cela untuk diucapkan. Demikian adanya sang tamu, duhai sahabat.. dia terkadang mengetuk pintu dan beranjak masuk. sungguh sahabat, seiring dia bertamu, maka seluruh duniamu akan menyambut dengan menutupi sinar dengan kelam.
Tapi duhai sahabat, setiap gores-gores kalimat yang kutulis untukmu sebenarnya hanya ulangan dari gurat-gurat kisah yang kau alunkan untukku. ingatkah kau waktu itu? ketika kehidupanku tak lebih dari padang kosong yang ramai dengan belulang kenangan. Waktu itu kau datang, berkata bahwa sang pahit menebarkan sedih dan gelap, untuk ku siram dengan jiwa yang tersisa sehingga pada masanya akan ku tuai bulir-bulir kehidupan?
ingatkah kau duhai sahabat? ingatkah kau ketika hanya dirimu yang tersenyum padaku di padang belulang?... sekarang ku lihat kau termenung, dan kulihat senda guraumu dengan sang pahit.
ah.., begitu adanya.. kulihat bahwa kau telah menduganya semenjak awal. Bahwa kepahitan akan datang, bahkan kali ini dia tidak datang untuk bertamu. dia datang untuk tinggal. duhai sahabat, gerangan kutukan pahit apa yang telah berlaku untukmu?
dan kau tersenyum, dan bertutur bahwa ini semua merupakan rencanamu semenjak awal. kepahitan adalah teman satu satunya yang kau percayai. kau katakan padaku bahwa kepahitan bersedia untuk menunjukan jalan..
jenius. sungguh sahabat, kau telah tahu semenjak awal bahwa hanya ada satu pilihan. kau telah melihat bahwa dunia berkhianat padamu dan kenyataan telah berselingkuh dengan musuhnya sendiri. kau telah melihat bahwa hanya ada satu pilihan untuk melepaskan diri dari pusaran palsu dan tipu daya. kau tahu bahwa kejujuran hanya bersemayam pada sang pahit. bahwa telah lama sang murni berkeluh kesah kepada kepahitan tentang ramainya kampung halamannya dengan abu. begitu banyak abu-abu, demikian katamu.
bijak adanya ketika kau katakan bahwa sang pahit tidak datang untuk mengambil jiwamu pergi. karena dia datang bersama kejujuran dan kebenaran. Ketika kau tahu bahwa pusaran nasib tak memberi pilihan, kau tahu hanya kepada pahit kau bisa mengadu.
duhai sobat, tegapkanlah dadamu. Usah kau sedih melihatku detik ini. Bersahabat dengan kepahitan adalah pilihanku. sungguh sobat, kepahitan adalah teman yang baik. ingatkah ketika kita semua berjalan bersama? ingatkah ketika kau menunjukan jalan, aku memikul beban dan kepahitan menjaga jiwa kita. Menjaga akal sehat kita sehingga langit tetap menjadi langit dan bumi tetap menjadi bumi. Ingatkah masa-masa ketika semuanya tak beraturan dan hanya kita saja yang tetap berjaya.
marilah sobat, jamuan anggur ini tak akan lengkap tanpamu. kepahitan telah menuangkan kegetiran untuk kita teguk bersama. sungguh aku sepi tanpamu sobat, gelas gelas ini telah penuh dan pahit telah menghiasinya dengan daun daun kenyataan. kursi untukmu sobat, kursi ini hanya untukmu.
(di tulis bukan karena cinta, bukan karena harta, semata-mata hanya karena aku memutuskan untuk bersahabat dengan setiap pahit yang bertamu dengan hidupku dan itu menjaga akal sehatku)
Langganan:
Postingan (Atom)

