Minggu, 22 April 2012

Hunting Buku


Don’t judge a book from its cover. Peribahasa ini biasanya diartikan bahwa menilai orang dari penampilannya saja adalah sesuatu yang tidak baik. Bahwa tampilan luar seseorang bisa jadi buruk, tapi hatinya justru mulia. Prinsip yang sama bisa digunakan dalam memilih buku. Buku yang baik tidak selalu wajib memiliki cover (sampul) yang mencolok. Bahkan seringkali, buku yang terlampau mewah tampilannya, tidak sebanding dengan isinya.
Buku itu bersampul tipe hard cover, lengkap dengan lembar sampul khusus yang dapat dilepas. Judulnya provokatif, seolah-olah intelek. Bisa jadi memang intelek, karena judulnya seolah diluar nalar saya. Penulisnya seorang tokoh yang diakui keilmuannya dan sering muncul di layar televisi. Isinya? Mengerikan. Luar biasa membosankan. Jauh dari harapan awal ketika pertama kali membaca buku itu. Tapi bisa jadi salah saya yang terlalu bodoh.
Buku lain begitu narsis. Judulnya tak penting, sama sekali tak penting. Karena tujuan terbitnya buku itu hanyalah foto penulis (atau setidaknya pemilik hak cipta) di sampul depan. Foto si penulis begitu cerah, gagah sekali. Senyum nya begitu lebar, selebar wajahnya yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk judul buku. Untuk mereka yang matanya terlatih, akan terlihat jejak rekayasa digital pada wajah si penulis. Isinya? Tak lebih dari cerita panjang lebar tentang pencapaian si penulis. Buku-buku model ini biasanya digunakan sebagai media promosi si  penulis, terutama bagi mereka yang sekedar mengincar jabatan.
Buku model yang sama (foto pada sampul) digunakan para konsultan untuk mempromosikan program pengembangan diri. Bedanya ada pada isinya, biasanya para konsultan menulis cara-cara pengembangan diri, bisnis, atau kehidupan ke arah yang lebih baik. Di akhir buku, biasanya si penulis mempromosikan program pengembangannya, lengkap dengan diskon bagi mereka yang membeli bukunya. Syukurlah, buku seperti ini masih bisa diambil faedahnya.
Seorang sahabat pernah meminjamiku sebuah buku. Buku ini tentang biografi seseorang. Sayang sekali, isinya hanya pujian. narsis sekali. Itulah resiko menerbitkan biografi tentang orang yang masih hidup, apalagi memiliki posisi politis. Saran saya, janganlah membeli buku biografi tokoh politik yang masih hidup. Level kenarsisannya melebihi remaja labil. Beli saja biografi orang yang sudah berpulang kepada Sang Pencipta.
Seperti halnya artis, buku juga memiliki pengikut. Ketika buku “The Secret” terbit dan sukses besar. Tiba-tiba saja bermunculan buku yang mengekor kepopuleran buku tersebut. Hampir semua aspek dari buku itu dicontek atau ditiru habis habisan. Mulai dari  model sampul, tema buku, judul yang hampir mirip bahkan isi buku!!. Untuk anda penggemar novel fiksi, tentu masih ingat “The Da Vinci Code” karya Dan Brown. Terlepas kontroversinya karena dinilai melecehkan agama tertentu, selepas kesuksesannya, berjamuranlah novel novel dengan tema yang sama. Dan yang terakhir (tapi ini pengecualian) adalah fenomena “Laskar Pelangi”. Saya bilang pengecualian, karena novel ini menjadi pembuka jalan bagi novel-novel lain yang menggugah seperti “5 menara” dan lainnya. Akhirnya, era novel yang isinya sekedar dunia selangkangan tamat sudah. Mantap!!
Bulan lalu saya kembali memburu buku obralan. Jangan salah, banyak buku berkualitas yang saya dapatkan dengan harga murah. Novel “the hobbit” karya JRR Tolkein dan DNA Mutation of Power House karya Rhenald Kasali  hanya contoh dari banyak buku yang saya dapatkan dengan harga obral. Mohon maaf, semuanya asli dari penerbit resmi.
Akhirnya, saya berhasil menemukan sebuah buku yang terkucil di bawah rak. Di Amerika buku ini menjadi salah satu best seller. Isinya? Kualitas best seller, sangat enak dibaca. Buku ini membantu kita untuk memahami pengelolaan keuangan usaha yang baik.  Pernahkah anda kebingungan ketika membaca neraca perusahaan di Koran-koran? Tidak lagi. Buku ini memang layak menjadi best seller. mungkin besok saya bahas.

