Jumat, 11 Maret 2011

PANDUAN MEMBUAT SINETRON (2)

C. Make Up dan pakaian
Prinsip keberhasilan dalam make-up dan pakaian sangatlah sederhana. Untuk pemeran utama dan tokoh-tokoh yang sering muncul. Jangan sekali-kali menampilkan mereka tanpa make-up. Bahkan pada adegan sholat atau mengaji pun, anda harus mampu mengekspose make-up si tokoh. Akan sangat lebih bagus lagi, jika make-up menor itu tetap muncul pada saat adegan-adegan berikut ini :

1. Si tokoh terbaring di kasur rumah sakit
2. Saat sedang sekarat / sudah meninggal
3. Saat berperan sebagai hantu
4. Saat jadi pemulung/gelandangan
5. Saat tersesat di pulau terpencil selama berminggu-minggu
6. Tergeletak di jalan setelah di tabrak penjahat
7. Saat tidur atau setelah bangun tidur
8. Di tangkap polisi
9. Di dalam sel tahanan
10. Sedang dan setelah bermain bola /olahraga lainnya
11. Prosesi pemakaman
12. kerja kasar / buruh
13. terbaring koma berbulan-bulan dan terbangun dengan amnesia
14. sedang makan (sarapan, siang, malam dan ngemil)
15. sedang tamasya
16. sedang naik haji, zakat, mengaji dan sholat
17. sedang berkelahi
18. sedang luluran
19. sedang ujian atau belajar di kelas
20. Adegan lainnya yang saya tidak ingat lagi

Catatan : apapun profesi dan umur tokoh-tokoh dalam cerita, make up menor harus selalu muncul. Terlepas apakah tokoh dalam cerita berprofesi sebagai penjual asongan atau tukang sampah, Uztad, Pelajar SD-SMP-SMA, Om Senang, Tante Girang, Koruptor, Polisi, Penjahat atau lainnya, Tokoh-tokoh tersebut tidak boleh sedetikpun kehilangan aura kecantikan/kegantengannya. Ingat, faktor ganteng/cantiknya pemeran dalam cerita adalah sangat krusial dalam menentukan laku tidaknya sinetron anda.

Untuk pakaian, prinsip utama yang harus selalu dipegang teguh adalah dalam adegan apapun, kondisi apapun, jangan pernah menampilkan tokoh-tokoh utama (jagoan atau penjahat) tanpa menggunakan rumus baku kostum. Rumus ini selalu berhasil dengan level kegagalan nol persen. Jadi anda tidak boleh alpa sekalipun untuk mengamalkan rumus ini. Berikut rumus baku/pasti penentuan kostum tokoh:

1. tokoh utama dan teman-temannya selalu berpakaian sederhana atau miskin
2. tokoh penjahat selalu berpakaian mewah dan glamour
3. tokoh yang bersimpati pada tokoh utama boleh berpakaian mewah atau sederhana tergantung nilai rekening si karakter
4. tokoh yang bersimpati pada tokoh penjahat harus selalu berpakaian mewah dan glamour

Rumus ini baku dan harus berlaku untuk seluruh adegan, berikut contoh penggunaan rumus ini untuk tokoh jahat:
1. Terbaring di kasur rumah sakit mengenakan baju mewah
2. Saat sedang sekarat / sudah meninggal mengenakan baju mewah
3. Saat bangkit sebagai hantu mengenakan baju mewah
4. Tersesat di pulau terpencil selama berminggu-minggu mengenakan baju mewah
5. Tergeletak di jalan setelah di tabrak penjahat saingan mengenakan baju mewah
6. Saat tidur atau setelah bangun tidur mengenakan baju mewah
7. Di tangkap polisi mengenakan baju mewah
8. Di dalam sel tahanan mengenakan baju mewah
9. Sedang dan setelah bermain bola /olahraga lainnya mengenakan baju mewah
10. Prosesi pemakaman mengenakan baju mewah
11. kerja kasar / buruh mengenakan baju mewah
12. terbaring koma lalu terbangun dengan amnesia mengenakan baju mewah
13. sedang makan (sarapan, siang, malam dan ngemil) mengenakan baju mewah
14. sedang tamasya mengenakan baju mewah
15. sedang naik haji, zakat, mengaji dan sholat mengenakan baju mewah
16. sedang berkelahi mengenakan baju mewah
17. sedang luluran mengenakan baju mewah
18. sedang ujian atau belajar di kelas mengenakan baju mewah
19. Adegan lainnya yang saya tidak ingat lagi mengenakan baju mewah

Kembali saya ingatkan bahwa, kedisplinan anda untuk menerapkan rumus baku kostum ini berpengaruh pada laku tidaknya sinetron anda. Untuk sinetron remaja ada rumus lain yang wajib juga dilaksanakan :

