Blog ini tentang lifehacks alias hal-hal yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Penulis bisa dihubungi firmansyafei@gmail.com atau syafei_firman@yahoo.com
Rabu, 12 Oktober 2011
Waktu Adalah Pedang yang Membelah
Dalam buku “The Hobbit”, Gollum menantang Bilbo Baggins untuk bermain teka teki. Tantangan itu diajukan karena dia hendak memakan Bilbo. Terjebak dalam gua yang gelap dan penuh labirin, Bilbo tak punya pilihan lain selain menerima tantangan tersebut. Dia ingin mengulur waktu sambil menyusun rencana pelarian diri. Dalam satu kesempatan, Gollum mengajukan sebuah pertanyaan:
Benda ini makan segalanya;
Burung, binatang, pohon dan bunga;
Mengerat besi, menggigit baja;
Batu Keraspun digilingnya;
Membunuh Raja, Menghancurkan Kota
Meruntuhkan gunung sampai rata
Dalam keputusasaan, Bilbo meminta waktu untuk berfikir dahulu, dan nasib baik memang ada dipihaknya. Jawaban teka teki tadi memang waktu.
Jika umumnya teka teki dibuat menggunakan perumpamaan atau bahasa bersayap, tidak demikian dengan apa yang ditulis oleh JRR Tolkien ini. Teka teki ini begitu gamblang, begitu jelas, bahkan nyaris bukan sebuah teka teki. JRR Tolkien ingin mengingatkan kita bahwa waktu akan mengalahkan semuanya, menghancurkan segalanya. Tidak akan ada yang abadi.
Waktu akan mengakhiri segalanya. Itulah inti teka teki Gollum. Sepanjang sejarah, manusia telah melihat kebangkitan dan kehancuran sebuah masa. Orang bijak berkata, segalanya akan berlalu seiring waktu. Ucapan ini bukan sekedar pelipur lara untuk mereka yang menjalani kehidupan yang sulit Ucapan ini adalah satu-satunya yang nyata di alam yang sebenarnya fana ini.
Siapa yang menyangka bahwa Uni Soviet akan hancur pada tahun 1991? Siapa yang mengira bahwa Menara World Trade Center di New York akan roboh sepuluh tahun berikutnya? Siapa yang mengira pada tahun 2010, tentara Israel yang “konon” begitu kuat harus pulang menanggung malu setelah kalah dari Hizbullah. Siapa yang pernah bertaruh bahwa amerika ternyata impoten ketika menyerang kuba dan vietnam. Dua negara yang sebenarnya miskin. Siapa yang pernah bermimpi bahwa Saddam Husein, Muaamar Khaddafi, Husni Mubarak, dan Zine El Abidine Ben Ali akan tumbang. Bukankah mereka hidup dalam impian keabadian seperti yang pernah dikatakan Firaun di depan Musa? Siapa sangka akhirnya Steve Jobs pergi meninggalkan kita?
Manusia selalu mengira bahwa dirinya dan dunianya akan abadi. Alexander Agung dulu mengira kekaisarannya yang merentang dari Yunani sampai Himalaya akan berdiri abadi. Kaisar Pertama Cina (Qin Shi Huang) begitu mengagumi dirinya yang berhasil menyatukan seluruh kerajaan cina sehingga dia merasa titisan Dewa. Tapi waktu telah membunuh para Raja dan menghancurkan kota. Peninggalan mereka baru kita ketahui setelah kita menggalinya dari dalam tanah.
Waktu akan mengalahkan semuanya. Siapa yang menyangka ekonomi amerika yang begitu kuat akan terseok seok bukan karena perang tapi justru karena masalah defisit anggaran (yang sebenarnya karena perang juga). Ekonomi liberal kapitalis dan berbasis bunga kredit yang disembah disana justru menjadi pembunuh utama. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.
Ironis, Teriakan untuk menghentikan ekonomi kapitalis justru datang dari jantung kapitalisme itu sendiri. Ironis, karena sebelumnya pada pendemo ini kemungkinan besar dulunya adalah penganut kapitalisme dan ekonomi liberal. Begitulah kawan, Waktu akan menunjukan rupa asli manusia yang opportunis. Semakin miris karena pusat para pendemo adalah di ground zero, lapangan yang diatasnya pernah berdiri ikon kapitalisme dunia, Menara world trade centre.
Waktu menunjukan kebenaran sejati, perang melawan terorisme (islam) yang dulu diamini seluruh dunia terbukti hanya topeng Amerika untuk mengamankan pasokan minyaknya. Senjata pemusnah massal Irak yang diteriakan Bush terbukti ternyata hanya palsu belaka. Tentara Amerika dan PBB tidak pernah menemukannya dan belakangan informan CIA mengakuinya sebagai akal-akalan untuk menumbangkan Saddam. Oh ya, tahukah anda bahwa alasan utama Amerika menyerang Afganistan adalah agar pipa minyak dari Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan tidak harus melewati Rusia tapi bisa langsung melewati Afganistan? Amerika malas membayar fee ke Rusia.
Waktu membuktikan semuanya. Apa yang kita ketahui sekarang, pada dasarnya tidak diketahui sebelumnya. Apa yang tidak kita ketahui sekarang kemungkinan besar akan diketahui di masa depan. Kaum Quraisy tertawa-tawa mengejek Nabi Muhammad ketika beliau menyampaikan wahyu bahwa Kerajaan Romawi akan mengalahkan Persia. Wahyu itu turun tujuh tahun setelah pasukan romawi kalah telah dari pasukan Persia (kira kira tahun 613 M). Tujuh tahun berikutnya, para kaum Quraisy harus menelan kembali kata-katanya. Sejarah mencatat bahwa pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Begitu juga Copernicus yang akhirnya teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari (dan bukan sebaliknya) terbukti walaupun dia sebenarnya telat 900 tahun pada seorang arab penggembala kambing bernama Muhammad.
Namun waktu tidak hanya menghancurkan. Dia juga hadir untuk membangun. Dalam bukunya yang berjudul “Outliers”, Malcolm Gladwell menceritakan alasan kenapa The Beatles, Bill Gates, Steve Jobs, berhasil memperolah kesuksesan. Alasan utamanya adalah waktu yang mereka curahkan dalam perjalanan ke sana. Sebelum meledak, The Beatle menghabiskan ribuan jam manggung di kafe kafe di kota hamburg, jerman. Ketika akhirnya mereka menjadi selebriti, Mereka telah memiliki pengalaman tampil di depan public melebihi rata rata band lain saat itu, bahkan sekarang. Begitu juga dengan Bill Gates dan Steve Jobs yang menghabiskan masa mudanya di depan Komputer melebihi anak lain pada masanya. Prinsip mencurahkan sebanyak mungkin waktu untuk bekerja keras sering dinamakan kaidah 10.000 jam. Konon 10.000 jam adalah waktu yang anda butuhkan untuk menjadi benar benar ahli dalam bidang apapun. Walaupun sebenarnya inti dari kisah diatas adalah mereka yang berhasil melebihi orang lain sebenarnya telah berusaha sekeras mungkin melebihi orang lain.
Sebuah sya'ir Arab menggambarkan dengan tepat tentang hakikat sang waktu: “Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha'haa qath'aka” (Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu). Mereka yang lengah hendaknya bersiap menjadi korban. Menjadi korban karena berulangkali terhenyak, menyadari bahwa semuanya sudah telambat dan sekedar menyisakan sesal.
Tulisan ini akan saya akhiri dengan Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal : "Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4 perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya." (HR. Bazzar dan Thabrani).
Senin, 03 Oktober 2011
Ketika semuanya latah “COURTESY OF YOUTUBE”
Entah sejak kapan ini dimulai. Tiba tiba saja, Youtube menjadi “dermawan” yang tulus ikhlas membagi–bagikan koleksi videonya yang berukuran raksasa (sekitar tujuh ratus juta video) untuk digunakan oleh televisi kita. Gratis tentunya. Entah kompak entah latah, tiba tiba saja youtube dijadikan sumber utama untuk mencari konten acara televisi.