Selasa, 03 April 2012

Alien Bernama Asuransi Pendidikan

Jujur, menulis artikel ini sama saja dengan mendongeng. Berbeda dengan artikel kemarin tentang investasi emas yang memang saya sedang lakukan. Investasi keuangan dalam bentuk asuransi tidak pernah saya lakukan. Oleh karena itu, tulisan ini sebenarnya cara saya untuk mempelajari apa itu asuransi, lebih lebih lagi asuransi pendidikan. Jadi jika tulisan ini sedikit sesat, maklumi saja.

Ketika saya kecil, kata "asuransi" punya imej yang tidak menyenangkan. Ceritanya dimulai ketika tetangga saya kehilangan mobilnya. sebut saja namanya Haji Usman. Ketika hendak melakukan klaim. perusahaan asuransi "seolah" mempersulit proses klaim dan memping pong Haji Usman kesana kemari. Kisahnya berhenti disitu tanpa pernah ada kepastian apakah klaim tersebut bisa cair. Sejak mendengar kisah ini, benak Firman kecil telah tertanam kesan sulitnya klaim di perusahaan asuransi.

Tapi tak kenal maka tak sayang. Meski ada 654.000 link di Google search tentang kasus-kasus sulitnya melakukan klaim asuransi, kita tetap perlu untuk mempelajari apa itu asuransi dan manfaat yang kita manfaatkan untuk mengelola kehidupan kita.

menurut saya, asuransi itu mirip mirip nyicil dalam jangka panjang. Dana yang dikumpulkan digunakan untuk keperluan tertentu. Apakah itu kesehatan, pendidikan, kerugian, musibah dan lainnya. Intinya asuransi merupakan perlindungan atau kompensasi dari hal hal yang tidak diinginkan. Panik menjelang masuk sekolah adalah salah satunya. 

Asuransi pendidikan demikian juga adanya. secara umum produknya mencakup anda membayar sejumlah uang dalam jangka waktu tertentu dengan harapan pada waktunya tiba, asuransi tersebut akan menutup kebutuhan biaya pendidikan anak anda. Pada dasarnya tiap-tiap produk bersaing pada tataran return yang didapat konsumen. Tapi pada perkembangannya, berbagai perusahaan menawarkan kelebihan lain seperti asuransi jiwa, kesehatan dan lainnya. 
Dengan demikian mengambil produk tabungan/asuransi pendidikan adalah satu jalan untuk mempersiapkan masa depan anak anda. Sekali lagi, satu jalan, bukan jalan utama. Jadi anda masih bisa memilih model persiapan dana pendidikan lainnya. tapi itu kita bahas nanti saja.

Ternyata produk asuransi pendidikan demikian banyak yang tak mungkin saya bahas satu persatu. saran saya cuma satu : FAHAMI SEMUA PASAL dalam perjanjian asuransi yang hendak anda ambil. saya serius, FAHAMI SEMUANYA, bukan sekedar gambaran umum, tapi SEMUANYA. Bukan apa-apa, setiap pasal yang tertulis dalam perjanjian asuransi yang anda tanda tangani akan mempengaruhi apa yang akan anda terima.