1. Pelajar putri HARUS SELALU MENGGUNAKAN ROK MINI
2. Pelajar putri HARUS SELALU MENCAT WARNA WARNI RAMBUTNYA
3. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MENGELUARKAN BAJUNYA (TIDAK BOLEH DIMASUKAN)
4. Pelajar putri HARUS SELALU MENGGUNAKAN PAKAIAN SERAGAM YANG AGAK TRANSPARAN
5. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MEMAKAI DASI MENGGANTUNG DI DADA
6. Pelajar (putra-putri) HARUS SELALU MEMAKAI HANDPHONE BARU YANG MAHAL
7. Pelajar putra HARUS SELALU GONDRONG ATAU SPIKE
8. Pelajar putra (jagoan) HARUS SELALU MEMAKAI ANTING DAN BERTATO
9. PAKAIAN SERAGAN HARUS TETAP DIPAKAI BAHKAN DI ADEGAN MALAM HARI, TIDAK ADA PENGECUALIAN
10.DALAM SINETRON REMAJA TIDAK ADA KARAKTER ORANG MISKIN.

bersambung
(nb : panduan ini hanya hasutan sesat semata....)

hidupku terancam di Trotoar...

Akhir-akhir ini jalan raya punya penguasa baru, entah kapan dipilih, entah kapan kudeta. yang pasti merekalah penguasa jalanan ibukota saat ini. Saya tidak sedang membicarakan armada kopaja atau bajaj yang legendaris itu, tapi saya sedang bicara soal satu pasukan baru penjelajah jalanan kota. Lebih cepat, lebih gesit, lebih lincah. Tak satupun, saya ulangi, tak satupun orang waras yang mau cari masalah dengan pasukan ini. Ya kawan, jika armada motor yang ada di benak saudara, maka pikiran kita sama.

Kemarin waktu berangkat rapat, aku dan taxi yang kutumpangi berjalan santai menuju suatu gedung di jalan S.Parman, kebetulan kami lewat jalur Tomang. Pada dasarnya jalanan cukup ramai, tapi lancar. Taxi yang kutumpangi bisa berjalan cukup mulus melalui jalanan sambil melewati berbagai bangunan landmark Jakarta. Obrolan dengan pak supirpun mengalir akrab. Intinya pagi itu, perjalananku cukup menyenangkan.

Tapi suasana jadi runyam ketika tiba-tiba saja, dengan kecepatan tinggi satu armada motor melewati kami dari sisi kiri. Ya kawan, sisi kiri ! tidak tanggung-tanggung, bukan satu dua motor, bukan satu dua, tapi satu armada ! saya bisa bilang satu “armada” karena jumlahnya mungkin sekitar belasan. Saya tidak bisa menghitung dengan tepat jumlahnya. Yang pasti suasana makin runyam, ketika entah sejak kapan, tanpa disadari, sirkuit sentul sudah pindah ke hadapan kami. Puluhan motor berbagai tipe menyeruak tiba-tiba seolah “menginvasi” setiap sudut jalanan dan mulai beratraksi dengan saling salip satu sama lain. Spion kiri, kaca tengah kini sama krusialnya dengan spion kanan, karena hanya Tuhan dan para “road runners” itu saja yang tahu sisi mana yang akan dipakai untuk menyalip kami. Belum lepas pikiranku soal adu salip antara motor dengan taxi, aku dihadapkan pada kenyataan miris bahwa bangsaku memang memiliki mental pemberani, namun kadang salah tempat. Di depanku, aku melihat dengan jelas beberapa motor dengan tenang penuh syahdu hendak menyalip bus kopaja yang juga sedang hendak menyalip ke depan. Ya kawan ! balapan di mulai !

Harusnya orang Indonesia ada yang masuk GP500. bukan sekedar masuk tapi juara ! harus juara, berturut-turut ! Karena bus kopaja yang semenjak jaman Bang Ben dan Kang Ibing sudah merajai jalanan kota akhirnya harus “lengser turun tahta” dan mempersilahkan teknologi roda dua dengan mesin sistem TAK untuk menjadi pangeran jalanan. Bus kopaja tadi menyerah. Tak sanggup disalip berturut-turut oleh pasukan motor yang nekad minta ampun. Bagaimana tidak nekad? Banyak pengendara yang membawa keluarga. Satu motor bisa dinaiki oleh tiga sampai empat orang (ayah ibu dan dua anak). Parahnya seringkali para anak-anak tidak memakai helm. Tak sanggup ku bayangkan wajah-wajah tak berdosa itu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun memang karakter penguasa dimana-mana cenderung sama. Tak puas menguasai jalanan, kini mereka punya program baru : invasi trotoar, halte, halaman dan jembatan. Jika anda berjalan kaki sepanjang jalur medan merdeka timur ke arah tugu tani, maka anda akan berbagi trotoar dengan para motor. Ya sobat, entah kapan aturan lalu lintas berubah, tapi yang pasti inilah yang kuhadapi selama setahun ini. Kala pulang sore hari sambil berjalan kaki, seringkali motor tanpa merasa perlu membunyikan klason muncul dari belakangku dan dengan tenang menyalip kedepan. Kalau itu belum cukup, motor – motor itu melahap lajur trotoar dengan kecepatan tinggi. Kadang aku berfikir untuk mulai berjalan kaki di tengah jalan saja.