Bermunculanlah acara acara televisi yang isinya tak lebih dari menayangkan video-video pendek dengan embel-embel “courtesy of youtube”. Mayoritas acara ini mengemasnya dengan berbagai tema. Biasanya tentang kejadian atau fenomena unik yang sebenarnya bisa kita tonton di youtube secara langsung.
Malas. Hanya ini yang bisa saya bilang. Betul-betul malas sekali dan sama sekali tidak adil. Sebelumnya saa jelaskan dulu arti Courtesy dalam bahasa aslinya yang berarti :
1. “behavior marked by polished manners or respect for others” atau
2. “consideration, cooperation, and generosity in providing something (as a gift or privilege); also : agency, means —used chiefly in the phrases through the courtesy of or by courtesy of or sometimes simply courtesy of”
Pada definisi kedua, jelas terlihat bahwa kata “courtesy” berarti “kemauan, kerjasama dan kedermawanan untuk menyediakan sesuatu (sebagai hadiah atau keistimewaan). Artinya, kalau ada istilah “courtesy of youtube”, seharusnya ini berarti bahwa Youtube mempersilahkan atau memberikan hak untuk menggunakan setiap video yang dimilikinya. Dengan logika sederhana saja, untuk mendapatkan hak menyiarkan sesuatu, harus ada izin terlebih dahulu. Jadi bisakah kita menganggap bahwa Stasiun televisi kita telah mendapatkan izin dari pengelola youtube dan apakah memang seperti itu kenyataannya?
Melihat begitu seringnya televisi kita menggunakan video yang “dimiliki” Youtube (karena belum jelas juga siapa yang sebenarnya memiliki) dan dengan seenaknya mencantumkan “courtesy of youtube”, rasa-rasanya agak sulit untuk menganggap bahwa stasiun televisi sudah meminta izin terlebih dahulu. Karena dalam situsnya, pengelola youtube sudah menetapkan bahwa :
“You agree not to distribute in any medium any part of the Service or the Content without YouTube’s prior written authorization, unless YouTube makes available the means for such distribution through functionality offered by the Service (such as the Embeddable Player)”
Mari kita pelototi ulang kalimat ini : “You agree not to distribute in any medium any part the Service or the Content without YouTube’s prior written authorization” yang artinya kurang lebih : bahwa kita setuju untuk tidak mendistribusikan dalam segala media setiap bagian dari pelayanan atau konten tanpa persetujuan tertulis dari youtube sebelumnya. Harap diingat youtube sendiri tidak memiliki hak penuh terhadap video yang diunggah (upload) oleh penggunanya. Dia hanya memiliki hak untuk menayangkan yang sewaktu waktu bisa dicabut oleh pemiliknya. Hal ini biasa terjadi untuk video klip, lagu, materi promosi film, film itu sendiri dan lainnya. Saya pernah menemukan satu link youtube dari ayumi Hamasaki yang tidak lagi aktif karena perusahaan pemiliknya (avex entertainment) melaporkan klaim hak cipta kepada pengelola youtube.
Kembali ke pertanyaan awal kita? Apakah youtube sudah memberikan izin tertulis kepada pengelola televisi di indonesia untuk menggunakan videonya. Kalau sudah, izin tersebut dikeluarkan untuk penggunaan video yang mana? Karena setiap video dalam youtube memiliki hak cipta dan hak tayangnya sendiri. Dengan begitu maraknya perilaku plagiasi pada industri pertelevisian kita, tampaknya kita tidak perlu berpanjang-panjang hanya untuk menjawab pertanyaan ini (sampai detik ini saya masih mengutuk “sinetron catatan harian Nayla”yang mencontek habis tanpa etika dorama “one litre of tears” yang menceritakan perjuangan gadis yang mengidap penyakit syaraf).
Matikah kreatifitas kalangan industri pertelevisian kita? Kita begitu gelagapan ketika sinetron upin ipin yang begitu kreatif meraih rating yang begitu tinggi di Indonesia. Jika mau jujur, tayangan-tayangan kreatif yang diimpor dari luar justru menjadi penyelamat pertelevisian dari sekedar rangkaian tayangan sampah (sampah karena isinya hanya politik busuk, debat kusir, perilaku koruptif, sinetron lebay, gosip murahan, kekerasan, sex, budaya hedonis dan konsumtif dan sekarang di tambah oleh “courtesy of youtube”). Saya pribadi hanya menggemari “shaun the sheep”, “spongebob” dan “oscar’s oasis”, selebihnya lupakan saja. Hidup sudah cukup penat hanya untuk ditambah tontonan debat kusir politisi dan penegak hukum.
Atau sudah begitu malaskah para tim kreatif stasiun televisi untuk membuat tayangan yang berkualitas dan menarik penonton. Lebih jauh lagi, sudah matikan budaya kita untuk berkreasi dan mencipta?
Kembali ke coutesy of youtube. Melihat rating tayangan coutesy of youtube yang lumayan tinggi. Saya berfikir apakah televisi sudah memberikan hak atau kompensasi kepada pemilik video yang sesungguhnya. Begini ceritanya, bukankah televisi mendapatkan keuntungan dari iklan yang masuk? Jika ya dan memang pastinya begitu (jika tidak, tidak mungkin acara sejenis akan berjamuran), bukankah ada sebagian dari keuntungan tersebut yang menjadi hak dari pemilik video yang menjadi bahan tayangan acara tersebut?
Contohnya begini, katakanlah saya mengupload video tentang kejadian lucu di youtube. Secara resmi video tersebut adalah milik saya, dengan mengupload video itu melalui youtube, saya memberi hak kepada youtube untuk menyiarkannya. Youtube tidak berhak untuk mengedit video saya atau menggunakannya untuk kepentingan komersil tanpa sepengetahuan atau seizin saya. Ketika katakanlah acara tertentu menggunakan video saya, bukankan seharusnya dia mencantumkan “courtesy of youtube and firman syafei”. Tentunya setelah persetujuan saya. Jika tidak, Bukankah ini plagiasi? dan bukankah saya seharusnya mendapatkan kompensasi terhadap penggunaan video saya?
Pemilik video harus susah payah merekam, mengkonversi ke format yang sesuai dan harus meluangkan waktu, biaya dan energi untuk mengupload ke internet. Dilain pihak televisi tanpa sepengetahuan pemiliknya, tinggal mendownload, mengedit dan menjadikannya material untuk mendatangkan keuntungan. Apakah ini adil? (harap dicatat, saya belum membahas lagu-lagu yang sering dipakai untuk backsound).
Keadilan dalam hak cipta memang lumayan sulit di indonesia ini, Kelompok lawak warkop yang film film nya sering ditayangkan berulang ulang ternyata tidak mendapatkan royalti, begitu pula grup musik BIMBO yang lagu lagunya sering dicatut. Jika artis yang demikian dihormati saja diperlakukan seperti itu, apalagi orang biasa yang sekedar punya video bagus.
Saya ingin mengutip tulisan Wilson Sitorus yang membahas tema yang serupa. Tulisan ini dimuat pada situs Tempo Online tanggal 16 Mei 2011, tulisan lengkapnya dapat
dikunjungi disini. Ini yang beliau tulis:
“Begitulah, penggunaan potongan gambar dari YouTube seyogianya hanya sebagai ilustrasi untuk memperkuat tayangan. Bukan menjadikannya sebagai sumber berita dengan agenda setting yang sudah disesuaikan dengan selera pemirsa. Bukan juga mengkomersialkannya, karena konten itu punya konsekuensi pada hak atas kekayaan intelektual (HAKI)”
Bermunculanlah acara acara televisi yang isinya tak lebih dari menayangkan video-video pendek dengan embel-embel “courtesy of youtube”. Mayoritas acara ini mengemasnya dengan berbagai tema. Biasanya tentang kejadian atau fenomena unik yang sebenarnya bisa kita tonton di youtube secara langsung.