sebenarnya ada yang beragumen bahwa asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan bukan produk yang bisa memberikan return (hasil) paling tinggi. tulisannya bisa dibaca disini, tapi tentu ini masih perlu dibandingkan kembali dan disesuaikan dengan kondisi kita.
berikut tips memilih asuransi pendidikan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber (terpercaya tentunya) :
  1. Fahami betul rencana anda. berapa anak yang anda rencanakan ? berapa selang waktu antar tiap-tiap anak? jenjang pendidikan seperti apa yang hendak diambil? berapa kira-kira besaran biaya yang harus disiapkan untuk memenuhi semua rencana anda? Semua pertanyaan ini ribet untuk dijawab, tapi jauh lebih baik daripada ribet  disaat anda harus membayar semua tagihan.
  2. Sekali lagi, fahami betul betul produk yang anda ambil. Bukan berarti teman anda mengambil polis yang sama, maka anda berfikir bahwa polis tersebut bagus. bisa jadi sang teman tidak lebih faham dari anda sendiri
  3. Bandingkan dengan kemampuan anda membayar. OK lah produknya bagus, bisa bayar bulanannya ga? jika tidak, cari alternatif lain
  4. Hal lain yang harus juga diperhatikan adalah seberapa fleksibel nilai tunai atau tahapan dana pendidikan tersebut bisa ditarik. Ini poin yang bagus. Banyak dari tahapan biaya pendidikan tidak bisa ditarik kecuali pada tahun-tahun yang telah ditentukan seperti tahun ke-7 untuk masuk SD, tahun ke 12 untuk masuk SMP dan seterusnya. Modelnya seperti deposito lah
  5. Hati-hati dengan simulasi, nilai yang didapat mungkin besar. tapi itukan nilai sekarang. Bisa saja anda dapat 500 juta saat sekarang dimana kuliah cuma habis 200 juta. bandingkan selalu dengan nilai yang diperlukan dimasa depan. bisa jadi kuliah yang sama akan menghabiskan 600 juta di masa depan. satu poin lagi : Perhatikan asumsi-asumsi yang tertera di lembar ilustrasi. lagipula banyak perusahaan berlindung dalam klausul bahwa hal tersebut semata-mata hanya ilustrasi yang sesungguhnya tergantung hasil pada waktu pencairan
  6. Sebelum memilih program asuransi, baca dahulu manfaat dan fitur program asuransi yang hendak kita beli. Misalnya, manfaatnya hanya untuk resiko meninggal, maka kita tidak akan mendapatkan manfaat ketika kita hanya mengalami sakit atau luka-luka. Atau sebaliknya, yang kita beli adalah produk asuransi kecelakaan saja, maka kita tidak akan mendapatkan manfaat ketika kita terkena penyakit tertentu.
  7. Jangan terpaku karena nama besar perusahaan yang memberikan penawaran, tapi lebih fokus pada produk yang sesuai kebutuhan.
  8. Pilihlah perusahaan asuransi yang memudahkan konsumen dari segi pencairan / klaim. Mengingat sebetulnya perusahaan asuransi tak lebih adalah pihak pengelola, keputusan tetap pada konsumen yang memiliki dana.
Yang harus difahami, asuransi/tabungan pendidikan hanyalah sebuah alat untuk mempersiapkan masa depan putra putri anda. Produk ini bukan jalan satu satunya, karena beberapa pihak menggunakan reksadana, emas, bahkan saham. intinya tergantung kemampuan kita untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan.

okay. mungkin besok saya mau ambil polis, mungkin juga tidak. yang pasti saya harus berhitung dulu... ya kan?
 sebagai referensi, mungkin ada baiknya anda menengok ke link slitus ini :
1. http://www.catatankeluargamuda.com, dan 
2. http://www.aidilakbar.com