Lanjut ke kisahku yang tadi. Kami baru saja menikmati ketenangan karena armada motor tadi sudah berlalu. Obrolan tidak beranjak jauh dari hilangnya empati dan toleransi di jalan. Akupun bisa kembali menikmati bangunan-bangunan di Jakarta. Tapi mungkin pagi itu aku harus kembali terhenyak. Miris…., sepeda motor kini parkir di halte tunggu busway. Entah siapa yang menaruhnya disitu. Yang pasti mataku merekam pemandangan motor yang berjajar di atas halte busway. Rupanya aku memang kurang gaul, karena setelah momen menyedihkan itu, kini terhampar pemandangan dimana trotoar sudah berubah menjadi parkiran tidak resmi. Gawat.

Aku tidak lagi mencari pak polisi, tak sedikitpun hasrat sumpah serapah ingin kutumpahkan pada rekan sesama abdi negara itu. Seingatku dulu waktu jaman sekolah dasar, kami diajarkan bagaimana tata krama di jalanan. Setidaknya bagaimana saling bertoleransi di jalanan. Waktu itu sekolahku jauh dari kota dan yang sekolah disanapun bukan anak kota. Entah kenapa sekarang kita makin egois, tapi lamunanku beranjak jauh lagi dimana memang ibukota betul-betul menguji moral kita sebagai manusia. Lamunanku semakin jauh kepada adagium ribuan tahun lalu : “homo homini lupus”. Arti adagium ini sangat mengerikan : “manusia adalah serigala untuk manusia yang lain”. Di kota yang penuh tekanan ini, kita memang terkadang lupa bahwa kebutuhan kita bukan sekedar fisik semata, tapi juga jiwa. Saling empati akan membawa ketenangan dalam hidup. Dengan empati, kita akan terdorong untuk saling tolong-menolong. Moga-moga momen ramadhan ini bisa membukakan hati kita semua, moga-moga jiwa kita tidak di korupsi oleh “kekejaman” kota yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Amin. Dan sekarang aku kembali bekerja sambil mendengarkan lagu “every hurts” dari R.E.M

PANDUAN MEMBUAT SINETRON (BAG 1)

Firman’s guide to make Indonesian Sinetron

Berikut ini adalah panduan lebay dan singkat produksi sinetron Indonesia. Panduan ini disusun berdasarkan belasan tahun pengalaman tersiksa menonton sinetron. Kualitas akting yang buruk dan cerita yang mengada-ada merupakan paduan tepat yang telah terbukti mampu menyihir sinetron yang diduga hasil jiplakan menjadi tontonan favorit keluarga.

Panduan ini ditujukan untuk semua kalangan, baik yang sudah terjun di dunia hiburan, maupun yang amatir. Untuk Anda para pemula, tidak perlu khawatir atau tidak percaya diri. Sama sekali tidak dibutuhkan keahlian atau pendidikan khusus di bidang cinematografi atau perfilman. Selain itu, kreatifitas dan pencarian ide-ide segar menjadi tidak relevan dan bisa diabaikan. Panduan ini akan menunjukan pada anda bahwa siapapun bisa membuat sinetron. Tanpa harus sekolah atau pendidikan, anda langsung bisa duduk di kursi sutradara. Syukur-syukur dengan sedikit modal, anda bisa memulai membuat Production House (PH) sendiri.

Karena sinetron adalah bagian dari industri hiburan, maka esensi paling penting adalah bisa menghibur penonton. Sekalipun isinya penuh kebohongan, pembodohan, dan ketololan. Semua itu bisa dikesampingan demi tegaknya rating dan kukuhnya pemasukan dari iklan. Logika cerita dan teknik perfilman tidak perlu anda fikirkan. Karena hanya dua hal ini yang menjadi tolok ukur utama untuk menilai apakah sinetron anda masuk katagori (1) ancur, (2) sangat ancur dan (3) ancur banget. Berikut ini matriks penilaian kualitas sinetron :

(1) ancur : rating rendah dan iklan rendah
(2) sangat ancur : rating sedang dan iklan sedang
(3) ancur banget : rating tinggi dan iklan tinggi

Memang masih ada level ke empat yaitu “ancur seancur ancurnya”, namun ini sangat jarang dan hanya bisa dicapai oleh sinetron legendaris berjudul “tersandung”. Prestasi sinetron “tersandung“ sampai saat ini tidak tertandingi, mencapai 356 episode dan diputar selama tujuh tahun berturut-turut. Mohon maaf saudara, hanya para jenius dan maestro saja yang bisa menciptakan sinetron dengan level seperti ini.

Secara singkat, panduan ini akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas elemen-elemen penting untuk memproduksi sinetron dari sisi teknis, yaitu seting lokasi, pemeran, peralatan dan lainnya. Bagian kedua akan dikhususkan untuk membahas aspek cerita dan tips dan trik bagaimana membuat alur cerita yang berkualitas.