Malas. Hanya ini yang bisa saya bilang. Betul-betul malas sekali dan sama sekali tidak adil. Sebelumnya saa jelaskan dulu arti Courtesy dalam bahasa aslinya yang berarti :
1. “behavior marked by polished manners or respect for others” atau
2. “consideration, cooperation, and generosity in providing something (as a gift or privilege); also : agency, means —used chiefly in the phrases through the courtesy of or by courtesy of or sometimes simply courtesy of”
Pada definisi kedua, jelas terlihat bahwa kata “courtesy” berarti “kemauan, kerjasama dan kedermawanan untuk menyediakan sesuatu (sebagai hadiah atau keistimewaan). Artinya, kalau ada istilah “courtesy of youtube”, seharusnya ini berarti bahwa Youtube mempersilahkan atau memberikan hak untuk menggunakan setiap video yang dimilikinya. Dengan logika sederhana saja, untuk mendapatkan hak menyiarkan sesuatu, harus ada izin terlebih dahulu. Jadi bisakah kita menganggap bahwa Stasiun televisi kita telah mendapatkan izin dari pengelola youtube dan apakah memang seperti itu kenyataannya?
Melihat begitu seringnya televisi kita menggunakan video yang “dimiliki” Youtube (karena belum jelas juga siapa yang sebenarnya memiliki) dan dengan seenaknya mencantumkan “courtesy of youtube”, rasa-rasanya agak sulit untuk menganggap bahwa stasiun televisi sudah meminta izin terlebih dahulu. Karena dalam situsnya, pengelola youtube sudah menetapkan bahwa :
“You agree not to distribute in any medium any part of the Service or the Content without YouTube’s prior written authorization, unless YouTube makes available the means for such distribution through functionality offered by the Service (such as the Embeddable Player)”
Mari kita pelototi ulang kalimat ini : “You agree not to distribute in any medium any part the Service or the Content without YouTube’s prior written authorization” yang artinya kurang lebih : bahwa kita setuju untuk tidak mendistribusikan dalam segala media setiap bagian dari pelayanan atau konten tanpa persetujuan tertulis dari youtube sebelumnya. Harap diingat youtube sendiri tidak memiliki hak penuh terhadap video yang diunggah (upload) oleh penggunanya. Dia hanya memiliki hak untuk menayangkan yang sewaktu waktu bisa dicabut oleh pemiliknya. Hal ini biasa terjadi untuk video klip, lagu, materi promosi film, film itu sendiri dan lainnya. Saya pernah menemukan satu link youtube dari ayumi Hamasaki yang tidak lagi aktif karena perusahaan pemiliknya (avex entertainment) melaporkan klaim hak cipta kepada pengelola youtube.
Kembali ke pertanyaan awal kita? Apakah youtube sudah memberikan izin tertulis kepada pengelola televisi di indonesia untuk menggunakan videonya. Kalau sudah, izin tersebut dikeluarkan untuk penggunaan video yang mana? Karena setiap video dalam youtube memiliki hak cipta dan hak tayangnya sendiri. Dengan begitu maraknya perilaku plagiasi pada industri pertelevisian kita, tampaknya kita tidak perlu berpanjang-panjang hanya untuk menjawab pertanyaan ini (sampai detik ini saya masih mengutuk “sinetron catatan harian Nayla”yang mencontek habis tanpa etika dorama “one litre of tears” yang menceritakan perjuangan gadis yang mengidap penyakit syaraf).
Matikah kreatifitas kalangan industri pertelevisian kita? Kita begitu gelagapan ketika sinetron upin ipin yang begitu kreatif meraih rating yang begitu tinggi di Indonesia. Jika mau jujur, tayangan-tayangan kreatif yang diimpor dari luar justru menjadi penyelamat pertelevisian dari sekedar rangkaian tayangan sampah (sampah karena isinya hanya politik busuk, debat kusir, perilaku koruptif, sinetron lebay, gosip murahan, kekerasan, sex, budaya hedonis dan konsumtif dan sekarang di tambah oleh “courtesy of youtube”). Saya pribadi hanya menggemari “shaun the sheep”, “spongebob” dan “oscar’s oasis”, selebihnya lupakan saja. Hidup sudah cukup penat hanya untuk ditambah tontonan debat kusir politisi dan penegak hukum.
Atau sudah begitu malaskah para tim kreatif stasiun televisi untuk membuat tayangan yang berkualitas dan menarik penonton. Lebih jauh lagi, sudah matikan budaya kita untuk berkreasi dan mencipta?
Kembali ke coutesy of youtube. Melihat rating tayangan coutesy of youtube yang lumayan tinggi. Saya berfikir apakah televisi sudah memberikan hak atau kompensasi kepada pemilik video yang sesungguhnya. Begini ceritanya, bukankah televisi mendapatkan keuntungan dari iklan yang masuk? Jika ya dan memang pastinya begitu (jika tidak, tidak mungkin acara sejenis akan berjamuran), bukankah ada sebagian dari keuntungan tersebut yang menjadi hak dari pemilik video yang menjadi bahan tayangan acara tersebut?
Contohnya begini, katakanlah saya mengupload video tentang kejadian lucu di youtube. Secara resmi video tersebut adalah milik saya, dengan mengupload video itu melalui youtube, saya memberi hak kepada youtube untuk menyiarkannya. Youtube tidak berhak untuk mengedit video saya atau menggunakannya untuk kepentingan komersil tanpa sepengetahuan atau seizin saya. Ketika katakanlah acara tertentu menggunakan video saya, bukankan seharusnya dia mencantumkan “courtesy of youtube and firman syafei”. Tentunya setelah persetujuan saya. Jika tidak, Bukankah ini plagiasi? dan bukankah saya seharusnya mendapatkan kompensasi terhadap penggunaan video saya?
Pemilik video harus susah payah merekam, mengkonversi ke format yang sesuai dan harus meluangkan waktu, biaya dan energi untuk mengupload ke internet. Dilain pihak televisi tanpa sepengetahuan pemiliknya, tinggal mendownload, mengedit dan menjadikannya material untuk mendatangkan keuntungan. Apakah ini adil? (harap dicatat, saya belum membahas lagu-lagu yang sering dipakai untuk backsound).
Keadilan dalam hak cipta memang lumayan sulit di indonesia ini, Kelompok lawak warkop yang film film nya sering ditayangkan berulang ulang ternyata tidak mendapatkan royalti, begitu pula grup musik BIMBO yang lagu lagunya sering dicatut. Jika artis yang demikian dihormati saja diperlakukan seperti itu, apalagi orang biasa yang sekedar punya video bagus.
Saya ingin mengutip tulisan Wilson Sitorus yang membahas tema yang serupa. Tulisan ini dimuat pada situs Tempo Online tanggal 16 Mei 2011, tulisan lengkapnya dapat
dikunjungi disini. Ini yang beliau tulis:
“Begitulah, penggunaan potongan gambar dari YouTube seyogianya hanya sebagai ilustrasi untuk memperkuat tayangan. Bukan menjadikannya sebagai sumber berita dengan agenda setting yang sudah disesuaikan dengan selera pemirsa. Bukan juga mengkomersialkannya, karena konten itu punya konsekuensi pada hak atas kekayaan intelektual (HAKI)”
Selasa, 23 Agustus 2011
catatan seorang Pertapa jilid 2
Nyamuk nyamuk beterbangan kesana kemari. Aku tak perduli. Berbulan bulan mereka menghilang kini mereka kembali. Biarlah saja. Memang sudah waktunya mereka ada. Seperti biasa, seperti tahun tahun sebelumnya.
Lagipula aku dan mereka punya perjanjian tidak tertulis. Mereka bebas menghisap darahku, dan sebagai balasannya aku bebas menghabisi nyamuk nyamuk malang yang terlalu rakus. Terlalu rakus sehingga mereka menjadi lamban dan tidak waspada. Perjanjian yang adil.
