Sabtu, 19 Januari 2013

MASA DEPAN PERMODALAN USAHA KECIL (BAGIAN II)

Pada tulisan yang lalu saya membahas soal bagaimana UMKM di indonesia di kepung oleh demikian banyak pesaing kelas berat. Dihajar didalam negeri, di ancam produk luar negeri. Bantuan modal dari perbankan sulit diakses. Lengkap sudah derita usaha MKM di negara ini.

Demikian banyak sektor UMKM yang sekarang nafasnya tinggal senen kamis. Pertanian pelan-pelan digerogoti properti, manufaktur menghitung hari akibat impor produk cina.Tapi yang akan saya bahas sekarang adalah sektor perdagangan retail yang menurut saya nyawanya tinggal di tenggorokan dan bisa jadi satu-satunya jalan adalah mengucap Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun.

Demikian banyak warung-warung kecil yang bangkrut dihantam oleh serbuan minimarket. Dengan kemampuan finansial yang dimilikinya, jaringan retail minimarket mampu menghadirkan fasilitas kenyamanan, kebersihan, produk yang variatif dan harga yang diklaim lebih murah (saya ragu mengingat harga belum termasuk pajak, kembalian Rp.50 selalu ditilep tanpa izin, dan kembalian recehan di tukar dengan permen). Bisa ditebak, konsumen datang berbondong-bondong.

Kamis, 17 Januari 2013

MASA DEPAN PERMODALAN USAHA KECIL (BAGIAN I)

Pembiayaan, atau banyak orang menyebutnya sebagai permodalan, selalu menjadi masalah utama bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan usahanya. Apalagi ketika baru akan memulai usaha. Berapa banyak ide ide kreatif yang harus terhambat hanya karena pemilik ide tersebut tidak memegang lembaran-lembaran rupiah yang memadai untuk mendanai usahanya. Begitu juga yang dialami oleh sebagian besar pelaku usaha di Indonesia. Mayoritas pelaku usaha di indonesia adalah UMKM dan sebagian besar dari mereka kesulitan dalam pendanaan.
Di era globalisasi ini, dimana saya lebih nyaman menyebutnya era tarung bebas, faktor dana menjadi sangat berpengaruh dalam dunia usaha. Dalam beberapa tahun ini, UMKM nasional dihadapkan kepada medan pertarungan (atau pembantaian) bernama pasar bebas. Prinsip utama dari pasar bebas adalah semua orang berhak untuk masuk dan berusaha kemana saja, dengan hambatan yang seminim mungkin. Diatas kertas, konsep ini indah nian. Seolah-olah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha dan mengais (atau menggaruk?) rezeki. Konsep ini selintas menggambarkan keadilan sosial untuk semua, bahwa kue ekonomi tidak dimiliki sekelompok orang saja.
Faktanya? Maaf saja, jauh dari kertas tadi. Ya, bahwa pada pasar bebas, semua orang merdeka untuk berusaha dimana saja. Tapi disinilah masalah dimulai. Untuk memudahkan diskusi ekonomi ini, mari kita mengandaikan bahwa ekonomi adalah hadiah yang diperebutkan dan pasar adalah ring tinju dimana para pelaku usaha adalah petinjunya. Alih-alih membagi-bagi pertandingan tinju ke berbagai kelas sesuai beratnya, pasar bebas mempersilahkan Mike Tyson untuk bertarung melawan (dengan segala hormat) Chris John. Sulit membayangkan Pahlawan kita Chris John menjadi sansak hidup si Leher Beton. Tapi itulah yang terjadi saat ini, masih tidak percaya? Tengoklah warung – warung kecil yang sekarang sekarat dihajar usaha-usaha tertentu yang namanya kompak berakhiran “Mart”.

Jumat, 21 September 2012

Mari pasang nyawa untuk Foke, Mari mati-matian membela Jokowi,


             Minggu ini denyut kota Jakarta, berdetak keras. Pasalnya, ada pemilihan kepala kampung baru yang akan memimpin Jakarta selama lima tahun kedepan (setidaknya itu bunyi pengumuman di KPU setempat). Mereka yang berKTP jakarta otomatis (seharusnya) memiliki hak untuk turut serta dalam urusan ini. biarpun kontribusinya tak lebih dari melubangi kertas suara. Justru kertas-kertas berlubang inilah yang akan menentukan apakah Pak Kumis atau Mas Kotak-kotak yang duduk di kursi empuk gubernur Jakarta.