Senin, 02 April 2012

Menyiapkan dana Pendidikan dengan berhenti Merokok

-->Dana pendidikan adalah salah satu hal yang paling sering dikeluhkan oleh para orang tua. Salah satunya adalah ketika akan masuk sekolah. Sepatu baru, seragam baru, sumbangan ini itu dan lainnya. Sekolah belum lagi dimulai, tapi dana harus sudah keluar dimuka. Belum lagi ketika masa sekolah sudah berjalan.  Pasti ada saja pengeluaran yang seringkali tidak sedikit.
 Untuk mereka yang berpenghasilan tinggi, mungkin biaya pendidikan tidak menjadi masalah. Tapi untuk mereka yang memiliki penghasilan menengah ke bawah, biaya pendidikan yang semakin tinggi tentu menjadi kendala yang seringkali berakhir tanpa solusi. Sayang sekali, banyak generasi muda yang cemerlang terancam pendidikannya hanya karena terganjal biaya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, seandainya para orang tua mempersiapkan sedari dini, tentu masalah biaya pendidikan anak dapat diatasi sejak awal. Asumsinya, seorang anak tidak langsung mendadak besar dan masuk sekolah. Anggap saja, anda akan memasukan putra/putri anda ke sekolah dasar pada umur tujuh tahun. Maka sebenarnya, anda dapat mencicil biaya masuk SD selama tujuh tahun semenjak dia lahir. Atau katakanlah anda hendak memasukan si kecil ke TK pada umur enam tahun, anda masih punya jangka waktu enam tahun untuk mempersiapkan diri.
Mengelola keuangan sebenarnya tidak susah-susah amat. Bahkan sangat sederhana. Pokoknya, selama kita punya kemauan, rencana yang baik, dan disiplin, maka semuanya akan mudah. Tahukah anda mengapa orang terkesan sulit mengelola keuangannya. Salah satunya adalah pola hidup boros. Pola hidup boros ini, tidak selalu identik dengan belanja ala miss jinjing. Pola hidup boros adalah semua gaya hidup yang sama sekali tidak bermanfaat, bahkan cenderung merugikan. Boros erat sekali dengan perilaku impulsif alias belanja tidak berdasar pada kebutuhan, tapi berbelanja setiap kali anda “lapar mata”.
Merokok adalah salah satu contohnya. Sampai detik ini belum ada orang yang berani menjamin bahwa manfaat merokok jauh melebihi kerugian yang dikandungnya. Kenyataannya justru sebaliknya. Kesehatan tergerus, uang pun ikut hilang. Oleh karena itu, berhenti merokok, tidak saja akan membuat badan lebih sehat, tapi dana yang tidak terpakai bisa digunakan untuk menyekolahkan anak anak anda.
Hitungannya mudah saja. Sebut saja anda berhenti merokok semenjak kelahiran si buah hati. Jika sebelumnya anda menghabiskan Rp. 10.000/hari untuk dibakar begitu saja, dengan menabungkannya selama tujuh tahun, maka anda akan mengumpulkan dana sebesar Rp. 25.770.000 pada akhir tahun ke tujuh. Sederhana bukan. 
                                   
                                 Tabel 1. Menghitung Tabungan 10 Ribu/hari
 
 
-->
Pada dasarnya pengelolaan keuangan itu punya dua prinsip utama. Kebutuhan dan Waktu. Para orang tua yang kebingungan ketika hendak memasukan putra/putrinya ke sekolah menunjukan kelengahan dalam mempersiapkan dana pendidikan. Katakanlah jika Rp. 10.000/hari terlalu besar, dengan Rp. 5.000/hari saja, pada akhir tahun ketujuh anda masih bisa mengumpulkan Rp. 12.775.000. Prinsipnya, jika anda tahu bahwa kebutuhan itu pasti akan datang, apakah itu biaya pernikahan, perumahan, pendidikan, kesehatan atau investasi, maka anda harus segera menyiapkannya dari sekarang.
Hitungan diatas adalah model tabungan flat, artinya anda hanya menabung uang saja tanpa menginvestasikannya kebentuk lain. Kira-kira berapa yang bisa anda dapatkan dengan pengeluaran yang sama namun diinvestasikan ke emas?
Katakanlah anda tetap menyisihkan Rp. 10.000/hari, namun pada setiap akhir tahun anda menginvestasikan tabungan anda dengan membeli emas. Jika ada kelebihan atau kekurangan, maka akan dimasukan ke tabungan tahun berikutnya. Dengan asumsi harga emas meningkat 10% setiap tahun, jika anda mencicil emas batangan selama tujuh tahun, maka pada ahir tahun ke tujuh anda akan memiliki investasi dalam bentuk emas senilai Rp. 34,4 juta. Lumayankan? Dengan pengeluaran yang sama anda mendapat kelebihan sebesar Rp. 8,87 juta. Begini perhitungannya :