Bagian Pertama :

A. Setting lokasi
Apapun cerita sinetron anda, anda harus memfokuskan 98% lokasi syuting anda di kawasan perumahan mewah. Kalaupun memang tokoh utamanya adalah seorang miskin, maka usahakan ceritanya sedemikian rupa sehingga si miskin akan bisa tinggal di rumah mewah. Akan sangat baik jika tipe rumah lokasi syuting anda adalah tipe tipe eropa, atau yang menunjukan bahwa itu rumah orang super kaya. Rumah ini setidaknya harus seharga 1 milyar ke atas. Sangat dilarang jika lokasi syuting anda dekat dengan perumahan rakyat jelata atau kumuh. 200 km adalah jarak minimal antara lokasi syuting anda dengan rumah orang miskin terdekat. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah aura kemiskinan masuk ke dalam sinetron anda. Harap dicatat, penonton tidak suka sinetron yang didalamnya dimunculkan istilah-istilah semacam “sederhana”, “bersahaja”, “miskin”, “melarat” dan sebagainya

B. Fasilitas lainnya
Selain rumah super mewah, anda harus bisa menampilkan barang-barang mewah di dalam sinetron anda. Jika sinetron anda ingin laku, jangan sekali-kali menampilkan mobil yang harganya dibawah 500 juta. Begitu juga dengan perhiasan dan gadget yang dipakai para pemeran, harus selalu barang termahal dipasaran. Ingat, berdasarkan pengalaman, hal seperti inilah yang selalu ada di sinetron-sinetron dengan rating tinggi.

bersambung....
(nb : note ini hanya panduan sesat belaka)

Apa itu cantik? siapa ya yang cantik?

sambil dengerin lagu "suara" dari hijau daun. harus aku akui, lagu ini enak untuk dibawa nulis (inspiring kitu lah). Aku melihat-lihat profil teman2ku dan teman2 mereka di FB. sekian menit kulihat banyak foto-foto disana. satu hal yang muncul di otakku. sekarang semua orang seolah berlomba untuk memunculkan dirinya sendiri. lihat saja, account FB mana yang sama? tiap account pastilah memiliki ciri sendiri. makin berwarna-warni ketika masuk ke FB para wanita. Minimal foto depannya tampil semodis mungkin atau semenarik mungkin. Masih kurang? tengok tagline atau shoutoutnya, pastilah ungkapan yang dibuat se"cewek" mungkin. minimal bercerita hidupnya hari itu.

Jadilah, ssetiap account FB menjadi ungkapan hati setiap pemiliknya. mau tahu yang diinginakn atau dirasakan seseorang? lihat account FBnya. mungkin kesimpulan tadi terlalu menggeneralisir. tapi minimal sekarang sudah berbalik dari jaman dulu. dahulu kala kita akan menyiram seseorang dengan kuah baso panas jika ada yang berani membuka buku harian kita. sekarang semua buku harian dibuka dengan sendirinya (harusnya aku membuka buku diary temanku sekarang... bukan dulu pas SMA).

Pertanyaan kedua yang muncul. setiap wanita ingin sekali menjadi cantik, minimal untuk dirinya sendiri. kecenderungan ini telah muncul sejak manusia ada. tak ada yang salah dengan itu. malah menurutku bagus. disaat para laki-laki muncul dengan stereotip yang kurang elok (diluar pria metroseksual). minimal ada para kaum wanita yang membuat dunia ini indah.

namun satu hal yang membuatku bertanya-tanya? apa itu cantik, mengapa teman-teman ku yang wanita sering menyiksa diri sendiri hanya untuk menjadi cantik? sering kuperhatikan mereka menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk sesuatu yang justru membuatku berkata dalam hati "kau aslinya sudah cantik, ga usah berlebihan lah..."

jujur, aku ini pria yang tidak terlalu pusing dengan kecantikan. yang penting manis dan itu sudah cukup. sekarang apa itu manis untuk seorang Firman? akupun tak tahu? he he

dalam hatiku, aku meyakini bahwa setiap orang dilahirkan dengan kecantikan dan "kegantengan" (maksa nihh) masing-masing. setiap orang itu unik dan tak berhak dinilai dengan keunikan orang lain. Itulah mengapa aku selalu meyakini bahwa tak satupun orang bisa menyamai diriku (narsisssss abisss he he). dan secara jujur pula aku katakan bahwa aku bisa melihat sisi cantik dari setiap wanita. terutama ketika dia sedang berinteraksi dengan orang yang disayangi. oleh karena itu pacar orang selalu terlihat cantik.

mau tahu pendapatku tentang saat-saat tercantik seorang wanita? bukan saat dia memakai pakaian atau make up yang terbaik,sama sekali tidak.

justru aku sangat senang melihat seorang wanita sedang mengendong atau memeluk bayinya. itulah saat seorang wanita terlihat sangat cantik. seorang dewi yang turun dari langit. bidadari yang rela turun ke dunia yang kering dan kejam ini untuk menyemaikan kasih sayang dan cinta pada seorang manusia lemah tidak berdaya. lihatlah adegan itu dan kau akan melihat surga. oleh karena itu sebagai penutup aku ingin katakan bahwa surga memang ada di telapak ibu..

i love you mom

Cerita Mobil Putihku

Pagi ini, aku berdiri (lagi) dipinggir jalan ini. Aku menunggu sebuah mobil putih. Penampilannya biasa saja, terkadang sedikit kotor. Jika dijual harganya tidak akan semahal citycar yang sekarang sedang digandrungi banyak anak muda. Tapi ada sesuatu yang membuat mobil ini ditunggu banyak orang. Jangan ragukan betapa ditunggunya kehadiran mobil ini.