Lagipula para penghuni lain seperi cecak dan laba laba turut bergembira dengan kehadiran para nyamuk. Akan ada anak anak cecak yang sehat dan kenyang, akan ada laba laba muda yang meneruskan jejaring halus karya orang tuanya.
Itulah hidup, kematian yang satu merupakan kehidupan dari yang lain. Sangat adil. Karena cecak dan laba-laba hanya mengambil seperlunya. Selama perut mereka kenyang dan anak anak mereka terpenuhi kebutuhannya, tak perlu lagi membunuh. Tak perlu ada nyawa lain yang dikorbankan. Tak ada timbunan nyamuk dijaring laba-laba, karena tak ada perdagangan nyamuk antara mereka. Tak akan ada kenaikan harga bangkai nyamuk di pasaran.
Itulah hidup didalam kamar kostku. Cecak sibuk mencari nyamuk dan lalat. Laba-laba sibuk menjaring sisanya. Kecoa sibuk melarikan diri dariku, dan setelah para kecoa lari, aku sibuk menulis. Aku tak khawatir dengan nyamuk, karena mereka sibuk lari dari cecak dan laba-laba. Harmonis sekali.
Sebenarnya ada penghuni lain di kamarku. Jumlahnya banyak, bergerombol menghabiskan tempat. Kerjanya hanya diam dan menunggu ajal. Ajal yang akan sangat lama sekali berkunjung. Mereka tak pernah bergerak, kerjanya hanya diam dan berdebu. Jika telah berdebu, akulah yang kena batunya untuk membersihkan mereka. Sama seperti pernikahan, siapa suruh aku memasukan mereka kekamarku. Kamar yang kuanggap sebagai area privat yang tak sembarang orang boleh masuk. Karena mereka sudah menjadi penghuni tetap. Akulah yang harus mengambil tanggung jawab.
Tumpukan buku buku ini telah menemaniku selama bertahun tahun. Ada yang sudah tua dan menguning. Ada yang masih muda dan baru. Tapi mayoritas masih terawat. Harap maklum, aku tak mengenal istilah meminjamkan buku. Cintaku posesif. Bukuku hanya untuk aku. Selamanya. Jika mau membaca, silahkan saja. Tapi luangkan waktu membacamu di kamarku. Karena setiap pecinta akan remuk redam kalbunya melihat cintanya dibawa pergi. Intinya mudah saja kawan, kau boleh baca, Jangan dibawa pulang.
Aku semenjak kecil selalu dididik untuk menghargai buku. Terlebih lagi ketika buku adalah sebuah benda mewah dan ajaib untuk kami. Kebiasaan ini menular. Aku pernah mengkoleksi (atau tepatnya menyimpan) tumpukan Koran olahraga yang aku beli secara rutin selama bertahun tahun. Koleksi itu tetap ada ditempatnya sampai ketika ibu mengancam bahwa entah Koran Koran itu yang pergi atau baju bajuku yang akan disimpan diluar.
Jika para wanita menjadi gelap mata ketika bersentuhan dengan tas, perhiasan, hak tinggi, sepatu, baju dan benda benda duniawi lainnya. Aku menjadi begitu bersemangat jika ada di toko buku, dan ketika toko itu memasang harga diskon, aku serasa menghisap ganja dan melayang jauh ke angkasa.
Berapa lama yang kau habiskan untuk membaca novel harry potter? Tiga hari? Empat hari? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca novel Dan Brown? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca literatur social? Aku cukup satu hari. Sombong memang, tapi itulah kenyataannya. Pengecualian hanya terjadi untuk Al-Quran. Kitab ini adalah ilmu Allah yang Maha Luas, manusia selama berabad-abad belum selesai mengkajinya. Aku tak pantas menjadikannya arena pacuan adu cepat khatam. Tiap lembarnya adalah bijak dan selamatnya hidup. Tiap menit membacanya adalah dunia yang mengecil dan semesta yang semakin tersingkap. Kitab ini terlalu mulia untuk sekedar dibaca. Kitab ini adalah hidup manusia.
Sebagai pecinta buku, jangan heran jika hadiahku padamu akan berupa buku. Ketika aku menghadiahkan sesuatu untuk seseorang, itu artinya aku ingin mereka bahagia. Tapi ketika aku memberikan padamu sebuah buku. Itu artinya aku ingin kau membacanya dan berbahagia dengannya. Itu artinya aku ingin berbagi sepotong kehidupanku denganmu. Sebagian orang sayangnya, melihatnya sebagai membosankan.
Tapi menjadi pembaca buku tidak melulu berkutat dengan kertas-kertas. Ada kebijakan yang orang abaikan. Ada pemahaman yang orang lupakan. Ada tujuan yang orang belokan. Buku adalah kebijaksanaan yang merendahkan dirinya semata-mata supaya dia difahami orang banyak. Sebuah upaya yang mulia dengan hasil yang seadanya.
Biasanya orang yang hobi membaca pintar menulis puisi. Biasanya, tapi tidak juga. Tapi aku tahu pasti, orang yang hobi membaca banyak menulis puisi. Entah tentang gundah gulana, entah tentang riang gembira. Sekedar unek unek atau riuh riuh hari harinya. Tulisan mereka tajam, dipenuhi untaian kata kata yang banyak orang tak kenal atau dengar sebelumnya. Seringkali begitu aneh sehingga hanya Tuhan dan pembuatnya sendiri yang faham. Para pembaca buku memang selalu memiliki sisi yang hanya untuk mereka sendiri. Tidak untuk orang lain, tidak untuk diceritakan, tidak untuk dibagikan. Cukup Tuhan dan dia.
Nyamuk sudah pergi, pertanda koloni mereka kekurangan serdadu. Siklus kehidupan berputar cepat rupanya. Aku harus mengakhiri tulisan ini. Karena tak ada lagi yang perlu ku bagikan untukmu. Lagipula kau pasti malas menerima hadiah buku dariku.
Lagipula aku dan mereka punya perjanjian tidak tertulis. Mereka bebas menghisap darahku, dan sebagai balasannya aku bebas menghabisi nyamuk nyamuk malang yang terlalu rakus. Terlalu rakus sehingga mereka menjadi lamban dan tidak waspada. Perjanjian yang adil.
Lagipula para penghuni lain seperi cecak dan laba laba turut bergembira dengan kehadiran para nyamuk. Akan ada anak anak cecak yang sehat dan kenyang, akan ada laba laba muda yang meneruskan jejaring halus karya orang tuanya.
Itulah hidup, kematian yang satu merupakan kehidupan dari yang lain. Sangat adil. Karena cecak dan laba-laba hanya mengambil seperlunya. Selama perut mereka kenyang dan anak anak mereka terpenuhi kebutuhannya, tak perlu lagi membunuh. Tak perlu ada nyawa lain yang dikorbankan. Tak ada timbunan nyamuk dijaring laba-laba, karena tak ada perdagangan nyamuk antara mereka. Tak akan ada kenaikan harga bangkai nyamuk di pasaran.
Itulah hidup didalam kamar kostku. Cecak sibuk mencari nyamuk dan lalat. Laba-laba sibuk menjaring sisanya. Kecoa sibuk melarikan diri dariku, dan setelah para kecoa lari, aku sibuk menulis. Aku tak khawatir dengan nyamuk, karena mereka sibuk lari dari cecak dan laba-laba. Harmonis sekali.
Sebenarnya ada penghuni lain di kamarku. Jumlahnya banyak, bergerombol menghabiskan tempat. Kerjanya hanya diam dan menunggu ajal. Ajal yang akan sangat lama sekali berkunjung. Mereka tak pernah bergerak, kerjanya hanya diam dan berdebu. Jika telah berdebu, akulah yang kena batunya untuk membersihkan mereka. Sama seperti pernikahan, siapa suruh aku memasukan mereka kekamarku. Kamar yang kuanggap sebagai area privat yang tak sembarang orang boleh masuk. Karena mereka sudah menjadi penghuni tetap. Akulah yang harus mengambil tanggung jawab.