                      Tabel 2. Menghitung Investasi Emas 10 Ribu/hari
 
Jika pola yang sama anda teruskan selama tiga belas tahun, anda akan mengumpulkan dana sebesar Rp 504,59 juta. Semua ini hanya dengan menyisihkan Rp.10.000/hari yang dahulunya anda bakar-bakar begitu saja. Andai saja pola ini anda lakukan sedari dulu, mungkin anda sudah jadi hartawan dan tidak bingung lagi setiap tahun ajaran baru. Ga percaya? Coba saja, berhentilah merokok dan mulailah menabung. Saya belum membahas persiapan dana pendidikan dengan model asuransi. Mungkin besok. Moga moga
 







Selasa, 27 Maret 2012

BERSUARALAH, SAMPAIKANLAH, BUKAN HANCURKAN

-->

Perjuangan itu selalu pahit. Siang itu di sebuah bukit yang gersang, seorang laki-laki menyeru kepada masyarakat di kotanya untuk menuju jalan kebenaran. Sendirian, laki-laki itu harus menghadapi kaum yang telah terjangkit kapitalisme, premanisme, rasisme, dan hedonisme yang akut.

Apa yang dihadapi Laki-laki itu bukanlah sesuatu yang main-main. Wahyu Kebenaran yang hendak disampaikannya berhadapan langsung dengan kepentingan para tokoh dan pemuka kaum yang menginginkan agar status quo tetap dipertahankan. Para tokoh dan pemuka khawatir bahwa dakwah yang disampaikannya akan merusak tatanan sosial yang selama ini menguntungkan mereka. Demikianlah, laki-laki tadi kini ibarat menggenggam bara api. 

Sang Laki-laki tadi begitu resah melihat kemerosotan yang terjadi di kota kelahirannya itu. Masyarakat di kotanya telah hidup terlalu lama dalam bayangan kegelapan. Kegelapan yang dipenuhi perang antar suku, kekerasan, penistaan wanita, perjudian, kebodohan, pembunuhan anak-anak dan perbudakan. Hatinya berteriak, jiwanya gundah.

Setelah sekian lama berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Muhammad, yang kelak akan memimpin sebuah pergerakan yang menggoncang dunia, memutuskan untuk menyuarakan kebenaran di hadapan kaumnya. Bukit itu, Shafa, menjadi saksi kebulatan tekadnya. Kebenaran haruslah disampaikan dengan terang. Kebenaran haruslah diteriakan.

Sejarah kemudian mencatat dahsyatnya penentangan yang menimpa Muhammad dan kaum Muslim. Dengan jumlah yang tidak seberapa, kaum muslim harus dihadapkan pada boikot ekonomi, terror sosial, pengusiran, penyiksaan, bahkan pembunuhan. 

Apakah semua kekejian tersebut merubah caranya menyampaikan kebenaran? Tidak. Muhammad Sang Rasul tetap santun pada tetangga Quraisy yang terang-terangan menginginkan nyawanya. Beliau tetap berlaku adil kepada Yahudi yang secara frontal menantang dakwahnya. Baginya, dakwah hanyalah bisa disampaikan melalui kebaikan dan kesantunan. Kebenaran tidak bisa disebarkan melalui ujung pedang dan laras senapan. Kebenaran hanya bisa bertempat dihati yang lapang.