Lihat saja dari ujung kabut di Cianjur sampai ramainya perbatasan Tol Ciawi. Di sepanjang jalur sejauh puluhan kilometer ini, berjajar ratusan manusia berbaris hampir rapi, menunggu penuh harap.

Tidak ada yang meragukan kredibilitas angkutan ini, jarak cianjur ke bogor bisa ditempuh dengan waktu hanya 1 jam lebih. Perkara lebihnya berapa hanya Tuhan yang tahu. Maklum terkadang ada-ada saja yang terjadi di jalan. Belum lagi jika muatan penumpang sudah penuh dari awal terminal. Maka waktu 1 jam tadi bisa “diringkas demi kenyamanan penumpang”. Jalan menjadi seolah milik sendiri.

Sebenarnya karakter ini tidak berlaku untuk semua pengemudi angkutan umum, biasanya supir2 muda yang baru kemarin sore pegang sim, atau mereka yang nafasnya bau alkohol. Akan terlihat jelas mana yang sudah senior dan mana yang masih belum bisa bedakan mana sirkuit sentul dan jalan raya.

Tapi begitulah anehnya orang indonesia, membenci tapi sekaligus merindu. Caci maki keluar tiada tara ketika ada mobil angkutan yang mengebut di jalan, belum lagi bumbu sumpah serapah dan khutbah berkepanjangan soal disiplin nasional. Tapi terkadang caci maki keluar juga ketika angkutan yang ditumpangi dinilai “lamban” dan “kurang tangkas” saat berkendara.

Kupikir-pikir, Harusnya bangsa ini punya banyak pembalap tangguh, minimal bisa unjuk gigi di lintasan monaco sana. Sebagai contoh, siapa yang meragukan kelihaian supir bajaj? Dengan mesin versi serba tambal sulam (dimana aku curiga onderdil penggantinya mencakup peralatan dapur dan mesin foto kopi), dia bisa meliuk-liuk di jalanan Jakarta.

Gagahnya bajaj ini semakin mentereng ketika semua orang mahfum bahwa Hanya Allah dan sang supir saja yang tahu kapan pedal rem akan diinjak. Belum lagi kalau kita bicara soal angkutan lain. Diluar sana, siang dan malam, ada begitu banyak pembalap potensial yang mengasah kemampuannya sambil mencari nafkah. Sehingga aku yakin harusnya Bapak Menpora bisa mengoptimalkan anggaran pembinaan untuk soal balap membalap. Tinggal buka audisi untuk jadi pembalap, adakan kerja sama dengan stasiun TV, aku yakin juara dunia sebentar lagi ada tangan putra-putri Indonesia.

Kembali ke soal angkutan tadi. Sebenarnya mobil ini punya nama asli yang kurang enak diucapkan : LX-300. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya produsen mobil ini memberi nama yang kurang elok macam LX-300. Demikianlah, ternyata aku tidak sendiri, seantero penghuni tatar pasundan region cianjur-bogor, bersepakat mengganti nama yang tampaknya tidak pernah “diselamati” ini dengan nama baru yang lebih gagah.

Akhirnya, tanpa sidang yang berlarut-larut, tanpa penolakan, tanpa istilah deadlock, tanpa ada aksi walk out, dengan konsensus tanpa biaya, kami rakyat cianjur-bogor sepakat memberi nama yang seindah melodi pagi, semerdu embun, sejernih awan, dan segagah langit ! :

Nama barunya adalah : Kol Mini.

Jika naik dari cisarua, cukup bayar Rp. 5000 (catatan : harga tahun 2008 dan jika tidak ada fluktuasi harga BBM) anda akan diantarkan sampai di depan terminal Baranang Siang. Saran saya bayarlah dengan uang pas. Bukan karena uang kembalian akan dipotong, tapi untuk meringankan beban sopir dan kernet jika ada penumpang yang membayar dengan uang “berwarna biru dan merah”.

Harap diingat, no pain no gain. Ada kompensasi yang harus dibayar untuk semua keunggulan ini. Terima kasih kepada sistem transportasi yang tumpang tindih, dibalik jumlah penduduk indonesia yang semakin banyak, operator transportasi justru mengeluh soal menurunnya omset bisnis mereka.