Tumpukan buku buku ini telah menemaniku selama bertahun tahun. Ada yang sudah tua dan menguning. Ada yang masih muda dan baru. Tapi mayoritas masih terawat. Harap maklum, aku tak mengenal istilah meminjamkan buku. Cintaku posesif. Bukuku hanya untuk aku. Selamanya. Jika mau membaca, silahkan saja. Tapi luangkan waktu membacamu di kamarku. Karena setiap pecinta akan remuk redam kalbunya melihat cintanya dibawa pergi. Intinya mudah saja kawan, kau boleh baca, Jangan dibawa pulang.
Aku semenjak kecil selalu dididik untuk menghargai buku. Terlebih lagi ketika buku adalah sebuah benda mewah dan ajaib untuk kami. Kebiasaan ini menular. Aku pernah mengkoleksi (atau tepatnya menyimpan) tumpukan Koran olahraga yang aku beli secara rutin selama bertahun tahun. Koleksi itu tetap ada ditempatnya sampai ketika ibu mengancam bahwa entah Koran Koran itu yang pergi atau baju bajuku yang akan disimpan diluar.
Jika para wanita menjadi gelap mata ketika bersentuhan dengan tas, perhiasan, hak tinggi, sepatu, baju dan benda benda duniawi lainnya. Aku menjadi begitu bersemangat jika ada di toko buku, dan ketika toko itu memasang harga diskon, aku serasa menghisap ganja dan melayang jauh ke angkasa.
Berapa lama yang kau habiskan untuk membaca novel harry potter? Tiga hari? Empat hari? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca novel Dan Brown? Aku cukup satu hari. Berapa lama yang kau butuhkan untuk membaca literatur social? Aku cukup satu hari. Sombong memang, tapi itulah kenyataannya. Pengecualian hanya terjadi untuk Al-Quran. Kitab ini adalah ilmu Allah yang Maha Luas, manusia selama berabad-abad belum selesai mengkajinya. Aku tak pantas menjadikannya arena pacuan adu cepat khatam. Tiap lembarnya adalah bijak dan selamatnya hidup. Tiap menit membacanya adalah dunia yang mengecil dan semesta yang semakin tersingkap. Kitab ini terlalu mulia untuk sekedar dibaca. Kitab ini adalah hidup manusia.
Sebagai pecinta buku, jangan heran jika hadiahku padamu akan berupa buku. Ketika aku menghadiahkan sesuatu untuk seseorang, itu artinya aku ingin mereka bahagia. Tapi ketika aku memberikan padamu sebuah buku. Itu artinya aku ingin kau membacanya dan berbahagia dengannya. Itu artinya aku ingin berbagi sepotong kehidupanku denganmu. Sebagian orang sayangnya, melihatnya sebagai membosankan.
Tapi menjadi pembaca buku tidak melulu berkutat dengan kertas-kertas. Ada kebijakan yang orang abaikan. Ada pemahaman yang orang lupakan. Ada tujuan yang orang belokan. Buku adalah kebijaksanaan yang merendahkan dirinya semata-mata supaya dia difahami orang banyak. Sebuah upaya yang mulia dengan hasil yang seadanya.
Biasanya orang yang hobi membaca pintar menulis puisi. Biasanya, tapi tidak juga. Tapi aku tahu pasti, orang yang hobi membaca banyak menulis puisi. Entah tentang gundah gulana, entah tentang riang gembira. Sekedar unek unek atau riuh riuh hari harinya. Tulisan mereka tajam, dipenuhi untaian kata kata yang banyak orang tak kenal atau dengar sebelumnya. Seringkali begitu aneh sehingga hanya Tuhan dan pembuatnya sendiri yang faham. Para pembaca buku memang selalu memiliki sisi yang hanya untuk mereka sendiri. Tidak untuk orang lain, tidak untuk diceritakan, tidak untuk dibagikan. Cukup Tuhan dan dia.
Nyamuk sudah pergi, pertanda koloni mereka kekurangan serdadu. Siklus kehidupan berputar cepat rupanya. Aku harus mengakhiri tulisan ini. Karena tak ada lagi yang perlu ku bagikan untukmu. Lagipula kau pasti malas menerima hadiah buku dariku.
Rabu, 27 Juli 2011
sebelum ramadhan gagal kembali
ramadhan itu sebenarnya cara paling mudah untuk mengetahui siapa kita. Pelanggaran berulang yang kita lakukan di setiap harinya cukuplah menjadi cermin. kemenangan? kemenangan apa yang secara sangat naif kita bayangkan? kemenangan menahan lapar? kemenangan berpuasa? Tuhan tak butuh lapar kita. lebih jauh lagi, Dia tak butuh kita.
apakah aku bisa menjadi orang yang lebih sabar. bisakah menjadi sedikit bijak, atau setidaknya, bertambah baikkah diriku? setiap tahun kita bermaaf maafan dengan dendam yang enggan beranjak. dengki seolah telah membangun peristirahatan di kalbu kita. iri dan hasud menjadi teman setia untuk bercengkarama. dikeriuhan kelamnya hati, amarah datang untuk melengkapinya. binatang, kita tak lebih dari itu
kebohongan tetaplah kebohongan. meski itu dibalut kemanusiaan. jangan tutupi itu. tahun demi tahun aku menjerit. ingin sekali berteriak. puasaku untuk diriku bukan untuk siapa siapa.
kita mengaku islam dan senantiasa menjadi penghianat atas keyakinan kita sendiri. aku tak merasa diampuni. aku merasa hidup dalam tali gantungan dari emas dan perak. menjual jiwaku pada benda benda fana. hanya untuk membeli baju baru, hanya untuk membeli oleh oleh.
dalam perenunganku, ku dengar jawaban. "itulah ujiannya..., kau pilih JalanKU atau jalan yang lain, itu terserah kamu". memang benar, naik motor saja harus lulus ujian.
sekarang pertanyaannya. apakah ramadhan kali ini kita akan gagal kembali. jujur sajalah, tahun lalu kita lalui hari hari mulia itu seolah sampah. hari hari dimana lampau sang Nabi tak lewatkan sedetikpun tanpa kebajikan dan derma justru kita lalui sambil lalu
seiring tangan munafikku menulis teks teks tak penting ini. sekeping akal sehatku yang masih tersisa tetap bertanya, apakah kau akan gagal kembali tahun ini?
apakah aku bisa menjadi orang yang lebih sabar. bisakah menjadi sedikit bijak, atau setidaknya, bertambah baikkah diriku? setiap tahun kita bermaaf maafan dengan dendam yang enggan beranjak. dengki seolah telah membangun peristirahatan di kalbu kita. iri dan hasud menjadi teman setia untuk bercengkarama. dikeriuhan kelamnya hati, amarah datang untuk melengkapinya. binatang, kita tak lebih dari itu
kebohongan tetaplah kebohongan. meski itu dibalut kemanusiaan. jangan tutupi itu. tahun demi tahun aku menjerit. ingin sekali berteriak. puasaku untuk diriku bukan untuk siapa siapa.
kita mengaku islam dan senantiasa menjadi penghianat atas keyakinan kita sendiri. aku tak merasa diampuni. aku merasa hidup dalam tali gantungan dari emas dan perak. menjual jiwaku pada benda benda fana. hanya untuk membeli baju baru, hanya untuk membeli oleh oleh.
dalam perenunganku, ku dengar jawaban. "itulah ujiannya..., kau pilih JalanKU atau jalan yang lain, itu terserah kamu". memang benar, naik motor saja harus lulus ujian.