                Saya tak tertarik untuk membahas keduanya. Selain saya bukan warga Jakarta, sudah terlalu banyak diskusi dan debat kusir soal dua orang ini. Saya justru tertarik dengan adu silat antara para pendukung masing masing cagub. Mengapa? karena meski tidak mendapatkan keuntungan ekonomi atau sosial secara langsung, kita bisa melihat begitu banyak pendukung masing-masing cagub yang seolah "berani mati" atau setidaknya "pasang badan" untuk membela jagonya. 

Senin, 30 Juli 2012

Acara Sahur (itu) Terburuk Tak Layak Tonton!



Seorang pria mendorong temannya sampai jatuh. Diiringi tertawaan dari teman-temannya yang lain. Seorang yang lain mengejek temannya, terkadang membuka aib, lagi-lagi diikuti gelak tawa. Pada momen lain, komunikasi diantara mereka hanya berisi saling melecehkan atau kekerasan. Alasannya? Agar orang yang melihat tertawa. Demikianlah, isi seluruh acara sahur itu tak lebih dari kekerasan, pelecehan, rasisme, membuka aib, penghinaan yang ternyata “boleh” ditertawakan. Memang pada akhirnya (menit-menit injury time) datang seorang yang berpeci, berjubah, dan bersorban (yang konon seorang alim ulama) untuk sekedar membaca khotbah-khotbah yang sudah tercetak dalam naskah. Nilai yang bisa diambil dari acara ini? Menertawakan penderitaan orang lain adalah baik. Tertawalah sekarang.

Di chanel lain, isinya berjubel dengan kuis-kuis berhadiah. Lengkap dengan sponsor disana sini. Isinya adalah “dakwah” tentang provider telekomunikasi yang perlu anda beli, sirup yang harus anda minum, cemilan yang harus disajikan untuk berbuka, atau pakaian yang perlu diborong.  Ada Iklan yang menjual handphone dengan bonus software kitab suci. Pesan iklan itu? Tingkatkan iman dengan membeli handphone, sungguh mengerikan. Ramadhan adalah tentang berbagi, namun acara ini menantang langsung dengan berteriak lantang : “BELI dan MILIKI, karena tanpa produk yang kami tayangkan, Idul Fitri Kalian akan BASI!!!”. Nilai yang bisa diambil dari acara ini? Konsumerisme adalah jalan menuju ampunan Tuhan.

Kamis, 03 Mei 2012

KENAPA KITA HARUS BERINVESTASI ? (3) : Mengelola pendidikan


  Untuk mereka yang sudah memiliki keluarga, biaya pendidikan adalah kebutuhan yang benar-benar memusingkan. Program pendidikan yang ditetapkan pemerintah menghabiskan waktu minimal 16 tahun. Untuk mereka yang mengambil jenjang lanjutan seperti S2 dan S3, waktu yang dihabiskan di bangku pendidikan adalah sekitar 21 tahun. Luar biasa, bayangkan saja, belasan tahun pembiayaan rutin yang mutlak harus dipenuhi. Hebatnya, biaya-biayanya tidak pernah menurun.

Dan seakan mengamini kesusahan para orang tua. Ramai-ramai perguruan tinggi negeri menaikan biaya pendidikan mereka. Kuliah kini mutlak hanya untuk mereka yang berkantong tebal. Memang ada beasiswa untuk mereka yang tidak mampu, tapi berapa sih yang disediakan? Dan berapa juga sih jumlah yang ditanggung beasiswa? Kenyataannya adalah (mohon ditelan mentah-mentah), biaya pendidikan akan mencekik leher anda. Gagal mempersiapkan biaya pendidikan sama saja dengan mengatakan kepada anak anda untuk melupakan sekolah.

