Awalnya tidak ada yang aneh ketika sebuah perusahaan membuat iklan obat masuk angin dengan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo". Memang sih, Bejo bukan kata yang umum, terutama bagi saya yang orang Sunda.
Kata "Bejo" yang berarti "beruntung" hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata "bejo", sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.
Kata "Bejo" yang berarti "beruntung" hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata "bejo", sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.
Alasan Pemilihan jargon "Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo" sangat gampang ditebak. Jargon ini dipilih sebagai respon iklan produk pesaing yang mengusung jargon "Orang pintar ya Minum Tol*k Angin". Iklan ini punya dua target. Pertama, iklan ini ingin menggiring alam bawah sadar konsumen bahwa ketika masuk angin, cara cerdas dan pintar untuk mengobatinya adalah dengan minum Tol*k Angin.
Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga "dipilih oleh kalangan pintar" ketika mereka masuk angin.
Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga "dipilih oleh kalangan pintar" ketika mereka masuk angin.
Iklan "Orang Pintar" menghajar produk-produk pesaing di tempat yang tepat. Karena sebagus apapun produk anda, "orang pintar" tidak minum produk tersebut. Lagipula, ketika masuk angin, cara "pintar" untuk mengatasinya adalah minum Tol*k Angin.