sekarang pertanyaannya. apakah ramadhan kali ini kita akan gagal kembali. jujur sajalah, tahun lalu kita lalui hari hari mulia itu seolah sampah. hari hari dimana lampau sang Nabi tak lewatkan sedetikpun tanpa kebajikan dan derma justru kita lalui sambil lalu
seiring tangan munafikku menulis teks teks tak penting ini. sekeping akal sehatku yang masih tersisa tetap bertanya, apakah kau akan gagal kembali tahun ini?
catatan seorang pertapa
Aku tidak suka sinetron. tayangan seperti itu lebih cocok ditujukan untuk metode interogasi polisi. itulah kenapa aku lebih memilih mendekam sendiri di kamar daripada ikut ramai memelototi siaran terkutuk itu. jadilah diriku ini pertapa ditengah keramaian. orang lain berkumpul bercengkerama, aku sendirian saja.
tapi tidak mengapa. semenjak kecil aku memang lebih akrab dengan kesendirian daripada keramaian. aku lebih nyaman bersama benda benda mati berlabel mainan daripada berkumpul bersama sesama manusia.
bahkan tahun kelahiranku pun seolah mengisyaratkan bahwa aku akan hidup dalam alam yang berbeda. 1984 adalah tahun dimana generasi yang lahir dikampungku hanya diisi oleh dua orang saja. aku dan seorang lagi. nasib keduanya sama. kami sama sama asing di kampung halaman dan sibuk berjuang untuk mencari tempat kami di dunia ini. perjuangan yang seringkali gagal
aku ingat masa masa kecilku. terlalu muda untuk bergaul dengan rekan rekan yang lain. terlalu besar untuk bermain dengan generasi sesudahnya. tapi alasan utamanya sebenarnya lebih dalam dari itu. itu telah ada didalam darahku.
mungkin kalau ada psikolog jaman SD, mesti ini hasilnya. Firman Syafei : semenjak kecil, sudah terlihat cukup cerdas dalam pelajaran, tapi cukup bodoh untuk memahami cara bergaul dengan sesama. tidak betul betul bisa cocok dalam kelompok. kurang dalam sosialisasi. outsider
tapi itu semua bukan murni kesalahanku. pergaulan selalu didasarkan kepada kesamaan minat. entah itu mainan baru, video game, olahraga, musik, ketenaran, atau kepintaran. aku tidak pernah punya mainan yang bisa dibanggakan waktu itu, tidak mampu membeli video game, tidak punya bakat olahraga, gagap bermusik, miskin ketenaran, dan selalu kalah dalam kepintaran dari bintang kelas. temanku banyak, tapi tidak benar benar bisa akrab.
menginjak SMU, semuanya semakin kapitalis. aku menjadi orang pinggiran di pusaran elit perkotaan. atau setidaknya itu yang aku pikir waktu itu. Seperti semua anak yang baru puber. Diriku mencoba mencari jati diri. Tapi maaf saja, di kota, jati diri ditentukan berapa uang yang kau miliki. Iri sekali jika melihat kawan kawan yang jadi pusat perhatian. envy.. dan dada semakin sakit ketika kau bertemu cinta pertamamu dan detik itu pula kau tahu.. bahwa cinta itu untuk dilupakan. dia putri angsa dan putri angsa butuh pangeran berkuda. sayang sekali, kuda tersebut telah ditambatkan dan sang pangeran telah menanti. so i killed the very first love.. it died painfully.
kuliah. kuliah bagi keluargaku adalah satu kata yang asing sampai tahun 2002 tiba. tak satupun anggota keluargaku yang jejak sendalnya pernah menginjakan kaki di lantai para cendikia. manusia semakin aneh aneh saja. ekstrim kanan, ekstrim kiri, idealis, agamis, hedonis, komunis, ateis, sosialis, hipokrit, anarkis, oportunis,tinggal pilih saja. aku lebih memilih belajar dengan baik. aku semakin baik dalam berorganisasi, tapi bukan dalam sosialisasi. bertahun tahun aku mendengar sebuah terminologi asing yang bertahun tahun pula aku tidak pernah miliki. terminologi itu bernama : "teman curhat"
face it lad, i dont have it. aku menelan mentah mentah semua masalahku dan ku selesaikan semampuku. beruntung Allah bermurah hati sehingga sebagian besar masalah itu berlalu. kecuali ketika sahabatku berhianat dan meninggalkan lubang besar di hatiku. lubang itu menamakan dirinya sendiri "monumen kebodohan firman syafei". pada lubang itu aku menggoreskan ungkapan kepahitan abadi : homo homini lupus, kata latin yang berarti manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. temanku itu salah satunya.
baiklah, sekarang bekerja. aku menjadi pertapa di kost. aku kesulitan untuk memahami gaya pergaulan teman teman. beda budaya, beda cara. jadilah aku disini saja, berteman dengan kotak berlayar. dikantor cukup sulit juga. baru kemarin-kemarin bisa menemukan teman ngobrol.
tapi aku tetap seorang penyendiri.
tapi tidak mengapa. semenjak kecil aku memang lebih akrab dengan kesendirian daripada keramaian. aku lebih nyaman bersama benda benda mati berlabel mainan daripada berkumpul bersama sesama manusia.
bahkan tahun kelahiranku pun seolah mengisyaratkan bahwa aku akan hidup dalam alam yang berbeda. 1984 adalah tahun dimana generasi yang lahir dikampungku hanya diisi oleh dua orang saja. aku dan seorang lagi. nasib keduanya sama. kami sama sama asing di kampung halaman dan sibuk berjuang untuk mencari tempat kami di dunia ini. perjuangan yang seringkali gagal
aku ingat masa masa kecilku. terlalu muda untuk bergaul dengan rekan rekan yang lain. terlalu besar untuk bermain dengan generasi sesudahnya. tapi alasan utamanya sebenarnya lebih dalam dari itu. itu telah ada didalam darahku.
mungkin kalau ada psikolog jaman SD, mesti ini hasilnya. Firman Syafei : semenjak kecil, sudah terlihat cukup cerdas dalam pelajaran, tapi cukup bodoh untuk memahami cara bergaul dengan sesama. tidak betul betul bisa cocok dalam kelompok. kurang dalam sosialisasi. outsider
tapi itu semua bukan murni kesalahanku. pergaulan selalu didasarkan kepada kesamaan minat. entah itu mainan baru, video game, olahraga, musik, ketenaran, atau kepintaran. aku tidak pernah punya mainan yang bisa dibanggakan waktu itu, tidak mampu membeli video game, tidak punya bakat olahraga, gagap bermusik, miskin ketenaran, dan selalu kalah dalam kepintaran dari bintang kelas. temanku banyak, tapi tidak benar benar bisa akrab.
menginjak SMU, semuanya semakin kapitalis. aku menjadi orang pinggiran di pusaran elit perkotaan. atau setidaknya itu yang aku pikir waktu itu. Seperti semua anak yang baru puber. Diriku mencoba mencari jati diri. Tapi maaf saja, di kota, jati diri ditentukan berapa uang yang kau miliki. Iri sekali jika melihat kawan kawan yang jadi pusat perhatian. envy.. dan dada semakin sakit ketika kau bertemu cinta pertamamu dan detik itu pula kau tahu.. bahwa cinta itu untuk dilupakan. dia putri angsa dan putri angsa butuh pangeran berkuda. sayang sekali, kuda tersebut telah ditambatkan dan sang pangeran telah menanti. so i killed the very first love.. it died painfully.
kuliah. kuliah bagi keluargaku adalah satu kata yang asing sampai tahun 2002 tiba. tak satupun anggota keluargaku yang jejak sendalnya pernah menginjakan kaki di lantai para cendikia. manusia semakin aneh aneh saja. ekstrim kanan, ekstrim kiri, idealis, agamis, hedonis, komunis, ateis, sosialis, hipokrit, anarkis, oportunis,tinggal pilih saja. aku lebih memilih belajar dengan baik. aku semakin baik dalam berorganisasi, tapi bukan dalam sosialisasi. bertahun tahun aku mendengar sebuah terminologi asing yang bertahun tahun pula aku tidak pernah miliki. terminologi itu bernama : "teman curhat"
face it lad, i dont have it. aku menelan mentah mentah semua masalahku dan ku selesaikan semampuku. beruntung Allah bermurah hati sehingga sebagian besar masalah itu berlalu. kecuali ketika sahabatku berhianat dan meninggalkan lubang besar di hatiku. lubang itu menamakan dirinya sendiri "monumen kebodohan firman syafei". pada lubang itu aku menggoreskan ungkapan kepahitan abadi : homo homini lupus, kata latin yang berarti manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. temanku itu salah satunya.
baiklah, sekarang bekerja. aku menjadi pertapa di kost. aku kesulitan untuk memahami gaya pergaulan teman teman. beda budaya, beda cara. jadilah aku disini saja, berteman dengan kotak berlayar. dikantor cukup sulit juga. baru kemarin-kemarin bisa menemukan teman ngobrol.
tapi aku tetap seorang penyendiri.