Seiring meningkatnya jumlah kendaraan di jalan, baik pribadi maupun umum, jumlah penumpang yang di dapat per trip (para supir menyebutnya per rit) menjadi semakin sedikit. Sehingga para supir dituntut untuk “kreatif” dalam rangka memenuhi target uang setoran dan uang yang akan dibawa pulang ke rumah.

Disinilah hukum “optimalisasi ruang dan waktu” sangat penting untuk diterapkan. Optimalisasi ruang berarti memuat sebanyak mungkin penumpang setiap trip. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jam-jam sepi di jalan. Kaidah filsafat optimalisasi ruang ini sangatlah pas untuk menjelaskan fenomena berjubelnya penumpang angkutan umum (bis, metromini, dan untuk kasus kita, termasuk kol mini) pada jam kantor di perkotaan.

Jika assesment dari kernet menyimpulkan bahwa masih ada “ruang kosong” untuk tambahan penumpang, maka meskipun kondisi penumpang sudah layak masuk katagori penyiksaan jaman nippon, maka mau tidak mau, penumpang harus merelakan ruang untuk penumpang lain masuk. Saran saya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, masukan barang berharga kedalam tas, dan siapkan tabung oksigen mini.

Kaidah optimalisasi waktu hanya berarti dua hal, mengemudi secepat mungkin agar penumpang tidak keburu diambil angkutan lain dan secepat mungkin sampai ke tujuan agar semakin banyak trip yang bisa di tempuh dalam satu hari. Kalau tidak salah, para ahli bahasa indonesia sudah bersepakat untuk menamai perilaku ini dengan istilah “ugal-ugalan”.

Demikianlah saudara-saudara, “kisah kasih benci tapi rindu” yang harus dihadapi semua orang setiap hari. Aku yakin dalam dalam hati, tak seorangpun baik para sopir atau penumpang yang ingin ini terjadi. Siapa yang mau terjebak stress setiap hari? Alih-alih sampai ke tempat kerja dengan semangat penuh produktifitas, mungkin yang muncul adalah gairah praktik tinju ala mike tyson.

Harusnya ada penelitian terkait efek kemacetan dan ugal-ugalan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, katakanlah “hubungan kemacetan di jalan dengan tingkat perceraian keluarga” atau “studi tingkat kekerasan dengan semrawutnya lalu lintas”, bisa juga “Berapa Milyar rupiah yang hilang di jalan raya?”. Selain sosial ekonomi, kemacetan juga bisa dijadikan bahan kajian dalam ilmu-ilmu kejiwaan, sebagai contoh “tingkat stress masyarakat akibat kemacetan dalam konteks kenaikan angka pembunuhan dan bunuh diri”, mungkin juga “studi penurunan toleransi masyarakat sebagai implikasi fenomena bertransportasi”.

Saya yakin, penelitian-penelitian ini sangatlah penting untuk segera dilakukan. Maka sudah seharusnya pula pihak pemda, pemkot atau pemprov mulai mengkaji ulang sistem transportasi yang ada sekarang. Sampai saat itu tiba saya akan tetap naik kol mini.

Jalayalah kol miniku !



Nb1: terima kasih setulusnya untuk para supir dan kernet angkutan bogor-cianjur. Semoga Allah memberkati dan melindungi kita semua.

Nb2: untuk pemda kab.Bogor, jam di persimpangan masuk tol gadog (dekat pos polisi) mati semenjak setahun yang lalu

Jumat, 08 Oktober 2010

Jambi oh Jambi....

Aku beruntung diberi kesempatan untuk pergi ke kota Jambi. kunjungan kali ini adalah untuk melaksanakan temu UMKM, KKMB dan Perbankan. KKMB adalah singkatan dari Konsultan Keuangan Mitra Bank. Untuk anda yang bingung apa maksud KKMB ini, bayangkan saja safir senduk atau aidil akbar, mirip-mirip seperti merekalah kerjaannya. bedanya, jika dua nama tadi urusannya dengan bisnis menengah ke atas. nah KKMB ini kliennya UMKM.

Program KKMB ini sendiri sejarahnya sudah cukup lama.tapi mungkin aku ceritakan nanti sajah yaa, karena aku sekarang ingin bercerita tentang Kota Jambi. Kota ini merupakan ibukota dari provinsi Jambi (mirip2 prov gorontalo yang nama ibukotanya gorontalo juga). seperti semua daerah di nusantara, Kota ini memiliki sebuah motto yaitu "Jambi Beradat". menurut situsnya (http://www.kotajambi.go.id) Jambi beradat ini artinya bersih, aman dan tertib.

soal urusan bersih, boleh dibilang kota jambi termasuk bersih. Minimal disepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel, tidak terlihat "pemanis pemandangan" berupa tumpukan sampah di tepi-tepi jalan. Pendapatku ini harus dicek ulang karena aku tidak sempat keliling seluruh kota untuk melihat suasana kebersihannya(secara aku bukan dinas kebersihan dan bukan juga panitia lomba adipura)

setelah semua tugas dan pekerjaan selesai, aku sebenarnya berniat untuk melihat-lihat suasana kota. Rencananya cukup sederhana : (1) cari ojek, (2) sewa ojek untuk mengantar keliling kota (3) keliling kota (4) belanja kalau memang ada yang unik (5) pulang. Biasanya rencana ini selalu berhasil, nanti aku akan ceritakan pengalamanku jalan-jalan di kota-kota lain dengan metode diatas. Selepas maghrib, berangkatlah aku ke luar hotel.