Sejarah mencatat, manusia melupakan. 14 abad yang lalu Rasulullah mencontohkan secara sempurna bagaimana sebuah pesan harus disampaikan dan perjuangan dilakukan. 14 abad kemudian, orang melupakan. Kini pesan disampaikan melalui aksi aksi anarkis. Perjuangan atas nama rakyat disebarkan dengan kepulan asap, lemparan batu, ayunan kayu dan barang-barang yang dibakar. 

Sore kemarin aku menjadi saksi bagaimana ribuan orang di seluruh Indonesia melupakan kebijakan sang Rasul. Suara hati rakyat untuk menolak kenaikan harga BBM diterjemahkan dengan mengorbankan rakyat itu sendiri. Di satu daerah, mahasiswa bentrok dengan warga karena para “aktivis” menjarah sebuah rumah makan dan merusak harta warga. Didaerah lain, (lagi-lagi) mahasiswa mencegat truk-truk pengangkut LPG untuk kemudian di jarah. Robin hood jadi tameng mereka. Para aktivis karbit tersebut mengira bahwa dengan merampok LPG milik rakyat dan membaginya kepada rakyat lain, maka mereka telah lengkap menjadi seorang “aktivis”. Label aktivis juga menjadi tameng untuk menghalalkan mahasiswa untuk mencegat kendaraan publik untuk dirusak. Polisi seolah menjadi warga kelas dua yang halal dilempari batu, sementara pendemo menjadi orang suci yang bebas dari kesalahan. Lagi-lagi sekedar karena label aktivis. Kalau sudah begini, sungguhlah pantas jika masyarakat menurunkan derajat “perjuangan” para aktivis menjadi sekedar pembuat onar dan kerusuhan. 

Terima kasih kepada “aktivis” yang menyuarakan suara hari rakyat dengan begini primitif, rakyat pun jengah. Aksi demo berjalan sambil lalu. Masyarakat menanti usai para pendemo menggelar aksi, semata-mata karena demonstrasi hanya memacetkan lalu lintas. Aktivis tak lagi dinanti. Para sopir bajaj dan taxi bermunajat agar mereka tak lagi memblokir jalan. Warga mengusir mereka. Aktivis menjadi makhluk asing untuk rakyat yang konon dibelanya. 

Aku ingat ketika disana bersama para sahabat meneriakan aspirasi menolak kedatangan penjajah George W Bush ke tanah air. Amerika kala itu aktif menyebarkan perang ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, Bush harus pergi jauh-jauh. Para sahabat melakukan aksi dengan merapatkan diri menjadi pagar betis menjaga istana bogor. Kala itu hujan menyirami dan para sahabat tetap disana, diam tak bergerak. Diselingi sejenak istirahat dan munajat kepada sang Khalik, aku ingat bahwa kami berbincang akrab dengan para polisi. Terkadang saling menggoda. 

Dua sisi yang bersebarangan, masing-masing melakukan apa yang diyakini. Kami meyakini bahwa Bush adalah Hitler yang bangkit kembali. Para petugas meyakini bahwa keamanan dan ketertiban haruslah ditegakkan. Tak ada ban yang dibakar, tak ada batu yang dilempar. Kami hanya ingin meneriakan suara hati. Syukurlah para polisi mengerti. Di akhir sore, kami semua pulang, karena hidup bukan sekedar aksi-aksi jalanan. Cukuplah Bush tahu, dirinya tak diinginkan disini.
14 abad yang lalu. Rasulullah membebaskan Mekkah dari cengkeram kegelapan dengan dakwah yang santun dan tindakan nyata. Beliau menjadi bagian dari solusi dan menjadi motor dari solusi itu sendiri. Kemarin, demonstrasi menolak kenaikan harga BBM berubah ricuh, puluhan orang ditangkap dan jatuh korban luka-luka. Ironis, masyarakat tak merasa dibela. Sore kemarin para sahabat lebih memilih pasrah dan berharap cemas menunggu pulang.