Kamis, 14 April 2011
JAUHKAN AKU DARI ORGAN TUNGGAL !!!!...
Jujur, Aku tidak suka organ tunggal. Bukan karena pemain musiknya, tapi lebih kepada suasana yang ditimbulkannya. Setiap kali kantor mengadakan acara kebersamaan, selalu saja dimasukan acara hiburan berupa organ tunggal.Yang jadi masalah bukanlah organ tunggalnya, tapi pilihan lagu yang dimainkannya. Itulah masalah utamaku. Bukannya sok stylish, tapi aku memang termasuk pemilih kalo urusan lagu.
Terus terang aku bosan mendengar lagu-lagu itu itu saja yang dimainkan setiap kali ada acara kantor. Tembang pilihannya pastilah tak jauh jauh dari hits hits klasik (baca: jadul) yang rentang tahunnya mulai dari tahun 60an dan mentok di tahun 80an awal. Jika pilihan lagu tadi sudah habis, pilihan pastilah berganti ke lagu lagu daerah yang lagi-lagi itu itu saja dan tenar ketika sebagian besar generasi sekarang belum lahir. Bukan maksudku untuk anti lagu daerah, tapi harus kita akui, lagu lagu daerah ditinggalkan karena memang tak mau mengikuti perkembangan jaman. Lagu baru saja belum tentu disukai, apalagi lagu lama yang seolah sakral dan pantang dimodifikasi?
Situasi makin buruk ketika dangdut mulai dimainkan. Entah siapa yang akan memulai, tapi selalu saja ada “sesi” joged bersama. Jika itu yang terjadi, aku lebih memilih untuk menyingkir dan mencari teman ngobrol. Hal yang sama kulakukan ketika lagu “poco-poco” dimainkan. Aku sendiri penasaran kenapa lagu ini seolah jadi lagu wajib nasional jika ada acara hiburan. Tidak di pemerintahan, tidak di swasta, sama saja. Ketika teman-teman sibuk “goyang poco-poco” biasanya aku hanya duduk dan melihat. Mungkin aku jadi terkesan “tidak gaul” atau “tidak asik”, tapi terserahlah, karena ini urusan selera. Oleh karena itu aku tidak pernah mengganggu atau mengejek, selama teman-temanku suka, that's fine with me. Tapi urusan joged-joged ini bisa jadi urusan serius, suatu saat aku pernah hilang feeling karena wanita yang aku suka ikut goyang poco-poco, dan tiba-tiba saja terbersit keraguan dalam hati. “Lupakan saja....” kataku membatin.
Pada dasarnya aku bukan ingin usil dengan hobi orang lain. Bukan urusanku juga untuk menghakimi selera musik seseorang. Karena selera bukan soal benar dan salah. Tapi urusan cara menikmati hidup. Aku sendiri tidak akan memaksakan pilihan laguku untuk disukai orang lain. Tapi satu hal saja yang aku minta. Jauhkan aku dari organ tunggal. Sungguh, selama aku ketemu organ tunggal, baik waktu acara kantor, kawinan, atau kampanye, pilihan lagunya selalu saja tidak asik untukku dengar. Aku bukan tipe-tipe yang sok "ikut seru-seruan". Aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa goyang poco-poco itu tidak "segitu" serunya, bahkan biasanya saja. aku juga tidak ragu untuk mengatakan bahwa lagu "kemesraan" sebaiknya dilarang saja, karena sudah terlalu sering dinyanyikan. Tapi kalau ada yang ingin, silahkan saja. Asal jangan paksa diriku.
oleh karena itu, sampai tiba waktu lagu padi, sheila on 7, Nidji, GIGI, kla project, linkin park, the coors, atau L'Arc En Ciels dimainkan oleh organ tunggal. Aku lebih memilih duduk bersama dan mengobrol saja.. dibawah cemerlang rembulan, ditemani semilir keredupan.
saking seringnya waktu hidup goyang poco-poco, ini yang terjadi setelah mati :
sumber disinih
Terus terang aku bosan mendengar lagu-lagu itu itu saja yang dimainkan setiap kali ada acara kantor. Tembang pilihannya pastilah tak jauh jauh dari hits hits klasik (baca: jadul) yang rentang tahunnya mulai dari tahun 60an dan mentok di tahun 80an awal. Jika pilihan lagu tadi sudah habis, pilihan pastilah berganti ke lagu lagu daerah yang lagi-lagi itu itu saja dan tenar ketika sebagian besar generasi sekarang belum lahir. Bukan maksudku untuk anti lagu daerah, tapi harus kita akui, lagu lagu daerah ditinggalkan karena memang tak mau mengikuti perkembangan jaman. Lagu baru saja belum tentu disukai, apalagi lagu lama yang seolah sakral dan pantang dimodifikasi?
Situasi makin buruk ketika dangdut mulai dimainkan. Entah siapa yang akan memulai, tapi selalu saja ada “sesi” joged bersama. Jika itu yang terjadi, aku lebih memilih untuk menyingkir dan mencari teman ngobrol. Hal yang sama kulakukan ketika lagu “poco-poco” dimainkan. Aku sendiri penasaran kenapa lagu ini seolah jadi lagu wajib nasional jika ada acara hiburan. Tidak di pemerintahan, tidak di swasta, sama saja. Ketika teman-teman sibuk “goyang poco-poco” biasanya aku hanya duduk dan melihat. Mungkin aku jadi terkesan “tidak gaul” atau “tidak asik”, tapi terserahlah, karena ini urusan selera. Oleh karena itu aku tidak pernah mengganggu atau mengejek, selama teman-temanku suka, that's fine with me. Tapi urusan joged-joged ini bisa jadi urusan serius, suatu saat aku pernah hilang feeling karena wanita yang aku suka ikut goyang poco-poco, dan tiba-tiba saja terbersit keraguan dalam hati. “Lupakan saja....” kataku membatin.
Pada dasarnya aku bukan ingin usil dengan hobi orang lain. Bukan urusanku juga untuk menghakimi selera musik seseorang. Karena selera bukan soal benar dan salah. Tapi urusan cara menikmati hidup. Aku sendiri tidak akan memaksakan pilihan laguku untuk disukai orang lain. Tapi satu hal saja yang aku minta. Jauhkan aku dari organ tunggal. Sungguh, selama aku ketemu organ tunggal, baik waktu acara kantor, kawinan, atau kampanye, pilihan lagunya selalu saja tidak asik untukku dengar. Aku bukan tipe-tipe yang sok "ikut seru-seruan". Aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa goyang poco-poco itu tidak "segitu" serunya, bahkan biasanya saja. aku juga tidak ragu untuk mengatakan bahwa lagu "kemesraan" sebaiknya dilarang saja, karena sudah terlalu sering dinyanyikan. Tapi kalau ada yang ingin, silahkan saja. Asal jangan paksa diriku.
oleh karena itu, sampai tiba waktu lagu padi, sheila on 7, Nidji, GIGI, kla project, linkin park, the coors, atau L'Arc En Ciels dimainkan oleh organ tunggal. Aku lebih memilih duduk bersama dan mengobrol saja.. dibawah cemerlang rembulan, ditemani semilir keredupan.
saking seringnya waktu hidup goyang poco-poco, ini yang terjadi setelah mati :
sumber disinih
Rabu, 13 April 2011
BUKA USAHA NGGAK KAYA? PERCUMA......!!!!!