Seorang teman menyarankan kepada saya agar ketika sudah menikah nanti memiliki program kelahiran anak. Dia menyarankan agar jangan sampai jarak antar anak tepat tiga tahun. Karena ketika si kakak masuk SMU, maka si adik masuk SMP.  Ketika si kakak masuk kuliah, si adik masuk SMU, ketika si kakak memasuki tahun terakhir kuliah yang biasanya menyedot biaya tinggi, si adik masuk kuliah. Itu jika anak anda hanya dua, bagaimana jika Tuhan memberi anda rezeki lebih dari dua anak?

Rabu, 02 Mei 2012

Mengapa kita (harus) berinvestasi ? (part 2) : Beli Rumah

-->
Pada tulisan terdahulu, saya telah membahas alasan kenapa kita harus berinvestasi dan investasi apa saja yang perlu dilakukan. Perumahan, Pendidikan. Kesehatan, jaminan hari tua, dan jaminan jiwa adalah kebutuhan utama yang perlu dipenuhi antara lain melalui skema investasi. Sekarang saya akan membahas skema tersebut satu persatu :

1.      Perumahan
Satu hal yang saya pelajari tentang memiliki rumah adalah membelinya sesegera mungkin. Harga rumah semakin hari semakin tidak masuk akal. Harga rumah disebuah perumahan di daerah Bogor meningkat harganya lebih dari 30% dalam hitungan bulan. Harga rumah second tidak jauh berbeda. Dengan demikian, semakin cepat anda membeli atau mencicil rumah, akan semakin baik. Inilah salah satu investasi utama yang hampir tidak memiliki resiko (selama anda berhati-hati). Memusatkan perumahan sebagai target awal untuk dipenuhi adalah hal yang sangat baik.

Investasi dalam bentuk properti (rumah) memang seolah tidak memiliki resiko. Harga properti yang selalu meningkat memang menggiurkan. Tapi harus diingat, properti bukanlah asset yang tergolong likuid. Artinya, rumah atau properti anda tidak bisa langsung dicairkan menjadi uang ketika anda memiliki kebutuhan mendadak.

Sama seperti ketika anda membelinya, menjual properti biasanya memang membutuhkan jangka waktu. Ibarat mencari jodoh, para calon pembeli akan mempertimbangkan banyak hal seperti kecocokan lokasi, akses jalan, kondisi fisik dan status hukum properti, serta kesepakatan harga. Belum lagi faktor kesediaan bank untuk pendanaan pembelian.

Selasa, 24 April 2012

Mengapa kita (harus) berinvestasi ?

-->
Sesekali pikirkan ini. Mengapa meski gaji atau pemasukan kita terus menerus meningkat, tetap saja terasa kurang atau tidak mencukupi kebutuhan atau keperluan hidup. Atau kenapa selalu saja ada orang yang mengeluh kekurangan uang untuk membayar ini dan itu, padahal orang tersebut memiliki pendapatan yang lumayan besar. Mengapa pula para ibu selalu mengeluh uang belanja yang kian hari kian tidak mencukupi?

Mungkin sebagian besar dari anda akan menjawab bahwa penyebab semua kejadian diatas adalah harga-harga barang yang terus-terusan naik. Disisi lain pemasukan tidak meningkat secepat naiknya harga beras. Kenaikan harga barang yang terus menerus menyebabkan uang yang kita miliki semakin kehilangan daya belinya di masa depan. Dulu ketika kecil, uang Rp.500 bisa membeli semangkuk baso. Sekarang uang yang sama tidak mampu lagi membeli satu buah pisang molen.

Ini fakta pahit yang tidak banyak orang sadari. Uang di dompet kita sama persis dengan makanan di lemari. Seiring berjalannya waktu, keduanya akan membusuk. Uang kita akan “membusuk” dengan kehilangan fungsinya untuk menyimpan kekayaan. Jika dahulu uang Rp. 100 ribu cukup untuk hidup seminggu, uang yang sama kini bisa habis dalam satu hari. Dengan logika yang sama, kita dapat menyimpulkan bahwa kekayaan kita berupa uang akan semakin menyusut seiring waktu.