Minggu, 11 Maret 2012

Dinginnya (masyarakat) Perkotaan

-->
Malam tadi, di satu gerbong kereta yang melaju dari Bogor menuju Jakarta, saya terduduk sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, karena di gerbong itu sebenarnya ramai. Banyak orang lain di gerbong ini, sama-sama berbagi ruang dan udara. Saya mengatakan sendiri karena memang tiada satupun yang dikenal atau menemani. Ironis memang, sendirian dalam keramaian. Lebih ironis lagi, perasaan yang sama seolah menjangkiti seisi gerbong. Entah karena kecapaian atau memang tiada teman, sebagian besar hanya diam termenung.

Berhubung tak ada teman, Saya menghabiskan waktu dengan membaca koran.  Lagipula, tampaknya sebagian besar penumpang memang ingin segera tiba di tujuan masing-masing, sehingga berbincang dengan penumpang lain tampaknya bukan pilihan. Akhirnya, yang tersisa adalah Koran sore di tangan. Maka demikianlah cara berlalunya perjalanan itu. Sepanjang jalan, sepanjang rel, hanya aku dan koranku.

Sebetulnya  tak enak rasanya harus kembali cepat ke Kota bising ini. Sesungguhnya saya ingin tetap meluangkan waktu di rumah. Tapi pekerjaan adalah pekerjaan, dan esoknya aku harus bekerja. Kota ini ramai memang, tapi cenderung bising. Penuh dengan teriakan kemarahan dan kejengkelan. Sesak dengan keluhan dan ketidaksabaran.

Kota ini sungguh bising, mirip dengan dengungan nyamuk dengan soundsystem konser dangdut. Nyaring menyakitkan telinga, menguras kebahagiaan. Ada yang menghias hari dengan mengumpat soal kemacetan. Ada yang mengisi udara dengan makian soal kenaikan harga harga. Uniknya, sebagian besar dengungan ini berhenti di awan awan. Tak ada yang berubah sesudahnya. Paling-paling berubah bentuk, menjadi umpatan dan makian dengan topik yang berbeda.  
kau tahu? Sebenarnya keramaian dan kebisingan adalah dua hal yang jauh berbeda. Yang pertama menghangatkan jiwa, minimal berhasil memaksa kita tersenyum. Berkumpulnya keluarga adalah keramaian. Musyawarah warga adalah keramaian. Perayaan hari raya adalah keramaian. Tapi demonstrasi memblokir jalan bukanlah keramaian. Itu adalah kebisingan.

Kebisingan tak lebih dari suara-suara menyakitkan yang menghisap kebahagian langsung dari dasar hati. Rasa sakit adalah yang kurasakan ketika bising PSSI dan KPSI. Rasa sesak juga yang terjadi ketika orang berbising ria soal kasus korupsi. Bising hanya menghasilkan bunyi mengerikan, tidak pernah menyelesaikan masalah. Makanya aku yakin betul kebisingan adalah inspirasi JK Rowling ketika menciptakan sosok dementor.

Koranku akhirnya ku lipat, selesai sudah nasibnya. Entah akan ku buang atau ku simpan. Sebagian besar beritanya tak lebih dari kejahatan, kecurangan dan serangkaian berita tragis. Kalaupun ada berita yang baik, itu akan ditempatkan di bagian sisa. Media zaman sekarang memang mengerikan. Membacanya hanya akan menguras rasa optimis kita dan menggantinya dengan kemarahan dan kebencian. Aku adalah salah satu korbannya. Media berhasil mencuci otakku dan membuatku membenci banyak hal.