setelah tanya ini itu ke petugas hotel, aku memutuskan dua hal : (1) belanja pempek khas kota jambi, (2) nongkrong di dekat mall Angso duo yang menurut petugas hotel adalah pusat keramaian kota. walaupun sudah ditawari untuk dicarikan taksi tapi tetap saja aku memilih untuk mencari ojek. Sebenarnya aku mancari becak motor yang umum di daerah sumatera, bagiku ada kesan tersendiri setiap naik moda transportasi yang satu ini.

terkadang terlalu percaya diri memang menyesatkan, begitulah jadinya diriku ini. mati gaya di pinggir jalan, sendirian tak tentu arah. ojek yang dicari tiada, angkutan umum entah kemana, jangan tanya taxi, karena sampai kakiku lemas berdiri, tak satupun lewat. terselip dalam benakku bahwa bisa jadi di jambi ini taxi dan harimau sudah masuk spesies yang terancam kepunahan

setelah dipikir-pikir, ternyata lokasi aku menginap memang dipinggir kota, walapun itungannya dekat dengan pusat kota. jadinya yaa agak sepi. dan menurutku agak seram karena lumayan gelap dan sepi.

karena keburu lapar ya sudah makan dulu, dan seperti seharusnya ketika jalan-jalan kemanapun, kita sebaiknya makan makanan khas daerah tersebut. dan jadilah aku makan pecel ayam... hehehe (sumpah disepanjang jalan ga ada warung jambi, yang ada warung padang)

alhamdulillah selepas makan ketemu juga dengan ojek yang dengan baik hati mau mengantar saya membeli pempek. sebagai informasi, ada beberapa merk pempek yang terkenal dijambi antara lain merk Selamet, Ahiong, dan Selerakoe. banyak orang bilang kalau pempek di jambi ini lebih enak daripada yang ada di palembang. tapi saya bau bawang putihnya terlalu kuat, sehingga agak merusak mood. secara umum rasa pempeknya sendiri dan cuka cukup enak.

sayang saya tidak bisa terlalu banyak berjalan-jalan di Jambi ini, berhubung memang ke sini bukan untuk jalan-jalan. oleh karena itu untuk juragan-juragan yang mau melihat objek-objek menarik di jambi silahkan main ke sini, kaskuser Saratoga yang kampungnya asli di Jambi sudah dengan baik hati membagikan keindahan dan objek objek di jambi

okeh sekian catatan amatiran inih, sampai ketemu di catatan lain

Kamis, 07 Oktober 2010

Ramadhan tanpa wanita

catatan : sebenarnya ramadan sudah usai, tapi bulan itu terlalu sayang jika dianggap selesai... aku menulis ini pada hari hari terakhir ramadan dan menurut ku menjadi salah satu renungan yang  bagus untuk kita semua.. khusus mereka yang mengaku laki-laki. silahkan gan lanjutkan :

Demikianlah saudara, malam tadi selepas pukul 10 aku browsing di internet untuk mencari data untuk penunjang tulisanku. Ceritanya sih mau nulis opini soal mengapa negara kita tercinta akhir-akhir ini selalu menjadi bulan-bulanan negara lain. Entah singapura, malaysia, thailand, Philippina, brunei, Amerika, Australia, China (loh koq jadi semuanya ya?).

Sedihnya, kebanyakan kita hanya bisa ngurut dada (yang sebetulnya sudah berkerut karena kebanyakan diurut). Berhubung bukan presiden, tidak bisa membuat kebijakan. Karena juga bukan anggota dewan, maka tidak bisa menekan presiden untuk membuat kebijakan. Makanya aku hanya bisa menulis opini dengan harapan akan memberikan pencerahan buat teman-teman sesama orang Indonesia.

Karena tidak punya sambungan internet di kost, mainlah aku ke warnet terdekat. Lumayan, selain bisa dapat data, juga bisa baca opini teman-teman lain. Data di tangan, ide tulisan di kepala. Pukul satu malam melangkahlah diriku kembali ke kost. Kalau sudah begini, biasanya lebih enak langsung menulis, karena kepala masih panas dengan ide-ide. Tapi berhubung waktu sahur sebentar lagi, aku putuskan untuk istirahat sebentar.

Sesaat sebelum membuka pintu gerbang, samar-samar terdengar bunyi-bunyi aneh. Seperti sedang ada yang memasak. Mungkin teman sebelah kamar pikirku. Seperti umumnya kost para kaum adam, ada saja penghuni yang pola hidupnya mirip-mirip batman. Aku menduga yang sedang memasak adalah temanku yang membuat mie instan. Ritualnya memasak mie instan akan dilanjutkan dengan ritual mencari siaran sepak bola. Andaikan tidak ada siaran sepak bola, dia akan menghabiskan malamnya dengan menonton sinetron remaja ditemani semangkuk mie instan dan segelas susu hangat.