“Kenapa Orang yang Punya Usaha Belum Tentu Kaya.......”
Setelah lama agak tertunda, kali ini saya akan membahas buku dari salah satu perencana keuangan pertama di Indonesia, Safir Senduk. Judul bukunya sama dengan diatas: Buka Usaha Nggak Kaya? Percuma. Buku ini terbitan tahun 2006 dan saya beli tahun 2007 lalu (Agak klasik memang). Buku ini termasuk buku poket (ukuran kecil) dengan tebal 189 halaman dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo (yang dulu terbitkan komik dragon ball).
Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas tentang manajemen pengelolaan usaha atau bisnis untuk mereka yang ingin memulai membuka usaha. Secara pribadi, saya suka buku ini. Selain karena bahasanya yang sederhana dan mudah dimengerti, materi yang dibahas relatif mudah dilaksanakan. Buku ini membuka pemahaman kita tentang sisi lain usaha. Jika buku-buku lain berkutat pada motivasi usaha dan bagaimana menjalankannya, buku ini justru “membuka borok” dunia usaha dan memandu para pemula untuk memahami resiko sebenarnya dalam menjalankan usaha. Untuk anda yang ingin membuka usaha, saya sarankan buku ini sebagai salah satu referensi.
Safir Senduk membagi buku ini menjadi 7 bab. Bab pertama membahas kelemahan para pengusaha yang sangat tak acuh untuk berdisiplin mengelola arus kas bisnisnya. Kalimat yang paling berkesan pada bab ini adalah “Kenapa Orang yang Punya Usaha Belum Tentu Kaya”, dan memang inilah pertanyaan inti buku ini. Pernah merasa bahwa setiap kali terima uang (apakah hasil bisnis atau pekerjaan), uang tersebut terasa cepat sekali hilang?. Apakah saudara termasuk yang penghasilannya mencapai “sepuluh koma”, yang berapapun penghasilannya tanggal sepuluh sudah “koma”? Maka kemungkinan keras, ada yang salah dengan manajemen keuangannya.
Umumnya,hanya ada tiga sebab yang membuat orang yang punya usaha sendiri belum tentu jadi kaya biarpun banyak buku yang mengatakan bahwa membuka usaha sendiri bisa bikin kaya, yaitu:
1. Boros
2. Terlalu banyak keperluan pribadi yang mendesak
3. Uangnya tidak diputar
Mari kita bahas bersama setiap poin diatas. Boros semenjak jaman dahulu merupakan musuh utama manusia. Berapa banyak bangsa yang jatuh karena besar pasak daripada tiang. Konon negara Yunani kuno yang adi daya pernah hampir bangkrut gara gara menghabiskan anggaran besar-besaran untuk membangun kuil parthenon. Ketika kas negara menipis, kuis yang megah tersebut di preteli kembali untuk dijual. Dalam berbisnis, boros memang musuh utama. Safir senduk menulis, bila setiap kali kita menerima uang dari aktifitas bisnis dan langsung dihabiskan untuk belanja, maka kapan kita kaya?
Sepanjang saya ingat, bisnis yang direcoki rentetan keperluan pribadi akan hancur juga pada akhirnya. Ketika aku kecil, ibu biasa menyuruhku pergi ke pasar untuk belanja barang-barang dagangan. Saya masih ingat toko grosir terbesar di pasar saat itu. Toko itu lebih mirip mall grosir daripada sekedar toko. Masih segar ingatanku tentang gudangnya yang sebesar gudang bulog dan deretan rak rak barang yang menjulang sampai ke atas. Pemandangan para pegawai yang bergelantungan di tangga untuk mengambil barang bukanlah pemandangan aneh. Tapi hari ini toko itu tak berbekas lagi. Singkat cerita, sang pemilik kecanduan judi dan anaknya keranjingan foya-foya. Perilaku yang sama pulalah yang mengirim sebuah hotel terbesar (waktu itu) di dekat rumahku ke jurang kebangkrutan. Begitu juga usaha yang setiap keperluan pemiliknya dipenuhi oleh kas bisnis. Jika setiap kali bayar listrik dan air, jajan anak, belanja harian, dibebankan pada kas usaha, kapan modal usaha akan terkumpul?
Meskipun memiliki usaha yang maju, jika uang hasil pendapatannya tidak diputar kembali, maka kita memiliki resiko besar. Resiko besar apa? Sebut saja kita punya tabungan milyaran (amiiin...) dan kita memiliki bisnis yang berjaya. Tapi hidup mestilah berputar dan siapa tahu bisnis kita tidak “segagah” sebelumnya. Memang kita masih punya tabungan yang milyaran itu (teuteup amiiiin...), tapi seperti kata orang bijak, di masa-masa sulit, uang lah yang akan pertama kali berkhianat. Maksudnya begini, seberapapun besarnya simpanan kita, jika sifatnya pasif, maka lama kelamaan pasti habis. Entah untuk keperluan sehari-hari, biaya kesehatan, pendidikan dan lainnya. Oleh karena itu, memiliki perputaran uang selain bisnis utama kita adalah hal yang perlu.
Cobalah untuk sekali-kali main ke toko buku, kemudian mampir ke bagian buku tentang bisnis. Kita akan melihat deretan buku-buku yang memotivasi kita untuk membuka usaha. Judulnya macam-macam, yang pasti semuanya ditujukan untuk meyakinkan pembaca bahwa membuka usaha merupakan jalan menuju semua impian (memang ada benarnya). Sebagai “pelengkap”, biasanya penulis mengadakan pelatihan dan seminar berdasarkan bukunya dan memberi label “jalan menuju sukses”. Biar afdol, para penulis yang merangkap motivator ini, sering menjuluki diri sendiri sebagai “guru sukses”. Sebenarnya yang dilakukan para motivator ini tidak salah, tapi seringkali mereka hanya berfokus pada semangat dan perubahan pola pikir. Padahal aspek teknis pengelolaan usaha sama sekali tak boleh dilupakan. Saya pernah membahas ini sebelumnya, lengkapnya main kesinih.
Disinilah safir senduk menulis buku ini untuk mengisi kekosongan tentang aspek teknis dunia usaha. Lebih tepatnya kurangnya referensi untuk mengelola keuangan usaha dan pemiliknya. Kita bisa saja semangat menggebu-gebu untuk menjadi pilot, tapi percuma saja jika anda tidak tahu cara mengendarai pesawat. Kita bisa saja diwarisi perusahaan besar, tapi percuma saja jika anda tidak tahu cara mengelolanya.
Untuk memudahkan pembaca, safir senduk memberikan lima kiat sederhana bagaimana cara mengelola keuangan bisnis sehingga anda, keluarga dan bisnis yang dimiliki bisa bebas dari pusaran kebangkrutan atau justru bisa melesat mencapai semua impian. Langsung sajah gan, ini lima kiat yang tasi saya maksud:
1. Pisahkan keuangan pribadi dan Keuangan Usaha
2. Kendalikan pemasukan dan pengeluaran anda
3. Proteksi, proteksi, proteksi
4. miliki investasi selain usaha
5. lakukan analisis ketika ingin membuka usaha baru
sederhana bukan? Masing-masing kiat ini akan saya bahas pada tulisan berikutnya karena masing-masing kiat memiliki “kisah”nya sendiri. Untuk sekarang, saya tinggalkan agan agan untuk merenung, benarkah kita telah sukses?
untuk mengenal safir senduk lebih jauh silahkan main ke kantornya disinih
Langganan:
Postingan (Atom)