Aku membenci ketika sekelompok orang menjadi semakin kaya dimana sisanya semakin miskin. Aku membenci ketika  presiden tidak bertindak sesuai kehendakku. Aku membenci ketika kebijakan dan hukum cenderung berpihak pada yang punya duit. Aku membenci para artis yang kawin cerai. Aku membenci sandal crocs. Aku membenci justin beiber. Aku membenci Film twilight. Aku berubah menjadi monster pembenci.

itulah mengapa akhir-akhir ini aku tidak terlalu percaya media. Statusnya sekarang kusamakan dengan tukang gosip dan penyebar berita “bisik-bisik”. Lebih baik aku membaca buku. Buku tidak memaksaku percaya apa yang ditulis didalamnya. Tapi akhir akhir ini banyak buku dadakan.  Judulnya beda-beda, covernya selalu sama : ADA WAJAH ORANG TERSENYUM, BIASANYA PENULIS BUKU TERSEBUT. Mungkin itu kebijakan mendiknas untuk mencegah plagiat. Ide yang cukup bagus tampaknya.

Bosan melamun, akhirnya aku iseng mengamati orang-orang. Gerbong kereta adalah tempat yang menarik. Mungkin disinilah kita bisa menemui keragaman manusia selain di pasar. Didepanku ada gadis yang cukup manis, wajahnya jelas terlihat gusar, atau setidaknya tidak tenang. Tak salah lagi, dia sedang gundah. Sedikit sedikit dia membetulkan posisi duduknya. Seluruh bawaannya kini berfungsi sebagai komplementer pakaian dalam rangka menutupi apa yang mungkin sudah tergambar dalam benak para pria-pria dalam gerbong. Ada baiknya dia berhenti memakai rok mini ketika bepergian, siapa tahu dia tak perlu lagi hidup dijangkiti perasaan was was.

Ada lagi seorang pria di kejauhan sana. Tak terlalu tua, tapi tak muda lagi. Pria ini sedang dalam masa puncaknya. Hanya perlu sekilas pandang dan langsung terlihat bahwa pria ini pastilah menduduki posisi yang cukup bagus ditempatnya bekerja. Kubayangkan sepanjang hari dia keberja keras, dan baru pulang ketika matahari selesai shift kerja dan digantikan bulan. Itulah mengapa dia tertidur sangat pulas. Nyaman di kursi duduk sofa. Sayang dia lupa kalau itu khusus untuk para wanita tua, ibu hamil, para manula dan mereka yang memiliki keterbatasan. Tapi mungkin memang dia sangat kecapaian. Buktinya dia sama sekali tak menyadari kehadiran para wanita yang berdiri di depannya. Itulah hakikat orang tertidur. Menurut guruku, orang tertidur itu setengah mati, baik badannya, hatinya, terutama telinganya. Jadi percuma saja mengumpat dan obral sumpah serapah. Biarkanlah dia tertidur, karena esok pagi dia harus kembali bekerja.

Gerbong kereta adalah bukti bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia adalah bangsa pekerja keras. Bahkan sangat keras. Siapapun yang bilang bahwa orang Indonesia kurang giat bekerja perlu sekali kali berangkat kerja menumpang kereta diatas gerbong. Digerbong kereta, menyabung nyawa bukan lagi sesuatu yang aneh. Makanya aku yakin siapapun yang tewas ketika berangkat kerja termasuk mereka yang berjihad karena mereka berkorban jiwa dan raga demi keluarga di rumah. Itulah fungsi lain kereta, melatih masyarakat untuk siap berkorban jiwa. Tak heran, tak satupun negara di dunia ini nekat untuk menyerang kita.

Kereta jalur bogor Jakarta memiliki musuhnya sendiri : HUJAN. Setiap kali hujan, selalu saja ada yang mogok. Namun karena dinilai tak cerdas, maka pera petugas tidak pernah menyebut hujan sebagai dalang kemacetan kereta. Kerusakan sinyal lah yang selalu menjadi kambing hitam.
 Kembali ke dalam gerbong. Satu persatu stasiun dilalui. Sama persis dengan denting denting waktu yang berdetak lalu menghilang. Sebentar lagi aku sampai. Perjalanan ini dingin sekali. Sedingin beton dan besi yang membangun kota ini.


catatan : gambar diambil di situs Ini