Kost sudah gelap gulita saat aku masuk. Rasa penasaran membuatku tidak langsung masuk ke kamar, tapi langsung menuju dapur. Betul dugaanku, memang ada yang sedang memasak. Tapi rupa-rupanya tebakanku salah, yang sedang memasak bukan teman yang tadi kuceritakan. Aku bisa langsung menyimpulkan karena sosok itu terlihat sibuk memasak sesuatu yang jelas-jelas bukan mie instan. Setahuku temanku itu tak memiliki secuil bakat pun dalam perkara masak-memasak, persis seperti diriku.
Ketika mendekati sosok tersebut, aku baru sadar bahwa itu ibu kost yang sedang memasak menu sahur untuk kami semua. Untuk informasi, di tempatku numpang hidup ini, Ibu kost dengan sangat baik hati memasakan menu sahur untuk kami semua selama ramadhan. Kami hanya perlu membantu dengan menyediakan anggarannya saja. Kusapa sebentar sang ibu kost, setelah ngobrol sejenak aku pamit undur diri kembali ke kamar.

Terus terang aku tidak bisa langsung tidur setelah kejadian tadi. Melihat kenyataan bahwa ibu kost sudah harus bangun jam satu malam membuatku ingat pada ibuku di rumah. Tiba-tiba aku berfikir, dua puluh tahun lebih aku jadi anaknya tapi tak pernah aku tahu jam berapa Ibu membuat makanan untuk sahur kami sekeluarga. Yang aku tahu, tiba-tiba saja, makanan sudah tersedia. Tidak ada kekhawatiran soal kualitas dan keamanan makanan, karena sepenuhnya dibuat dengan cinta.

Pikiranku menjadi dipenuhi bayang-bayang apa jadinya ramadhan ini tanpa kerelaan para wanita untuk membuat menu sahur untuk orang-orang yang mereka sayangi. Entah Ibu, Istri, Kakak, Nenek atau Ibu Kost. Padahal siang harinya mereka harus tetap beraktivitas seperti biasa. Belum lagi kesibukan di sore hari untuk menyiapkan buka puasa. Ini belum ditambah tarawih yang tentu menguras energi.

Melupakan istirahat di malam hari setelah beraktivitas seharian merupakan sebuah pengorbanan yang menurutku harus dibayar imbalan setimpal. Menurut pikiran laki-lakiku, siang adalah waktu untuk bekerja dan malam adalah waktu untuk istirahat. Tapi ternyata tidak begitu untuk para wanita, selain dituntut untuk tetap bekerja di siang hari, waktu istirahatnya pun harus didiskon, semuanya demi orang lain tulus tanpa imbalan. Kalau sudah begini, malu rasanya mengklaim diri sebagai “pekerja keras”. Pantas saja surga ada di telapak kaki para wanita.

Oleh karena itu, saya selaku laki-laki menghimbau kepada semua kaum adam di dunia ini, terutama yang menjalankan ibadah puasa. Hargailah masakan apapun yang tersaji di meja kala sahur, maupun berbuka. Abaikan rasanya jika terlalu asin, manis ataupun tak karuan karena seringkali para wanita harus memasak sambil berpuasa sehingga tidak memungkinkan untuk mencicipi rasanya. Pura-pura tidak tahulah ketika ada lauk yang bentuknya tak jelas atau mungkin sedikit gosong. Karena para wanita harus membuatnya dibawah tekanan rasa lelah dan kantuk. Apapun hasilnya, katakanlah bahwa masakan yang mereka buat adalah terenak sepanjang sejarah dan semua kekurangan disana sini adalah dosa para pedagang yang menjual bahan makanan yang tak jelas kualitasnya.

Habiskanlah apapun yang tersaji di meja dan akhirilah dengan terima kasih dan senyuman. Karena seenak apapun masakan di restoran, tak akan pernah mengalahkan masakan yang dibuat dengan kasih sayang sepenuh hati. Akan lebih baik lagi jika menyempatkan diri untuk membantu memasak, dengan begitu kita akan tahu kesusahan macam apa yang harus mereka lalui.

Ramadhan adalah momen yang pas untuk mulai berbagi kebahagiaan. Karena kebahagiaan harus tetap dibagi setelahnya. Ramadhan juga adalah momen pendidikan untuk lebih menghargai apa yang telah kita miliki. Dengan demikian, menghargai dan menyenangkan setulusnya para wanita disekeliling kita bisa jadi titik awal yang baik. Aku belum memiliki seseorang yang akan memasakkan menu sahur untukku, tapi aku tahu apa yang nanti akan aku katakan padanya, mungkin seperti ini : “Cinta, masakin gurame pesmol ya?...nanti Aa bantu deeh”
hm hm hmmm =)
NB : Cintaku setulusnya untuk ibu di rumah dan terima kasihku sebesar-besarnya untuk ibu kost.